Creativepreneur and Career

Design Thinking, Skill Mencari Solusi yang Dibutuhkan di Zaman Sekarang

design thinking

Mendesain bukan cuma soal mencari ide-ide kreatif saja. Kamu juga harus memperhatikan hubungan antara desain buatanmu dengan kebutuhan pengguna. Ini yang dinamakan proses design thinking. Yuk, bahas lebih jelas! Apa alasan terkuat saat kamu membeli ponsel? Apakah karena merek, desain, atau fungsinya?

Pada dasarnya ponsel digunakan untuk berkomunikasi dan bertukar informasi tanpa perlu dibatasi oleh ruang dan waktu. Akan tetapi kenapa kamu masih pilih-pilih merek padahal semua ponsel fungsinya sama? Jika dibahas lebih lanjut pasti akan ada banyak kemungkinan untuk menjawabnya. 

Setiap orang punya prioritas. Sama halnya ketika kamu membeli ponsel. Bisa jadi karena desainnya dan bisa jadi juga karena spesifikasinya yang sesuai standardmu. Ini membuktikan bahwa estetika perancangan desain dan fungsi yang ditawarkan kepada pengguna merupakan dua hal yang saling berkaitan satu sama lain. Proses ini dinamakan dengan design thinking.

Apa Itu Design Thinking?

design thinking 2

Ilustrasi berdiskusi untuk memecahkan masalah desain (sumber: pexels.com)

Saat merancang sebuah produk akan berbeda rasanya dengan kamu membuat sebuah karya seni. Hasil karya seni yang kamu buat bisa saja merepresentasikan apa yang sedang ada di pikiranmu dan hanya sampai di situ. Sedangkan untuk merancang produk, kamu harus tahu solusi apa yang akan kamu tawarkan kepada uses sebagai target dari produkmu. Ini bukan lagi sekadar dirimu dan karya, tapi juga akan berdampak pada pengguna.

Design thinking adalah metode pendekatan berbasis solusi untuk menyelesaikan masalah. Proses ini tidak sebentar loh. Kamu sebagai desainer harus berusaha untuk memahami pengguna dan mendefinisikan kembali sebuah masalah yang ada. Gunanya agar kamu dapat mengidentifikasi strategi dan mencari solusi alternatif seperti apa yang harus kamu buat.

Dengan menerapkan cara berpikir demikian, maka dapat mempermudah kamu saat mengamati dan mengembangkan empati dengan pengguna. Selain itu, cara berpikir yang satu ini juga sangat berguna untuk mengatasi permasalahan yang tidak jelas atau tidak diketahui solusinya alias masih mengawang-awang.

Berawal dari Proses Kreatif

design thinking 3

Ilustrasi proses kreatif (sumber: pexels.com)

Proses kreatif adalah fase yang penting dalam membuat sebuah rancangan ide. Kalau kamu belum tahu apa artinya, kamu bisa baca artikel mengenai proses kreatif yang pernah kami tulis. Terus apa hubungannya dengan berpikir desain?

Kalau proses kreatif merupakan proses untuk mencari ide, berpikir desain merupakan proses yang dilakukan untuk mengembangkan ide tersebut. Mencari tahu apakah idemu memiliki value untuk mampu memenuhi keinginan pengguna. Ini membuktikan bahwa keduanya saling berkaitan satu sama lain.

Pada proses pencarian ide saja sudah membutuhkan waktu yang panjang. Apalagi saat kamu masuk ke proses berpikir desain. Kamu akan menghadapi banyak hal yang lebih kompleks. Bahkan tidak menutup kemungkinan jika kamu akan turun langsung untuk melakukan survei pasar.

Baca Juga :   Realisasikan Idemu dengan 5 Tahap Design Thinking Berikut Ini

Elemen Penting dalam Design Thinking

design thinking 4

Ilustrasi mencari tahu kemauan user (pexels.com)

Berpikir desain pertama kali diperkenalkan oleh David Kelley dan Tim Brown yang merupakan pendiri IDEO. IDEO sendiri merupakan sebuah firma desain dan konsultan desain. Memiliki latar belakang desain produk yang berbasis inovasi.

Mereka membagi design thinking menjadi beberapa elemen. Sebagai desainer wajib banget mempelajari hal ini loh. Supaya kamu tahu harus memilih metode seperti apa untuk menyelesaikan suatu masalah. Yuk simak apa saja elemennya!

1. People Centered

People centered menjadi elemen yang paling utama, karena modelnya benar-benar sesuai dengan cara berpikir desain. Elemen ini merupakan metode pendekatan yang dilakukan dengan cara berpusat pada pengguna. Benar-benar pengguna. Maksud metode ini adalah apa pun yang kamu buat harus bisa menjawab apa yang diinginkan dan dibutuhkan oleh pengguna. Karena merekalah yang menjadi target utama kamu.

