Cerpen

Apricity

Apricity

Kiara melangkahkan kaki dengan malas. Seperti tak ada lagi harapan hidup, Kiara menatap lurus ke depan dengan pandangan yang kosong. Sesekali kakinya usil menendang salju yang mulai turun sejak sore tadi. Rasa dingin yang mulai menusuk tulang itu seakan Kiara matikan hingga tubuhnya yang hanya berbalut pakaian tidur cukup tebal bergambar beruang itu tidak sama sekali merasakan dingin.

Tentu penampilan dan tindakan yang Kiara lakukan sekarang mampu mengundang perhatian banyak orang, baik yang ada di dalam bangunan maupun yang kebetulan berpas-pasan dengan Kiara. Sudah banyak tawaran mantel yang ditujukan untuk Kiara, tetapi Kiara membalasnya dengan gelengan pelan disertai senyuman tipis lalu kembali berjalan. Terlebih Kiara melangkahkan kakinya di bahu jalan bukan ditempat yang disediakan bagi pejalan kaki aka trotoar. Maka dari itu perhatian orang-orang jadi terpusatkan kala Kiara melintas di depan mereka.

Terhitung dari sore tadi, Kiara sudah menghabiskan waktunya selama empat jam hanya untuk berjalan tanpa ada tujuan. Rasa lelahnya, rasa laparnya, dan rasa bosannya seketika menghilang. Yang ada hanya rasa ingin terus berjalan walaupun Kiara tidak tahu tempat apa yang akan ditujunya. Tempat yang akan menjadi sandaran kala dirinya benar-benar sudah jenuh.

Tidak ada masalah besar di rumah tempat asal Kiara, ralat memang sebenarnya tidak ada masalah apa-apa. Hanya saja pemikirannya akhir-akhir ini lebih kritis, katanya. Jadi, Kiara memutuskan untuk mewujudkan beberapa pemikiran kritisnya mulai dari sekarang. Ini ‘lah yang membuat Kiara menjadi seperti orang yang tidak lagi mempunyai gairah dan semangat hidup. Hanya karena pemikiran sepele yang dianggapnya kritis tersebut.

Mencoba menghilang untuk mengetahui reaksi kedua orang tuanya.

Apakah akhirnya kedua orang tuanya akan menelpon lalu meminta dirinya untuk kembali pulang sambil menangis tersedu-sedu?

Atau akan menjanjikan fasilitas level atas untuk memintanya pulang?

Oh! atau jangan-jangan menawarkan pria idaman untuk dinikahkan dengan dirinya?

Sekiranya begitulah pemikiran yang Kiara anggap kritis akhir-akhir ini hingga memutuskan untuk pergi dari rumah sore tadi. Tentunya secara diam-diam juga tanpa perbekalan.

Dengan otak yang tetap berpegang pada pemikirannya, tetapi sepertinya tubuhnya terlalu lelah untuk mewujudkan semuanya untuk sementara waktu ini. Terbukti dengan langkahnya yang semakin terkesan ia seret hingga memutuskan untuk duduk di sembarang tempat dekat kotak pos yang ada di pinggir jalan. Lantas Kiara menghela napasnya pelan seraya melihat-lihat kendaraan yang melintas di depannya sedikit demi sedikit mulai memacukan kecepatannya untuk bisa sampai ke rumah mereka dengan segera. Suhu di luar memang sudah mulai mendingin sedari tadi dan sialnya Kiara baru menyadarinya sekarang.

Dengan hanya bermodalkan gesekan kedua tangannya, Kiara mencoba menghangatkan tubuhnya bergantian dengan pipinya. Kiara menyesalkan dirinya yang sedari tadi tidak sadar dengan rasa dingin di luar sampai suhu sudah terlanjur meningkat cepat sekarang. Juga menyesalkan dirinya yang nekat pergi dari rumah tanpa perbekalan yang sesuai dengan musim dingin seperti ini. Setidaknya dirinya membawa mantel tadi. Dasar bodoh.

“Terima kasih untuk kerja samanya hari ini, aku pamit pulang. Sampai jumpa, teman-teman!”

