Cerpen

BERMANFAAT ?

Bermanfaat

Deras rinai hujan tertelan keramaian yang terjadi dalam SMP Citra Negara. Bingung bukan kepalang ketika Kepala sekolah memutuskan untuk menyerahkan tanggung jawab Acara sepenuhnya pada angkatan bawah dan mencabut kepengurusan angkatan terakhir yang hendak diwisuda.

Alasannya agar para calon wisudawan-wisudawati mendapat kenangan terindah dari sekolah sebelum mereka benar-benar pergi. Tak masalah pasalnya namun semua yang sudah dibuat jadi harus kembali dipersiapkan pada langkah 45% sedang waktu hanya tersisa dua Minggu.

Terlanjur dan perintah tersebut tidak bisa di bantah. Usai pengumuman semua langsung menunjuk Kelas 8A untuk memulai rapat, sebab menurut mereka otak-otak yang berakal itu hanya dimiliki siswa-siswi kelas 8A.

Dengan kesepakatan bahwa semua harus bersedia untuk berpartisipasi ketika ditunjuk mengurus acara, keputusanpun dimulai. Perjuangan utama adalah percaya diri dan yakin agar semua dapat mempersiapkan tanpa ragu, lalu membuahkan hasil yang matang.

Sesampainya dirumah anak kelas 8A sebagai penanggung jawab utama tidak begitu saja melepas diri beristirahat. Sisa dalam setengah hari penuh mereka menyempurnakan konsep dan detail-detail kerangka berjalannya acara, supaya siswa-siswi lain bisa mudah menggerakkannya. Salah satu penampilan adalah drama musikalisasi puisi, Dibawah arahan Hira murid 8A.

Hira tidak begitu mengenal teman sekolahnya sendiri. Ia juga tidak mengetahui siapa yang berbakat. Jika menunggu si peminat mengajukan diri maka drama tidak lekas terbentuk, terpaksa Hira menunjuk siapapun siswa tanpa mengetahui dasar kemampuan dan kelapangan hatinya.

Tapi sedikitnya waktu tidak memberi ruang untuk Hira memikirkan itu, semua orang mengerti. Lagi pula ia telah merancang sedemikian rupa apa yang harus ia lakukan untuk melatih mereka, apa yang harus mereka jalankan, naskah, puisi, peraga, properti telah siap.

Hari-hari berjalan sangat padat, tapi… Ah, Hira hanya bisa tersenyum melihat realita yang terjadi. Otaknya begitu penat. Terkadang ia berpikir ‘Apa yang sulit! aarrghhh… come on, ambil otakku sebentar agar kalian paham!’.

Usai latihan Hira terduduk lesu. Ingin biar diirinya saja yang menjalankan serta mempergerakkan drama dari awal sampai akhir, terlalu mustahil.

Hingga hitungan jam menuju acara, dramanya tak jua terbentuk bagus. Hira menguatkan mereka agar tetap percaya diri dan yakin, sedang dibelakang Hira tak berdaya, ia menghembus nafas pasrah. Giliran kelompok mereka dengan waktu yang telah dipersiapkan di atas panggung.

Dibalik layar Hira mendengar, suara tawa, padahal konsep drama yang ia buat bukan untuk lawakan. Nekat, mendadak Hira menahan anak yang telah datang scennya utuk di pertunjukkan, lantas justru ia yang keluar dari balik layar dan memperagakannya.

Dengan mata berkaca-kaca, ekspresinya begitu serius, tawa disekitar perlahan mereda. Akhirnya penonton berhasil dihanyutkan dalam perasaan sedih nan haru. Pada beberapa scen terpaksa Hira yang berkali-kali maju. Ia hanya ingin lainnya bisa mendapat feel dari pertunjukan mereka. Tapi dari situ juga banyak yang membenci Hira yang mereka lihat seperti terlalu sok. Di luar itu Syukurnya drama berjalan apik bahkan melebihi ekspetasi.            

