4 Langkah Pengambilan Keputusan yang Tepat

Dibaca Normal: 5 menit aja
cara pengambilan keputusan

Setiap hari kita berhadapan dengan pegambilan keputusan. Mulai dari yang sepele, sampai yang punya dampak besar buat masa depan. Yang perlu diperhatikan, makin signifikan dampak keputusan, makin berhati-hatilah kita sebaiknya mempertimbangkannya. Biar gak salah langkah, baca dulu tips-tips ini yuk!

Jika kamu tahu cara mengambil keputusan yang tepat dari kesempatan-kesempatan yang ada, salah pilih dan penyesalan yang mengikutinya bisa kamu hindari. Nah, sebelum kita bahas cara yang tepat untuk proses pengambilan keputusan, ada beberapa hal yang wajib kamu perhatikan. Berikut di antaranya:

Rasionalitas vs Perasaan

cara mengambil keputusan

Emosi vs Logika (sumber: flywheelassociates.com)

Membuat keputusan yang tepat mengharuskan kita untuk menyeimbangkan rasionalitas dan perasaan. Agar bisa menyeimbangkannya, kita perlu tahu dulu mana yang termasuk elemen rasional dan mana yang elemen perasaan.

UPDATES

Slider

UPDATES

Slider

1. Elemen rasional

Rasionalitas kita dipengaruhi data, informasi, dan pengetahuan. Data mentah terdiri dari fakta-fakta, data statistik, dan masukan-masukan dari literatur dan pengalaman orang lain. Contohnya, jika kamu ingin masuk jurusan Teknik Industri di universitas X, lalu kamu menemukan statistik universitas yang menunjukkan bahwa 30% lulusan dari kampus itu diterima bekerja di top 1% manufacturing company di Indonesia.

Sedangkan, 70% lulusan Teknik Industri di kampus yang sama rupanya punya jalan beragam setelah lulus: 25% diterima di perusahaan ritel, 25% di perusahaan startup nonjasa, 15% di startup jasa, dan 5% tidak bekerja. Informasi seperti di atas berisi data-data lebih lengkap, sehingga lebih terarah, punya arti, dan memungkinkan kamu untuk memulai pertimbangan keputusan. Paduan elemen-elemen rasional ini membantu kamu untuk menganalisis apakah secara logis, kesempatan yang ada di depanmu layak untuk dipertimbangkan menjadi keputusan.

2. Elemen mental

Di balik pertimbangan rasional, juga ada proses mental yang tengah berjalan di diri kita. Proses ini melibatkan persepsi kita pada data, informasi, dan pengetahuan yang telah kita kumpulkan. Persepsi kita bisa ditandai dari emosi dan insting yang muncul saat menyusun dan menganalisis elemen rasional tersebut. Emosi dapat mendorong kita untuk menganalisis diri sendiri, apa yang terasa saat kita dihadapkan dengan elemen rasional. Apakah takut, cemas, enggan, muak? Atau malah senang dan bersemangat?

Contoh, ketika kamu mengetahui bahwa 15% lulusan Teknik Industri Universitas X bekerja di startup, apakah kamu jadi bersemangat? Jika ya, mungkin kamu bisa mempertimbangkan lebih lanjut keputusan pendidikan dan masa depanmu. Emosi yang muncul bisa menandai passion dan kenyamanan mentalmu dalam sebuah pilihan atau kesempatan. Insting dapat mendorong kita mengecek fakta di balik data, informasi, dan pengetahuan. Apakah ada bias atau subjektifitas si pembuat data di dalamnya?

Contoh, ketika kamu merasa ada yang janggal dengan informasi Universitas X yang begitu sempurna, kamu jadi terdorong untuk browsing di forum-forum online tentang kebenarannya. Dari situ kamu bisa menguak, apakah data itu benar adanya, atau dipercantik agar Universitas X terkesan berhasil mencetak lulusannya. Gawat banget kan kalau kamu termakan pencitraan belaka.

