Arsitektur & Interior

Di Ruang Tamu Bisa Terjadi Fenomena Heterotopia?

Hello GenK!! Kalian semua pasti penasaran ya atau mungkin bingung? kenapa pada ruang tamu di rumah tinggal khususnya rumah masyarakat Tionghoa bisa terjadi fenomena heterotopia???  Sebelum kita mengulik dan membahas lebih dalam lagi tentang hal itu, diantara kalian pasti ada yang belum pernah atau mungkin samar-samar mendengar kata “heterotopia”. Jadi sebenarnya istilah heterotopia ini diperkenalkan pertama kali oleh seorang filsuf dari Perancis yang bernama Michel Foucault.

Sumber Gambar : writingcooperative.com

Ia menjelaskan bahwa fenomena heterotopia adalah peristiwa dimana suatu ruang tidak nyata hadir dalam ruang yang nyata. Jadi bisa dibilang ruangan tersebut muncul namun hanya bersifat relatif atau sementara saja pada kurun waktu tertentu.

Nah, agar kalian semua lebih paham lagi, coba kita ilustrasikan fenomena ini pada ruang tamu di hunian masyarakat Tionghoa.

Eitssss tapi tunggu dulu!!

Pasti kalian bertanya-tanya lagi, kenapa harus ruang tamu di hunian masyarakat Tionghoa yang dijadikan contoh padahal ada banyak ruangan yang lainnya!

Ruang Tamu Masyarakat Tionghoa

Sumber: vietnamarch.com.vn

Ternyata begini penjelasannya GenK. Bagi yang belum tau sebenarnya pada beberapa tempat tinggal masyarakat Tionghoa khususnya pada bagian ruang tamu (area depan) seringkali dijumpai suatu area yang ditandai oleh keberadaan meja altar.

Meskipun tidak semua rumah memiliki meja altar tersebut. Penanda itulah yang menjadi salah satu faktor dan menyebabkan terjadinya fenomena heterotopia tersebut.

Disisi lain secara umum yang kalian ketahui bahwa fungsi utama dari ruang tamu hanya sebagai tempat menerima maupun menjamu para tamu ataupun tempat untuk berkumpulnya para keluarga, baik itu dari keluarga inti dan juga para kerabat.

Berdasarkan fungsi ruang tamu secara garis besar itulah sehingga ruang tamu disebut sebagai ruang yang sifatnya profan atau umum seperti pada gambar dibawah ini.

Sumber Gamabr : xframe.io

Terlihat pada gambar diatas bahwa semua orang dapat memasuki maupun melakukan segala aktivitasnya di ruang tamu tersebut (publik) tanpa ada larangan atau batasan apapun didalamnya. Contoh aktivitas yang dimaksud tersebut bisa berupa berbincang dan bermain bersama teman ataupun keluarga.

Meskipun demikian ternyata pada ruangan ini juga bisa berubah fungsinya menjadi ruang sembahyang (digambarkan sebagai ruang yang muncul secara situasi atau waktu tertentu) yang sifatnya lebih sakral dan privat.

Fenomena Heterotopia

Sumber Gambar : homify.co.id

Munculnya ruang sembahyang pada ruang tamu di waktu hari-hari besar tertentu seperti hari Imlek, Cheng Beng, dll inilah yang kita sebut sebagai fenomena heterotopia. Rupanya disinilah titik keunikannya, GenK, yang jarang ditemui dan terjadi di rumah-rumah tinggal masyarakat secara umum.

Yang perlu kalian ketahui bahwa saat menjelang hari besar perayaan Cina tersebut, suasana dan kondisi ruang tamu tampak terlihat menjadi lebih berbeda dari hari-hari yang biasanya, seperti pada ilustrasi gambar dibawah ini.

Sumber Gambar : 99.co

Penyebabnya adalah segala aktivitas dan dekorasi dari tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Tionghoa itu sendiri. Saat ruang tamu mengalami perubahan karakter menjadi ruang sembahyang seperti gambar dibawah ini maka baik aktivitas maupun hal lainnya yang awalnya bersifat bebas dan publik menjadi terbatas, sakral, dan privat (tertutup).

Sumber Gambar : pinterest.com (Alec Ewe)

Untuk lebih jelasnya, dibawah ini merupakan beberapa aturan maupun larangan yang perlu dan harus Kalian ketahui jika kalian berada di ruang tamu hunian masyarakat Tionghoa.

Selain itu, hal ini juga menjadi salah satu dasar maupun alasan terjadinya fenomena heterotopia pada ruang tamu yang pada akhirnya dijadikan sebagai ruang sembahyang oleh masyarakat Tionghoa saat melakukan aktivitas spritual menjelang perayaan hari besar Cina, yaitu:

  1. Menjujung Tinggi Norma & Moral Selama Ibadah Berlangsung

Sumber Gambar : flickr.com

Saat memasuki ruang sembahyang dan melakukan aktivitas spiritualitas, yang mana harusnya ruang tersebut merupakan ruang tamu secara tidak langsung maka pihak keluarga secara inti harus menjaga sikap.

Baik itu sikap dalam hal tidak melakukan kekerasan, tidak mabuk-mabukan, tidak membunuh makhluk hidup, tidak berkata kasar ataupun berbohong di area ruang sembahyang.

Hal ini sangat penting untuk diingat dikarenakan ruang sembahyang tersebut bersifat sakral (suci) dan fungsinya untuk membangun terjalinnya komunikasi secara batin terhadap seseorang yang dihormati ataupun dicintai.