Yaa… Dari kejadian itu Hira semakin banyak mendapat tanggung jawab jika ada acara-acara, atau bahkan ia sendiri yang mengajukan diri.

Butuh mengasah keahlian, atau pada hal yang merupakan kekurangannya Hira berusaha keras menaklukkannya semata-mata agar dirinya tidak menjadi orang yang sia-sia. Sampai semua terasa dibebankan padanya, sendiri kerepotan, dan Hira tersadar jika ia dimanfaatkan.

Damn! Sayang ia telah melangkah jauh, biar, Hira bertekad akan menyelesaikannya dengan penutupan yang baik. Terlebih dahulu Hira sadar, tidak dengan mereka yang masih menertawakannya dan bersantai di belakang, bahwa tidak akan terulang lagi kejadian seperti itu.        

Lagi pula tahun selanjutnya giliran angkatan Hira yang di layani. Orang lain pikir Hira berubah, menjauh dari kesosialan. Padahal sebenarnya Hira memang sedang tidak ada kegiatan sosial kecuali ia yang mengusahakan sendiri untuk bisa mengikutinya.

Waktu luang ini ia rasa lebih baik untuk mengurus dirinya sendiri baik-baik,  menambal kekurangan yang terlalu banyak dalam dirinya luar dalam, itu cukup menyibukkan.

Awalnya, Hira meras sangat tenang dan nyaman dalam sebuah keadaan. Lama Hira bergelut dengan sosial sedang dasarnya ia kurang bisa mengurus orang lain, berujung ia jengkel dan oleng dengan terus memberi banyak komentar. Menuntut segala hal perfect sesuai ekspetasinya, lantas berambisi ingin melakukan semua sendiri. Sekedar menerangi orang lain, namun membakar diri sendiri.  

Satu tahun di awal SMAnya masih berlanjut di yayasan Citra Bangsa. Hira sangat fokus terhadap dirinya. Butuh seribu kali berpikir untuk mengiyakan tawaran untuk mengurus sebuah hal, terkadang ia menolak. Bukan niat Hira melepas prinsip sebagai orang yang bermanfaat, tapi setelah Hira memakai tolak ukur mana yang lebih baik, dan banyak baiknya jika berjalan tanpa Hira selama mereka bisa. Walapun begitu ia masih tetap akan maju jika ada tugas yang harus diprioritaskan.

Peraturan kepala sekolahnya di SMP dulu ternyata juga berlaku di masa SMAnya. Untuk perpisahan kelas 12 angkatan bawahlah yang menyiapkan. Seperti biasabanyak yang mengajukan dia sebagai pengurus namun kali ini ia menolak secara keseluruhan.

Ayahnya akan pindah kerja dan memboyong keluarga juga keluar kota, Hira akan sibuk mengurus pindahannya ke sekolah lain. Sudah seharusnya pikiran mereka matang, diluar uzur semua harus bisa di handalkan bukan hanya beberapa orang seperti di SMP dulu.

Ekskul untuk sementara waktu ditiadakan. Usai jam sekolah ketika siswa-siswi kelas 9 dan 10 menetap di sana untuk berlatih mempersiapkan penampilan untuk acara perpisahan, Hira salah satu dari sedikit murid kelas 9-10 yang beranjak pulang terlebih dahulu.

Mendadak perasaannya bimbang, Ia ingin kembali seperti sebelumnya tapi ada satu titik kesadaran jika itu tak lain adalah sebuah ambisi semata. Berjalan sembari menendang bebatuan, meyakinkan diri sendiri jika yang ia lakukan itu tepat. Ia tidak meninggalkan kebiasaan baiknya, hanya mengontrol agar tidak berlebihan dan menjadi sesuatu yang buruk.

Tetap ada rsa mengganjal, ia tak jua yakin dengan keputusannya untuk berubah. Teringat, ia yang pernah begitu aktiv di setiap bidang, kegiatan, acara, mengusahakan semuanya sempurna, dan … Langkahnya terhenti.

Seseorang tepat menghadang di depannya, siswa angkatannya yang dua tahun terakhir ini sebagai teman sekelas, Rangga.

Sama seperti Hira ia juga memiliki jiwa sosialisasi yang tinggi namun tidak bisa terus mengkuti kegiatan karena penyakit yang ia derita, pun kali ini Rangga tidak ikut berpartisipasi untuk acara.

“Hampir lo masuk selokan. jan ngelamun kalo jalan!” Tegur Rangga.

Benar saja, kurang beberapa langkah lagi andai tak berhenti Hira akan masuk kedalam selokan.

“Lo kenapa berubah? Diluar kesibukan jadi sering banget nolak kalo ada yang ngajak ngurus acara, kegiatan. Padahal dulu lo sering banget ngajuin diri tenpa diminta”

Hira terdiam mendengar pertanyaan yang sangat to the point tersebut. Tidak heran Rangga menanyainya seperti itu karena mereka sempat menjadi partner kerja beberapa kali.

“Emang capek jadi orang yang bermanfaat,” Ucap Ranggga terdengar layaknya seseorang yang sedang mengeluh.

Hira mendengarkan, baguslah rangga membahas dirinya sendiri karena Hira sedang tidak indin di kritik atas apa yang terjadi padanya sebab ia juga sedang kebingungan.

Rangga melanjutkan ucapannya

“Butuh ngasah keahlian, atau berusaha keras buat jadi orang bermanfaat. Nyesek juga misal jatuhnya dimanfaatin. Coba gue bisa lebih fokus dan mencintai diri sendiri. Cukup memperbaiki, jaga diri baik-baik luar dalem buat ngesampingin kebiasaan mengomentar hidup dan kekurangan orang. Berubah jadi orang yang berharga. Gue bakal ngerasa lebih baik …”

“Kenapa gitu? Tapi ini lo gak mengartikan menjadi orang yang bermanaat itu salah, kan?” Elak Hira dengan nada mengintimidasi.

“Nggak gitu. Setelah aku dapet pencerahan, nih, gue sadar gak semua yang bermanfaat itu berharga. Tapi yang berharga itu pasti dibutuhin setiap orang dan gak bakal tega mau dimanfaatin. Orang berharga juga terlatih jaga diri baik-baik, siapa yang bisa manfaatin? Adanya malah kena vibrasi pingin ngejaga juga”

Dengan anggukan kecil Hira menyetujui perkataan Rangga. Sesaat mereka sama-sama terdiam sampai Rangga menepuk jidat

“Eh, sorry-sorry gue jadi curcol ke elo. Thanks tetep mau nyimak dari awal sampai akhir. Hehe … Ya udah duluan, gih” Rangga membuka jalan.

Hira pun kembali melangkah, sedikit berhati ketika melompati selokan yang memang kurang etis ditempatkannya.

Dipertengahan jalan otak Hira baru connected, kenapa ia mau mendengarkan curcol Rangga

WHY?WHY? WHY? WHY?!

Sedang kepala Hira terasa ringan, perasaannya lebih lega. Bingung, gelisah, dan sesuatu yang sangat mengganjal dalam diri Hira menghilang.

Pertemuannya dengan Rangga tadi seperti cermin yang menunjukkan jelas kekeliruan atau kebenaran, mana yang sudah seharusnya ia lakukan.

Kali ini Hira benar-benar yakin dengan perubahannya dan tujuannya adalah menjadi orang yang berharga. untuk lebih baik simple juga sebenarnya, look at yourself.

About author

Related posts
Cerpen

Gagal Cinta Di Masa SMA

Cerpen

Hai, Eca!

Cerpen

Seorang Anak yang Dididik oleh Uang

Cerpen

Karena Dia Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published.