fbpx

4 Cara Berpikir Objektif

Dibaca Normal: 5 menit aja 😊
cara berpikir objektif

Apa sih berpikir objektif itu? Kenapa penting untuk kita lakukan? Artikel ini akan menjawab semua pertanyaanmu itu, GenK!

Tidak jarang kita merasa kalau kita sudah berpikir objektif, padahal belum.

Rasanya sudah membuat keputusan yang adil buat kamu dan teman-teman, tapi rupanya lebih cenderung menguntungkan kamu saja.

Rasanya sudah membuat keputusan yang objektif buat anggota kelompokmu, tapi ternyata lebih memudahkan salah satu anggota.  

Memang pada dasarnya, manusia punya bias yang menyebabkan kita jadi sulit menjadi objektif.  

Tentu asumsi dan pemikiran kita tidak selamanya benar. Karena itulah muncul salah interpretasi, salah menilai orang, atau memasukkan pendapat orang ke hati. Tetapi, jika kamu tahu caranya berpikir objektif,  tindakan-tindakan di atas bisa dihindari, GenK.

Jadi Objektif, Apa Mungkin?  

Objektivitas adalah melihat dan menerima sesuatu sebagaimana adanya, tanpa memasukkan ketakutan kamu, kondisi psikologis kamu, atau pengalaman kamu di masa lalu dalam proses melihat dan menerima.  

Pikiran objektif dituangkan dalam bentuk merespons ucapan seseorang, tantangan, dan kesempatan dengan pertimbangan matang. Pertimbangkan fakta dan seluruh aspek dalam satu masalah, baru menilai sesuatu.  

Objektivitas kian penting ketika kamu berada di posisi sebagai pemimpin. Ketika kamu bisa bersikap objektif, kamu akan bisa bersikap adil dan menghindari aspek-aspek emosional saat mengambil keputusan.  

Namun manusia tidak lepas dari cognitive errors. Ketika kita melihat atau menerima sesuatu, proses menilai dan membentuk persepsi langsung berjalan. Proses tersebut melibatkan situasi mental kita, pengalaman kita yang sudah-sudah, latar belakang kita, dan orang atau situasi yang sedang kita nilai.  

Di situlah penilaian kita sering jadi subjetif.  

Sekilas, subjektivitas tidak bisa dipisahkan dari sifat manusia ya, GenK. Namun sebagai makhluk yang punya intelegensi, kita masih bisa belajar untuk menjadi objektif. Berikut langkah-langkahnya.  

Baca Juga   Cara Beradaptasi dengan Lingkungan Baru lewat Komunikasi yang Baik

Langkah Berpikir Objektif

1.Cek ulang objektivitas

berpikir objekif 3

Ilustrasi cek ulang objektivitas (Sumber: unsplash.com)

Seringkali kita berhadapan dengan hal yang rasanya sudah kita ketahui kebenarannya. Namun hal-hal seperti ini yang bisa membuat kita jatuh pada subjektivitas dan prasangka. Karena itu, cek ulang pandangan atau penilaian kamu terhadap suatu kondisi atau kejadian sebelum menyikapinya. Pengecekan ini bisa dilakukan dengan menanyai diri kamu beberapa hal.  

Misalnya, kamu melihat Adinda, teman seangkatan yang kamu suka, mengambil kunci jawaban ujian semester di atas meja ruang dosen.  Tanyakan pada dirimu, apa yang objektif dari kejadian itu? Adinda mengambil kunci jawaban.  

Tanyakan lagi pada diri sendiri, apa asumsi yang terbentuk di pikiran? Apa yang menurutmu sebenarnya terjadi? Misal, kamu berpikir Adinda sebenarnya disuruh dosen untuk mengambil lembar kunci jawaban itu untuk membantunya mengecek kertas jawaban ujian kelas lain.  

Tanyakan lagi, kenapa kamu membuat asumsi seperti itu? Apakah karena kamu suka dengan Adinda, atau karena Adinda tidak terlihat sembunyi-sembunyi saat mengambil kunci jawaban tersebut.  

Tanyakan lagi, apa responsmu terhadap yang dilakukan Adinda? Menanyakan kebenarannya langsung ke dia, atau menanyakan pada dosen? Pikir sekali lagi, apa respons yang sekiranya lebih baik kamu lakukan pada kejadian barusan? Mengecek ulang anak kelas lain tentang jadwal ujiannya kah?  

Setelah itu, tanyakan pada diri sendiri, apa manfaat dan risikonya untukmu saat terjun lebih jauh ke kejadian tersebut?  

Apakah kamu ingin meluruskan asumsi dalam pikiranmu, apakah kamu ingin kunci jawaban tidak diambil oleh yang tidak berhak, atau karena kamu terdorong ingin memastikan Adinda anak baik, seperti yang kamu suka?  

Ulangi pertimbanganmu lewat pertanyaan-pertanyaan semacam ini baik dalam situasi personal maupun profesional. Dengan begitu, kamu bisa belajar terbiasa membedakan mana realita yang tercampur emosi dan keberpihakan kamu, mana yang realita sesungguhnya.

2.Pahami bahwa subjektivitas bisa berisiko

berpikir objekif 4

Ilustrasi Subjektivitas (Sumber: pepnews.com)

Kadang mengikuti kata hati dan perasaan bisa menuntun kamu ke jalan yang kamu senangi. Entah itu perkuliahan, entah itu jenjang karier.  

Baca Juga   Serba Bisa dengan 3 Hard Skill Serbaguna di Industri Kreatif

Namun yang perlu kamu perhatikan, kata hati dan perasaan perlu diimbangi dengan objektivitas, agar perencanaan hidup kamu bisa terhindar dari risiko.  

Contoh, kamu senang sekali membuat karya seni dari kayu bekas. Kamu ingin memasarkannya di marketplace kenamaan. Kamu yakin, wirausaha lebih baik buat kamu daripada kerja kantoran.  

Tapi ketika kamu merasa tanda-tanda karyamu tidak bisa dipasarkan di sana, kamu tetap fokus pada pendirianmu karena merasa akan bagus buat self worth kamu dan brand kamu, kalau suatu hari nanti karyamu laku.  

Karena memperjuangkan hal ini, kamu jadi rugi jutaan rupiah. Jika kamu menyisipkan objektivitas dalam pertimbangan perencanaan pemasaran, mungkin jumlah penjualanmu akan turut naik.  

Misal, kamu tetap idealis dengan karyamu, namun menyediakan layanan kustomisasi karya bagi pemesan. Memperjuangkan passion dan kata hati tentu boleh, asal jangan membuatmu sengsara ya, GenK.

3.Cari pemicu

berpikir objekif 2

Ilustrasi berpikir mencari pemicu (Sumber: unsplash.com)

Ketika kita mulai tidak objektif, sebetulnya ada ciri-ciri yang bisa kita rasakan, GenK. Ciri-ciri bisa ditemukan dengan mengecek diri sendiri, apakah ada topik tertentu yang membuat kamu terpancing jadi defensif atau argumentatif? Apa ada situasi tertentu yang membuat kamu jadi bereaksi berlebihan?

Contoh lain yang bisa ditanyakan untuk verifikasi diri sendiri, misal:   Seberapa sering kamu memasukkan sesuatu ke dalam hati ketika topik tersebut tidak ‘menyerang’ kamu?  

Seberapa sering kamu menilai orang dari penampilannya?  

Ciri-ciri kita mulai tidak berpikir objektif salah satunya yakni merasa amat terganggu atau jadi terlalu emosional. Kondisi ini dipicu karena kita secara emosional terikat dengan topik atau situasi tersebut.  

Baca Juga   Cara Membuat Portofolio Kreatif

Ketika sudah melibatkan emosi, kamu akan lebih sulit melihat perspektif orang lain dan melihat kejadian secara berimbang. Nah, ketika kamu tahu pemicu emosi dan subjektivitas kamu, hal-hal ini bisa diantisipasi.

4.Pertimbangkan pandangan orang

berpikir objekif 1

Pertimbangkan pandangan orang (Sumber: unsplash.com)

Cara lain untuk memverifikasi pandangan kita adalah lewat melihat pandangan orang lain. Dengan adanya masukan dan perspektif orang lain, kamu jadi punya tambahan bahan untuk pertimbangan ulang atas objektivitas kamu.  

Nah, kamu perlu punya orang-orang yang kamu hargai perbedaan pandangannya untuk mendapatkan perspektif yang objektif.  

Jika mereka juga menghargai dan mempedulikan kamu, mereka akan bisa mengungkapkan pandangannya dengan jelas dan baik untuk membantu kamu.  

Kamu pun bisa mengutarakan pandangan kamu dan membandingkan pandangan kalian. Dari situ, kamu bisa melihat poin manakah yang kurang objektif dari kedua pandangan tersebut.  

Orang-orang yag kamu percaya ini juga bisa kamu tanyai pandangannya atas kamu.  

Coba tanyakan bagaimana kepribadian kamu di mata mereka. Apakah kamu tipe orang yang suka menghindari konflik, atau suka memenuhi kebutuhan orang? Jika kamu salah satu di antaranya, pahami bahwa kamu punya kecenderungan untuk kurang objektif, karena ingin menghindari konflik.  

Tentunya, dengan memahami diri sendiri, kamu bisa mengantisipasi keadaan ini, GenK.  

Manfaat Berpikir Objektif  

Nah, begitulah cara-cara berpikir objektif di lingkungan personal dan profesional. Ketika kamu bisa menerapkannya, ada banyak manfaat yang akan bisa kamu rasakan:  

  • Melihat realita dengan lebih jernih, sehingga bisa menimbang keputusan lebih matang
  • Mengambil keputusan dengan berimbang, tanpa keberpihakan
  • Bisa menghindari jebakan etika, karena pertimbangan keberpihakan
  • Mengukur masa depan lebih matang, karena tidak hanya mengikuti kata hati, namun juga lingkungan dan dinamika yang mempengaruhi


Bagaimana, apa kamu tertarik belajar lebih objektif, GenK?  

Tulis Komentar

Artikel Terkait
GenK LIFE

7 Jenis Pekerjaan dalam Satu Tim Produksi Animasi

GenK LIFE

5 Cara Menambah Followers Twitter ala kreativv ID

GenK LIFE

4 Profesi Kekinian di Industri Kreatif yang Bisa Kamu Coba

GenK LIFE

Serba Bisa dengan 3 Hard Skill Serbaguna di Industri Kreatif

GenK LIFE

7 Jenis Profesi Buat Kamu yang Hobi Menulis

GenK LIFE

5 Tips Facebook Marketing untuk Membangun Brand-mu

GenK LIFE

5 Tips Kreatif Main Instagram agar Kontenmu Lebih Menarik

GenK LIFE

Cara Membuat Form Online Praktis dan Gratis

GenK LIFE

Mengenal Apa Itu Copyright, Anak Kreatif Wajib Tahu

GenK LIFE

Kepribadian Pekerja Kreatif Berdasarkan Golongan Darah

GenK LIFE

10 Ciri Orang dengan Intuisi Tinggi yang Berani Mewujudkan Idenya

GenK LIFE

Mengenal Apa Itu Art Block dan Cara Mengatasinya

GenK LIFE

5 Jenis Pekerjaan Buat Kamu yang Hobi Menggambar

GenK LIFE

Yuk Belajar Cara Membuat Kalender Sendiri

GenK LIFE

5 Cara Tepat dan Mudah Belajar Mengetik Cepat

GenK LIFE

Apa Itu Meme? Budaya Komunikasi Kekinian Anak Milenial

GenK LIFE

5 Alasan Kenapa Self-Talk Bisa Bikin Hidup Lebih Tenang

GenK LIFE

Design Thinking, Skill Mencari Solusi yang Dibutuhkan di Zaman Sekarang

GenK LIFE

Memahami Fobia Generasi Milenial: dari FOMO hingga Jomblo

GenK LIFE

Baru Mulai Bisnis? Yuk Baca Cara Jualan Online Lengkap!

            Artikel Selanjutnya     
kid logo
Mau inspirasi ngalir deras,
kreativitas anti mandek?
Dapetin newsletter gratis dan undangan eksklusif ke acara-acara kreativv ID!

 
close-link