Sibuk menghangatkan tubuh sampai Kiara tak sadar bahwa beberapa pertokoan yang ada tepat di belakang tubuhnya mulai bising dengan pelanggan yang silih-berganti masuk dan keluar itu. Rasanya ingin menangis karena dingin yang begitu tajam menusuk ke dalam tubuhnya hingga tulangnya. Baju tidurnya tidak cukup tebal untuk menjaga hangat tubuhnya dan itu membuat suhu dingin di sekitar lebih mudah masuk ke tubuhnya. Bisa-bisa ia akan mati membeku dalam posisi duduk di sini.

“Bundaaa …,” rengeknya mulai menitikan air matanya. Seketika menjadi rindu suasana hangat di rumah.

Pluk!

Kiara terdiam. Merasa tersentak hingga punggungnya membuat gerakan reflek karena terkejut. Tanpa disadari pelaku yang ada di belakang Kiara sama-sama terkejut dan sama-sama terdiam. Sesaat setelahnya seperti hanya keterkejutan sejenak, Kiara langsung memegang erat mantel yang terpasangkan di tubuhnya secara tiba-tiba itu. Masa bodoh dengan orang yang memberinya mantel itu jahat atau baik, yang penting sekarang dirinya merasa lebih baik sebab mantel yang terpasang cukup membuat tubuhnya merasa hangat kembali meski tidak seluruhnya.

Tanpa aba-aba, kembali bahunya terasa seperti tersentuh. Bedanya ini lebih lembut daripada mantel tadi. Dengan sangat pelan Kiara menolehkan kepalanya ke belakang.

Oke, sekarang dirinya mulai takut.

Belum sepenuhnya menoleh, wajah pria itu tiba-tiba langsung memenuhi penglihatannya sampai Kiara berteriak histeris dengan tubuh yang hampir terjatuh ke arah jalan jika saja Kiara tidak menahan tangannya. Pria itu juga tak kalah kaget hanya saja pria itu tidak berteriak melainkan segera menjauh dari posisi Kiara.

“Ehh, aku bukan orang jahat. Jangan bereaksi berlebihan seperti itu. Aku hanya ingin membantumu.”

Penjelasan singkat nan menuntut yang dilontarkan dari mulut pria itu membuat Kiara perlahan merasa tenang setelah jantungnya terasa berdisko akibat terlalu takut jika pria itu orang jahat.

“Kau membuat semua pasang mata mengarahkan tatapan tajamnya padaku. Aku seperti orang jahat sekarang.”

Merasa tidak enak, Kiara langsung bangkit berdiri. Meski rasanya sedikit sakit karena tubuhnya yang lumayan lama menahan rasa dingin.

“Kau mengejutkanku.” Kiara berbicara dengan gigi yang menggelatuk.

Pria itu melihat Kiara yang tengah menggigil sambil merapatkan tubuhnya dengan mantel miliknya yang ia sengaja pasangkan pada tubuh Kiara tadi. Jangan lupakan dengan warna biru yang mulai muncul pada bibir mungil Kiara yang menandakan gadis di depannya ini benar-benar merasa kedinginan sekarang.

Sekilas pria itu melihat ke arah jalan lepas yang sebagian mulai dipenuhi salju-salju. Kemudian pria itu tersenyum kecil tanpa ada yang menyadari.

Berdeham pelan. Lalu tanpa ragu pria itu mengulurkan tangannya pada Kiara yang sibuk menutupi tubuhnya dengan mantel guna mencari kehangatan lebih. Sadar akan atensi sebuah uluran tangan di depannya, Kiara menatap bingung.

“Pulang bersamaku. Tubuhmu sudah mulai membiru. Aku akan meminjam baju hangatku. Untuk sementara kau bisa memakai mantel itu sampai kau tiba di rumahku. Setidaknya dengan mantel itu kau jadi tidak merasa sedingin tadi, ‘kan?”

About author

Related posts
Cerpen

Gagal Cinta Di Masa SMA

Cerpen

Hai, Eca!

Cerpen

BERMANFAAT ?

Cerpen

Seorang Anak yang Dididik oleh Uang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *