Memahami Dasar Exposure Triangle dalam Fotografi

Dibaca Normal: 4 menit aja
exposure triangle

Baru tertarik dengan dunia fotografi bukan berarti kamu tidak mungkin menjadi fotografer profesional. Justru jadikan momen ini sebagai awalan kamu untuk lebih mengenal apa itu fotografi yang sebenarnya. Semua dimulai dari exposure triangle yang menjadi dasar-dasar pemotretan gambar. Mari simak penjelasan selengkapnya, yuk!

Di dalam fotografi, pencahayaan itu rumit. Diperlukan treatment atau trik khusus agar hasil pencahayaan pada foto sesuai dengan apa yang kamu inginkan atau setidaknya layak untuk dicetak. Namun semua ini bisa diatasi kalau kamu tahu apa itu exposure triangle. Yuk, disimak pengertiannya!

Apa Itu Exposure Triangle?

exposure triangle

Exposure triangle (sumber: photographylife.com)

Segitiga pencahayaan atau exposure triangle adalah istilah umum tentang cara yang digunakan untuk mengasosiasikan tiga variabel penentu pencahayaan sebuah foto. Tiga hal yang termasuk ke dalamnya, yaitu aperture, shutter speed, dan ISO. Kamu pasti sudah tidak asing lagi kan dengan istilah-istilah pencahayaan dalam kamera tersebut kan?

Bila ingin menjadi seorang fotografer andal, pahami terlebih dahulu ketiga hal tersebut untuk menghasilkan foto yang sesuai dengan keinginanmu. Makanya exposure triangle merupakan hal yang penting bagi seorang fotografer, GenK. Supaya makin paham, yuk kita bahas satu per satu bagian dari triangle exposure!

1. Aperture

aperture

Bentuk aperture kamera (sumber: lifewire.com)

Kalau mata punya iris, kamera punya aperture, GenK. Aperture adalah lubang yang ada di dalam lensamu. Semakin rendah nomor aperture, semakin lebar pula bukaan lensa, sehingga cahaya yang masuk akan lebih terang.

Biasanya aperture ditandai dengan f/numbers atau f/stop, misalnya f/1.4, f/2, f/2.8, sampai f/16 atau bahkan lebih dari itu, tergantung kapasitas kameramu. Angka-angka ini akan berpengaruh pada jumlah cahaya masuk dan ketajaman gambar. Seorang yang suka memotret landscape umumnya menggunakan bukaan kecil untuk menampilkan latar belakang pemandangan yang lebih jelas dan tajam.

Aperture merupakan bagian dari exposure triangle yang sebaiknya diprioritaskan. Dengan mengatur aperture duluan, barulah setelah itu angka ISO dan shutter speed yang menyesuaikan.

Baca Juga
Mengenal Macam-Macam Teknik Pencahayaan dalam Fotografi

2. Shutter Speed

Setelah aperture, sekarang saatnya membahas tentang shutter speed yang merupakan bagian kedua dari exposure triangle. Shutter speed adalah lamanya waktu untuk shutter atau rana terbuka pada kamera atau bisa juga diartikan sebagai lamanya sensor pada kamera melihat dan menangkap objek yang ada di foto.

exposure triangle

Hasil penggunaan shutter speed (sumber: bokehmaster.com)

Semakin rendah angka shutter speed, semakin lama pula rana akan terbuka, sehingga cahaya yang masuk ke dalam sensor kamera lebih banyak. Bisanya angka shutter speed yang rendah sengaja digunakan untuk membuat foto blur dan menunjukkan pergerakan objek (motion).

Shutter speed yang tinggi biasanya digunakan untuk memotret objek bergerak tanpa menunjukkan pergerakan tersebut. Meskipun kamu memotret orang yang sedang mengendarai sepeda motor di jalanan, gambar tidak akan ngeblur.

Hal ini terjadi karena angka shutter speed yang tinggi menyebabkan rana pada kamera terbuka sangat cepat, sehingga cahaya yang masuk ke dalam sensor kamera lebih sedikit. Semakin cepat pergerakan objek yang ingin kamu potret, semakin tinggi pula angka shutter speed yang digunakan.