Baca Juga
7 Cara Ampuh Supaya Kamu Tidak Gampang Baper

Langkah-Langkah Mengambil Keputusan

Nah, setelah mengumpulkan data, informasi, dan pengetahuan dasar dari tiap kesempatan dan pilihan yang kamu punya, kamu sudah bisa memulai proses pengambilan keputusan. Berikut langkah-langkah mengambil keputusan yang baik:

1. Mempertimbangkan Opportunity Cost

Panduan Pengambilan Keputusan dari kreativv ID

Sumber: pexels.com

Kamu bisa memanfaatkan konsep opportunity cost untuk membandingkan beberapa opsi atau alternatif  yang ada. Misalkan kamu punya opsi 1 dan 2. Opportunity cost adalah nilai-nilai yang muncul dari opsi kedua. Sederhananya, opportunity cost adalah manfaat-manfaat yang harus kamu lepaskan kalau tidak memilih opsi yang lainnya.

Contoh, kamu sedang mempertimbangkan untuk mengambil S2 atau bekerja.  Di satu sisi, kamu senang melanjutkan kuliah S2, kamu tertarik untuk belajar lebih dalam keilmuanmu, dan yakin akan  tembus beasiswa. Di sisi lain, pekerjaan membuka kesempatan kamu untuk merasakan pengalaman kerja dan berkarya, membangun jejaring dengan sesama profesional lintas bidang, dan mendapat gaji. Ketika berada di persimpangan seperti ini, coba terapkan konsep opportunity cost untuk membantumu menjernihkan pikiran dan mengambil keputusan.

Pertama, buat daftar opportunity cost jika kamu memilih melanjutkan kuliah. Misal: jadi tidak mengembangkan jejaring profesional, merelakan dua tahun lebih lama dari teman-teman seangkatan untuk memulai pengalaman bekerja, tidak merasakan pengalaman profesional di kantor, tidak belajar skill profesional di kantor, dan lain-lain.

Lalu, bandingkan dengan opportunity cost jika kamu memilih bekerja: jadi tidak menambah gelar akademik, tidak mendapat pendidikan formal di kampus, tidak mendapat pengalaman sosialisasi dengan teman dan para pengajar. Nah, dari perbandingan ini, pilih yang sekiranya lebih siap kamu relakan dan mana yang ingin kamu prioritaskan.

Baca Juga
8 Cara Mengatasi Keraguan Terhadap Diri Sendiri

2. Tulis Daftar Kriteria yang Penting Buatmu

Panduan Pengambilan Keputusan dari kreativv ID 2

Sumber: pexels.com

Buat kolom kriteria-kriteria yang penting buatmu, lalu bandingkan potensi pilihan-pilihanmu dengan kriteria tersebut. Contoh, kamu sedang memilih dua perusahaan yang menawarimu pekerjaan. Buat kriteria yang penting untukmu dalam sebuah pekerjaan, misalnya ruang lingkup tugas dan wewenangmu, siapa saja yang akan bekerja denganmu dan potensi belajar dari mereka, potensi kenaikan jenjang karier, potensi eksposur pada perkembangan ilmu dan potensi belajar di kantor, gaji, lingkungan kantor, jarak dengan rumah, dan seberapa bernilai perkerjaan tersebut buat kamu.

Kemudian, tulis skor perusahaan A atas masing-masing kriteria. Lalu bandingkan dengan skor perusahaan B. total skor masing-masing perusahaan bisa menjadi pertimbanganmu untuk membuat keputusan. Di sisi lain, hatimu bisa setuju atau tidak setuju dengan hasil skor tersebut. Tidak masalah. Itu wajar banget kok. Ketidaksetujuan kamu juga menjadi sinyal opsi mana yang lebih kamu inginkan.

