GenK LIFE

4 Cara Pengambilan Keputusan yang Tepat

cara-pengambilan-keputusan

Setiap hari kita berhadapan dengan cara pengambilan keputusan. Mulai dari yang sepele, sampai yang punya dampak besar buat masa depan. Hal yang perlu diperhatikan, makin signifikan dampak keputusan, makin berhati-hatilah kita sebaiknya mempertimbangkannya. Biar nggak salah langkah, baca dulu tips-tips ini yuk!

Kalau kamu tahu cara mengambil keputusan yang tepat dari kesempatan-kesempatan yang ada, maka salah pilih dan penyesalan yang mengikutinya bisa kamu hindari. Nah, sebelum kita bahas cara yang tepat untuk proses pengambilan keputusan, ada beberapa hal yang wajib kamu perhatikan. Berikut di antaranya.

Rasionalitas vs Perasaan

emosi-versus-logika

Emosi vs Logika (Sumber: flywheelassociates.com)

Membuat keputusan yang tepat mengharuskan kita untuk menyeimbangkan rasionalitas dan perasaan. Agar bisa menyeimbangkannya, kita perlu tahu dulu mana yang termasuk elemen rasional dan mana yang elemen perasaan.

1. Elemen rasional

elemen-rasionalitas

Ilustrasi elemen rasional (Sumber: anggitrizkianto.medium.com)

Rasionalitas dipengaruhi data, informasi, dan pengetahuan. Data mentah terdiri dari fakta-fakta, data statistik, dan masukan-masukan dari literatur dan pengalaman orang lain. Contohnya, kamu ingin masuk jurusan Teknik Industri di universitas X, ternyata kamu menemukan statistik yang menunjukkan bahwa 30% lulusan dari kampus itu diterima bekerja di top 1% manufacturing company di Indonesia.

Sedangkan, 70% lulusan Teknik Industri di kampus yang sama rupanya punya jalan beragam setelah lulus: 25% diterima di perusahaan ritel, 25% di perusahaan startup non-jasa, 15% di startup jasa, dan 5% nggak bekerja. Informasi seperti di atas berisi data-data lebih lengkap, sehingga lebih terarah, punya arti, dan memungkinkan kamu untuk memulai pertimbangan keputusan. Paduan elemen-elemen rasional ini membantu kamu untuk menganalisis apakah secara logis, kesempatan yang ada di depanmu layak untuk dipertimbangkan menjadi keputusan.

Baca Juga :   Cara Meningkatkan Self Talk Positif untuk Hidup yang Lebih Baik

2. Elemen mental

elemen-mental

Ilustrasi elemen mental (Sumber: workingwise.nz)

Di balik pertimbangan rasional cara pengambilan keputusan, juga ada proses mental yang tengah berjalan di diri kita. Proses ini melibatkan persepsi kita pada data, informasi, dan pengetahuan yang telah kita kumpulkan. Persepsi kita ditandai dari emosi dan insting yang muncul saat menyusun dan menganalisis elemen rasional tersebut. Emosi dapat mendorong kita untuk menganalisis diri sendiri, apa yang terasa saat kita dihadapkan dengan elemen rasional. Apakah takut, cemas, enggan, muak? Atau malah senang dan bersemangat?

Contoh, ketika kamu mengetahui bahwa 15% lulusan Teknik Industri Universitas X bekerja di startup, apakah kamu jadi bersemangat? Jika ya, mungkin kamu bisa mempertimbangkan lebih lanjut keputusan pendidikan dan masa depanmu. Emosi yang muncul bisa menandai passion dan kenyamanan mentalmu dalam sebuah pilihan atau kesempatan. Insting dapat mendorong kita mengecek fakta di balik data, informasi, dan pengetahuan. Apakah ada bias atau subjektifitas si pembuat data di dalamnya?

Contoh, ketika kamu merasa ada yang janggal dengan informasi Universitas X yang begitu sempurna, kamu jadi terdorong untuk browsing di forum-forum online tentang kebenarannya. Dari situ kamu bisa menguak, apakah data itu benar adanya, atau dipercantik agar Universitas X terkesan berhasil mencetak lulusannya. Gawat banget kan kalau kamu termakan pencitraan belaka.

Baca Juga :   7 Cara Agar Tidak Mudah Baper, Kamu Wajib Tahu!

Langkah-Langkah Mengambil Keputusan

Nah, setelah mengumpulkan data, informasi, dan pengetahuan dasar dari tiap kesempatan dan pilihan yang kamu punya, kamu sudah bisa memulai cara pengambilan keputusan. Berikut langkah-langkah mengambil keputusan yang baik:

1. Mempertimbangkan Opportunity Cost

opportunity-cost

Ilustrasi mengambil keputusan (Sumber: pexels.com)

Kamu bisa memanfaatkan konsep opportunity cost untuk membandingkan beberapa opsi atau alternatif  yang ada. Misalkan kamu punya opsi 1 dan 2. Opportunity cost adalah nilai-nilai yang muncul dari opsi kedua. Sederhananya, opportunity cost adalah manfaat-manfaat yang harus kamu lepaskan kalau nggak memilih opsi yang lainnya.

Contoh, kamu sedang mempertimbangkan untuk mengambil S2 atau bekerja.  Di satu sisi, kamu senang melanjutkan kuliah S2, kamu tertarik untuk belajar lebih dalam keilmuanmu, dan yakin akan  tembus beasiswa. Di sisi lain, pekerjaan membuka kesempatan kamu untuk merasakan pengalaman kerja dan berkarya, membangun jejaring dengan sesama profesional lintas bidang, dan mendapat gaji. Ketika berada di persimpangan seperti ini, coba terapkan konsep opportunity cost untuk membantumu menjernihkan pikiran dan mengambil keputusan.

Cara pengambilan keputusan pertama, buat daftar opportunity cost jika kamu memilih melanjutkan kuliah. Misal: jadi nggak mengembangkan jejaring profesional, merelakan dua tahun lebih lama dari teman-teman seangkatan untuk memulai pengalaman bekerja, nggak merasakan pengalaman profesional di kantor, nggak belajar skill profesional di kantor, dan lain-lain.

Lalu, bandingkan dengan opportunity cost jika kamu memilih bekerja: jadi nggak menambah gelar akademik, nggak mendapat pendidikan formal di kampus, nggak mendapat pengalaman sosialisasi dengan teman dan para pengajar. Nah, dari perbandingan ini, pilih yang sekiranya lebih siap kamu relakan dan mana yang ingin kamu prioritaskan.

Baca Juga :   8 Cara Mengatasi Keraguan Terhadap Diri Sendiri

About author

Related posts
GenK LIFE

Yuk, Catat! Ini Dia Financial Planning untuk Gaji UMR

GenK LIFE

Yuk, Kenalan Sama Yang Namanya Bank Asosiatif!

GenK LIFE

Buat Kamu yang Sering Merasa Mager di Pagi Hari, Coba Tips Produktif Ini!

GenK LIFE

Kalau Udah Merasakan Hal Ini, Artinya Tubuhmu Perlu Istirahat, GenK!

Leave a Reply

Your email address will not be published.