Baca Juga
Mau Jadi Fotografer Andal? Pelajari Dulu 6 Hal Ini!

3. ISO

Bagian dari triangle exposure yang berikutnya adalah ISO kamera. Di dalam fotografi, ISO adalah kemampuan kamera atau tingkat sensitifitas sensor kamera terhadap jumlah cahaya. Semakin besar angka pengaturan ISO, maka semakin sensitif dan besar pula cahaya yang didapatkan. Angka ISO kamera kisaran 100 sampai 1600, tapi ada juga kamera yang mampu lebih tinggi lagi, GenK. Tapi tentunya dengan harga kamera yang lebih mahal.

exposure triangle

Penggunaan ISO (sumber: fstoppers.com)

Namun ada satu hal yang perlu menjadi catatan. Tidak semua kondisi lokasi cocok untuk difoto dengan ISO yang tinggi, karena kalau terlalu tinggi gambarnya malah jadi noise. Kalau gambarnya noise, otomatis kualitas gambar menurun. Mau zoom gambar sedikit saja langsung buram, GenK.

DSLR dan mirrorless dapat mengatasi angka ISO yang tinggi dengan baik. Sensor dan ukuran pixel kamera yang besar mampu mengatasi gangguan digital. Tapi balik lagi soal noise, sebaiknya gunakan ISO dengan angka serendah mungkin.

indoor photography

Indoor photography (sumber: bonusprint.co.uk)

Untuk memotret di hari yang cerah, pengaturan ISO kisaran 100-200 dirasa sempurna. Lain halnya jika kamu memotret di dalam ruangan. Kamu mungkin memerlukan ISO kisaran 800-1600 sambil memastikan gambarmu tidak noise. Maka dari itu pengaturan manual mode sangat disarankan saat memotret, GenK.

Baca Juga
5 Tips untuk Menguasai Panning Photography dengan Mudah

Kesimpulan

Ketiga bagian dari exposure triangle adalah hal-hal yang saling berkaitan satu sama lain. Jika kamu sudah merasa puas dengan ketajaman fokus gambar tapi cahaya masih dirasa underexposure, naikkan ISO. Jika pencahayaan sudah dirasa pas tapi ternyata kamu harus memotret objek yang pergerakannya cepat, naikkan shutter speed. Begitu pula masalah-masalah lain yang kalian temukan saat pemotretan berlangsung.

Seandainya triangle exposure sudah dimaksimalkan tapi gambarnya tetap belum sesuai dengan keinginanmu, mungkin kamu harus menggunakan tools eksternal seperti flash external, diffuser, reflector, dan tools lainnya.

Tapi beberapa alat yang kami sebutkan barusan tidak harus selalu dibeli kok, GenK, karena sebenarnya kamu juga bisa membuat lighting tambahan sendiri. Cara membuat alat lighting foto sederhana bisa langsung kamu baca tutorialnya di artikel yang pernah kami tulis sebelumnya. Selamat mencoba, GenK!

Polling

Ditulis Oleh

Yurista Andina atau yang kerap disapa dengan Yuri ini merupakan lulusan Desain Komunikasi Visual. Dari hobi, kini menulis telah menjadi passion yang digeluti oleh perempuan penggemar musik K-Pop ini. Saat ini ia bekerja sebagai Content Writer di Kreativv ID. Saat tidak disibukkan dengan pekerjaan kantor, ia sering menghabiskan waktu untuk menulis cerita fiksi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terkait
Fotografi

5 Rekomendasi Merek Kamera Polaroid yang Bagus

Fotografi

Mengenal 11 Jenis Aturan Komposisi dalam Fotografi

Fotografi

Gak Cuma Golden Hour, Ternyata Ada Blue Hour Photography, GenK!

Fotografi

Mengenal Apa Itu Vignette dan Serba-Serbi di Dalamnya

            Thank u, next!     
Mau inspirasi mengalir deras dan kreativitas anti mandek? Dapetin kurasi konten berkualitas dan undangan eksklusif ke acara-acara seru kreativv ID!
close-link