3. Bicarakan dengan Orang yang Kamu Hargai Pendapatnya

Panduan Pengambilan Keputusan dari kreativv ID 3

Sumber: pexels.com

Pada dasarnya, mengutarakan pertimbangan kamu atas beberapa opsi pada orang lain akan membuat kamu bisa memikirkan lebih jernih baik-buruk kesempatan yang ada. Mendengarkan diri sendiri dengan berbicara dapat membantu kamu memproses perasaan yang timbul. Apakah kamu senang ketika menjelaskan opsi pekerjaan A? Atau malah jadi sadar kalau opsi pekerjaan A sebenarnya tidak bagus-bagus amat?

Kesadaran ini kadang baru muncul ketika kamu mengungkapkannya dengan lantang pada orang lain. Di samping itu, lawan bicaramu bisa menyampaikan perspektifnya akan opsi-opsimu, sehingga wawasan kamu akan kesempatan-kesempatan yang ada bisa menjadi lebih detail dan luas.

Baca Juga
6 Cara Berikut Bisa Mengusir Overthinking Loh, Yuk Disimak!

4. Simulasi

Ilustrasi menetapkan keputusan (sumber: c2educate.com)

Yang dimaksud simulasi di sini yakni adalah membayangkan dirimu sedang di satu opsi yang kamu pertimbangkan selama beberapa hari. Simulasi berfungsi untuk mengidentifikasi  apa kemauanmu dan bagaimana perasaanmu jika akhirnya kamu memutuskan untuk mengambil sebuah pilihan.

Contoh, kamu bersimulasi sedang mengambil pekerjaan sebagai konsultan pendidikan di perusahaan A. Bayangkan kamu memberikan kartu nama bisnis pada klienmu, atau memperkenalkan diri pada orang lain sebagai seseorang di posisi tersebut. Apakah kamu senang dan semangat untuk mengenalkan dirimu, atau malah enggan menceritakannya pada orang? Bayangkan juga load pekerjaan sehari-hari.

  • Contoh, sebagai konsultan pendidikan, apakah kamu senang bertemu calon mahasiswa mengurus pendidikan lanjutannya?
  • Apakah kamu merasa tidak terbebani dengan tugas mengurusi administrasi pendidikan hingga visa jika mereka memilih kuliah di luar negeri?
  • Apakah kamu berkenan jika diharuskan available untuk berkomunikasi via chat dengan klien-klienmu termasuk di hari libur dan di luar jam kantor?
  • Apakah tugas-tugas ini rasanya sebanding dengan estimasi gaji yang kamu harapkan?
  • Apakah kantornya tidak terlalu jauh dan menyulitkan kamu berangkat dari rumah? Jika kamu mau, kamu bisa mencoba berkendara beberapa hari dari rumah ke calon kantormu.

Dari situ, kamu bisa mempertimbangkan, apakah kamu benar-benar bersemangat dan ingin mengambil keputusan untuk bekerja di sana, atau hanya semangat di hari pertama dan merasa terbebani setelahnya. Nah, itu dia langkah-langkah pengambilan keputusan yang baik. Oh ya, berhati-hatilah memutuskan sesuatu atas nama bersama atau tim. Kalau keadaannya seperti itu, kamu harus ekstra hati-hati. Jangan sembrono. Semangat!

Polling

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terkait
GenK LIFE

4 Trik Instastory Kekinian Buat Instagram Makin Kece

GenK LIFE

Memahami Fobia Generasi Milenial: dari FOMO hingga Jomblo

GenK LIFE

Jangan Bimbang, Ini Dia Jurus Jitu untuk Mengatasi Quarter Life Crisis

GenK LIFE

Cerdas Tapi Tak Sombong, 6 Zodiak Ini Disukai karena Rendah Hati

GenK LIFE

Tips Menekuni Game Hingga Jadi Atlet eSport Profesional

GenK LIFE

Referensi Konten TikTok Berfaedah Buat Para TikTokers Kece

Quizzes

Slider
      TRENDING
#Trending
Next >>