2. Sopan dalam Hal Berpakaian

Sumber Gambar : flickr.com

Pakaian yang digunakan saat ritual sembahyang berlangsung pada ruang tamu haruslah sopan dan rapi. Tidak boleh menggunakan pakaian yang sobek atau terlalu pendek maupun terlalu santai.

Sedangkan untuk warna pakaian umumnya yang paling banyak digunakan oleh masyarakat Tionghoa adalah warna merah atau emas sebagai simbol dalam menyambut Tahun Baru, namun tidak semua pihak menerapkannya tergantung tradisi dari masing-masing pihak keluarga.

3. Dilarang Menggunakan Alat Elektronik

Fenomena Heterotopia

Sumber: youtube.com (Service Space : Cameron & Nahmod)

Ketika peribadatan dimulai maka semua pihak keluarga harus menjaga ketenangan di ruang tamu. Seperti tidak boleh bermain atau menggunakan alat elektronik dalam bentuk apapun seperti handphone, komputer, dll.

Sedangkan pada waktu hari biasanya maka para keluarga ataupun para tamu di ruang tamu tersebut secara leluasa bercanda sehingga suasana ruangan yang tercipta adalah terkesan lebih ramai dan heboh.

4. Bagi Wanita yang sedang Mengalami Menstruasi Dilarang Masuk

Fenomena Heterotopia

Sumber Gambar : halodoc.com

Hal ini sangat jauh berbeda dengan fungsi ruang tamu secara umum, yang mana semua orang dapat memasuki ruang tersebut tanpa ada batasan apapun.

Akan tetapi jika saat hari perayaan besar penanggalan Cina maka wanita yang sedang mengalami haid (menstruasi) tidak bisa secara bebas masuk. Bahkan untuk sekedar melakukan sembahyang di ruang tamu tersebut.

Peristiwa ini dapat terjadi dikarenakan menurut tradisi yang dipercaya, wanita yang sedang mengalami menstruasi tersebut dianggap sebagai hal yang kotor untuk berada di area yang sakral tersebut.

Untuk menghindari peristiwa tersebut maka biasanya pada rumah masyarakat Tionghoa dijumpai pintu masuk sampingan. Misalnya pintu masuk garasi yang langsung menembus ke ruangan lainnya tanpa harus melewati ruang tamu yang sedang digunakan sebagai ruang sembahyang pada hari-hari tertentu.

5. Bagi Keluarga yang sedang Mengalami Duka Cita Dilarang Melakukan Sembahyang

Fenomena Heterotopia

Sumber: shutterstock

Kasus ini hampir mirip seperti point yang telah dijabarkan sebelumnya. Bisa saja terjadi di beberapa pihak yang ada pada masyarakat Tionghoa. Sebabnya bagi keluarga yang sedang mengalami duka cita tersebut maka secara tidak langsung aura yang dihasilkan kurang baik. Sehingga biasanya mereka tidak boleh ikut serta dalam aktivitas sembahyang di ruang tamu tersebut.

Wahhh GenK, ternyata terjadinya fenomena heterotopia pada ruang tamu di hunian masyarakat Tionghoa ini disebabkan oleh banyak faktor lhooo!

Diantaranya yaitu faktor waktu, aktivitas, budaya-tradisi, dan perabot yang digunakan sekaligus menjadi penanda.

Meskipun ruang tersebut merupakan ruang yang sama yaitu ruang tamu seperti kalian ketahui.  Namun ternyata ruang tamu tersebut memiliki dua sifat dan karakter yang sangat jauh berbeda dengan ruang sembahyang yang sejatinya hanya muncul pada waktu-waktu tertentu saja.

Walaupun begitu kedua sifat ruang yang saling bertentangan tersebut dapat bersanding tanpa menghilangkan salah satu diantara keduanya. Peristiwa itulah yang kita sebut fenomena heterotopia.

Oleh karena itu, tidak ada salahnya bagi kalian semua untuk mengetahui informasi terkait hal ini.  Terkhususnya untuk masyarakat Tionghoa sendiri yang sering mengalami fenomena heterotopia tersebut dirumah tinggal huniannya.

Semoga informasi diatas dapat bermanfaat sekaligus menambah wawasan kalian semua untuk lebih ingin tahu lagi mengenai heterotopia!

Penulis: Anastasya Sumingto (Prodi Desain Interior Universitas Kristen Petra)

Sumber:

  1. Foucault, M. (2017). Tentang ruang-ruang yang lain (atau heterotopia). Jurnal Kajian Ruang Sosial-Budaya, Vol. 1 (1), 37 – 48. Retrieved from https://jkrsb.ub.ac.id/index.php/jkrs b/article/view/6/25
  2. Maulidan, S. (2016). Tradisi sembahyang umat Buddha. (Thesis). Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Darussalam – Banda Aceh. Retrieved from https://repository.ar-raniry.ac.id/id/ep rint/2222/1/DATA%20PDF.pdf
About author

Related posts
Arsitektur & Interior

Tips Elemen Dekorasi Interior Pada Toko Elektronik

Arsitektur & Interior

4 Inspirasi Karakter Pada Ruang Komersial Konsep Industrial Yang Bisa Kamu Coba!

Arsitektur & Interior

Pengaruh Desain Pada Nona Manis Dimsum Club & Nyonya Manis Drinking Club Malang Pada Psikologi Pengunjung

Arsitektur & Interior

Yuk, Intip Green House Coworking Dengan Konsep Green Design!

Leave a Reply

Your email address will not be published.