2. Highly Creative

Berikutnya adalah highly creative. Elemen ini mengajarkan kamu untuk menuangkan kreativitas sebebas-bebasnya pada proses kreatif. Tidak akan ada kata benar dan salah dalam metode ini. Keluarkan saja semua ide kreatif yang ada di benakmu. Karena pada dasarnya desain tidak menganut aturan yang kaku dan baku dalam menyelesaikan sebuah permasalahan. Bayangkan jika desain itu kaku dan terikat aturan. Ini sama saja seperti menyelesaikan soal matematika. Jawabannya akan selalu seragam. Kemudian hasil akhirnya hanya ada dua opsi, yaitu benar atau salah.

3. Hands On

Ibarat bekerja, metode hands on merupakan kerja lapangan, di mana kamu turun langsung untuk melakukan suatu pekerjaan. Pada proses desain tentu memerlukan percobaan secara langsung oleh tim desain. Jadi tidak saklek untuk membuat teori atau sekadar membuat gambar di atas kertas.

Metode ini tentu punya banyak keuntungan, salah satunya adalah mempermudah kamu untuk melihat bentuk nyata dari rancangan desain yang kamu buat. Jadi bukan sebatas mengawang-awang lagi. Kalau sudah tahu bagaimana bentuknya, maka akan ketahuan apa saja keunggulan dan kekurangan desainmu. Sehingga bisa cepat-cepat revisi deh.

4. Iterative

Terakhir adalah iterative yang merupakan proses mendesain dengan menggunakan metode pengulangan. Setiap tahap yang kamu kerjakan ketika mendesain akan dilakukan secara berulang-ulang. Tujuan metode ini agar kamu dapat melakukan improvisasi. Kemudian pada akhirnya nanti, kamu dapat menghasilkan desain produk yang baik, bahkan di atas standard jika memungkinkan.

Baca Juga :   Ikuti 5 Tahap Proses Kreatif untuk Ide yang Lebih Imajinatif

Berpikir Desain Secara Non-Linear

design thinking 8

Pola non-linear (sumber: interaction-design.org)

Dari kelima tahap design thinking, sebenarnya bisa kamu ubah urutannya loh. Tidak selamanya saklek berurutan seperti itu. Karena pada dasarnya proses ini dilakukan dengan cara yang fleksibel alias non-linear. Jika kreativitas mandek di tahap ideate, kamu bisa balik lagi ke tahap empathise. Kemudian jika kamu mentok di tahap test, kamu bisa balik lagi ke tahap ideate. Begitu pula pada tahap yang lainnya. Tidak ada aturan yang pasti soal urutan design thinking. Jadi tidak masalah. Bagaimanapun cara yang kamu pilih, yang terpenting kamu nyaman dan akhirnya dapat memecahkan masalah.

Design Thinking, Soft Skill Wajib untuk Generasi Milenial

Membuat sesuatu (sumber: pexels.com)

Saat kamu melamar kerja ada dua hal yang menjadi pertimbangan, yaitu hard skill dan soft skill. Keduanya wajib banget kamu miliki. Salah satu soft skill yang menjadi incaran para perekrut masa kini adalah calon pelamar yang memiliki design thinking.

Setiap hari kamu dituntut untuk terus mengeluarkan ide-ide baru. Jika kamu tidak mampu memecahkan masalah bakalan repot banget deh. Untuk dapat menghasilkan sebuah ide kreatif, pola pikir kamu juga harus kreatif. Supaya kamu dapat menyelesaikan setiap tantangan dengan cara yang kreatif dan inovatif. Hayo.. kalau kamu sudah bisa berpikir dengan pola demikian belum?

Sekarang kamu jadi tahu kan apa itu design thinking dan apa saja tahapannya. Intinya kamu mesti tahu apa kemauan dan kebutuhan pasar. Dengan begitu akan lebih mudah saat kamu merealisasikan sebuah desain produk.

About author

Related posts
Creativepreneur and Career

Cara Cerdas Buat Menjawab "Kenapa Kamu Ingin Pekerjaan Ini" Saat Interview

Creativepreneur and Career

Kulik-Kulik tentang Crowdfunding: Pengertian, Kelebihan dan Kiat Menjalankannya

Creativepreneur and Career

Kenali Pengertian dan Syarat untuk Membangun Startup Unicorn di Indonesia

Creativepreneur and Career

Cara Mudah Membuat Curriculum Vitae untuk Freelancer Agar Lebih Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published.