fbpx

Design Thinking, Skill Mencari Solusi yang Dibutuhkan di Zaman Sekarang

Dibaca Normal: 7 menit aja 😊
design thinking

Mendesain bukan cuma soal mencari ide-ide kreatif saja, GenK. Kamu juga harus memperhatikan hubungan antara desain buatanmu dengan kebutuhan pengguna. Ini yang dinamakan proses design thinking.  Yuk, bahas lebih jelas!

Apa alasan terkuat saat kamu membeli ponsel?

Apakah karena merek, desain, atau fungsinya?

design thinking 1

Gambar ponsel (sumber: pexels.com)

Pada dasarnya ponsel digunakan untuk berkomunikasi dan bertukar informasi tanpa perlu dibatasi oleh ruang dan waktu. Akan tetapi kenapa kamu masih pilih-pilih merek padahal semua ponsel fungsinya sama? Jika dibahas lebih lanjut pasti akan ada banyak kemungkinan untuk menjawabnya. 

Setiap orang punya prioritas. Sama halnya ketika kamu membeli ponsel. Bisa jadi karena desainnya dan bisa jadi juga karena spesifikasinya yang sesuai standardmu.

Ini membuktikan bahwa estetika perancangan desain dan fungsi yang ditawarkan kepada pengguna merupakan dua hal yang saling berkaitan satu sama lain. Proses ini dinamakan dengan design thinking.

Apa Itu Design Thinking?

design thinking 2

Ilustrasi berdiskusi untuk memecahkan masalah desain (sumber: pexels.com)

Saat merancang sebuah produk akan berbeda rasanya dengan kamu membuat sebuah karya seni. 

Hasil karya seni yang kamu buat bisa saja merepresentasikan apa yang sedang ada di pikiranmu dan hanya sampai di situ. 

Sedangkan untuk merancang produk, kamu harus tahu solusi apa yang akan kamu tawarkan kepada uses sebagai target dari produkmu. Ini bukan lagi sekadar dirimu dan karya, tapi juga akan berdampak pada pengguna.

Design thinking adalah metode pendekatan berbasis solusi untuk menyelesaikan masalah. 

Proses ini tidak sebentar loh, GenK. Kamu sebagai desainer harus berusaha untuk memahami pengguna dan mendefinisikan kembali sebuah masalah yang ada. Gunanya agar kamu dapat mengidentifikasi strategi dan mencari solusi alternatif seperti apa yang harus kamu buat.

Dengan menerapkan cara berpikir demikian, maka dapat mempermudah kamu saat mengamati dan mengembangkan empati dengan pengguna. 

Selain itu, cara berpikir yang satu ini juga sangat berguna untuk mengatasi permasalahan yang tidak jelas atau tidak diketahui solusinya alias masih mengawang-awang.

Baca Juga   Yuk Belajar Cara Membuat Kalender Sendiri

Berawal dari Proses Kreatif

Proses kreatif adalah fase yang penting dalam membuat sebuah rancangan ide. Kalau kamu belum tahu apa artinya, kamu bisa baca artikel mengenai proses kreatif yang pernah kami tulis.

design thinking 3

Ilustrasi proses kreatif (sumber: pexels.com)

Terus apa hubungannya dengan berpikir desain?

Kalau proses kreatif merupakan proses untuk mencari ide, berpikir desain merupakan proses yang dilakukan untuk mengembangkan ide tersebut. Mencari tahu apakah idemu memiliki value untuk mampu memenuhi keinginan pengguna.

Ini membuktikan bahwa keduanya saling berkaitan satu sama lain.

Pada proses pencarian ide saja sudah membutuhkan waktu yang panjang. Apalagi saat kamu masuk ke proses berpikir desain. Kamu akan menghadapi banyak hal yang lebih kompleks. Bahkan tidak menutup kemungkinan jika kamu akan turun langsung untuk melakukan survei pasar.

Elemen Penting dalam Design Thinking

Berpikir desain pertama kali diperkenalkan oleh David Kelley dan Tim Brown yang merupakan pendiri IDEO. IDEO sendiri merupakan sebuah firma desain dan konsultan desain. Memiliki latar belakang desain produk yang berbasis inovasi.

Mereka membagi design thinking menjadi beberapa elemen. Sebagai desainer wajib banget mempelajari hal ini loh. Supaya kamu tahu harus memilih metode seperti apa untuk menyelesaikan suatu masalah.

Yuk simak apa saja elemennya!

  • People Centered

People centered menjadi elemen yang paling utama, karena modelnya benar-benar sesuai dengan cara berpikir desain. Elemen ini merupakan metode pendekatan yang dilakukan dengan cara berpusat pada pengguna. Benar-benar pengguna.

design thinking 4

Ilustrasi mencari tahu kemauan user (pexels.com)

Maksud metode ini adalah apa pun yang kamu buat harus bisa menjawab apa yang diinginkan dan dibutuhkan oleh pengguna. Karena merekalah yang menjadi target utama kamu, GenK.

  • Highly Creative

Berikutnya adalah highly creative. Elemen ini mengajarkan kamu untuk menuangkan kreativitas sebebas-bebasnya pada proses kreatif. Tidak akan ada kata benar dan salah dalam metode ini. 

Keluarkan saja semua ide kreatif yang ada di benakmu. Karena pada dasarnya desain tidak menganut aturan yang kaku dan baku dalam menyelesaikan sebuah permasalahan.

Bayangkan jika desain itu kaku dan terikat aturan. Ini sama saja seperti menyelesaikan soal matematika. Jawabannya akan selalu seragam. Kemudian hasil akhirnya hanya ada dua opsi, yaitu benar atau salah.

Baca Juga   Tips Memilih Buku Referensi Skripsi
  • Hands On

Ibarat bekerja, metode hands on merupakan kerja lapangan, di mana kamu turun langsung untuk melakukan suatu pekerjaan. Pada proses desain tentu memerlukan percobaan secara langsung oleh tim desain. Jadi tidak saklek untuk membuat teori atau sekadar membuat gambar di atas kertas.

Metode ini tentu punya banyak keuntungan, salah satunya adalah mempermudah kamu untuk melihat bentuk nyata dari rancangan desain yang kamu buat. Jadi bukan sebatas mengawang-awang lagi, GenK.

Kalau sudah tahu bagaimana bentuknya, maka akan ketahuan apa saja keunggulan dan kekurangan desainmu. Sehingga bisa cepat-cepat revisi deh.

  • Iterative

Terakhir adalah iterative yang merupakan proses mendesain dengan menggunakan metode pengulangan. Setiap tahap yang kamu kerjakan ketika mendesain akan dilakukan secara berulang-ulang. 

Tujuan metode ini agar kamu dapat melakukan improvisasi. Kemudian pada akhirnya nanti, kamu dapat menghasilkan desain produk yang baik, bahkan di atas standard jika memungkinkan.

5 Tahapan Design Thinking

Lanjut ke pembahasan berikutnya nih, GenK. Sekarang kamu akan lebih fokus pada model berpikir desain. Terdapat 5 tahapan yang wajib banget kamu ketahui. Tahapan ini sangat berguna, mulai proses perancangan dari nol sampai hasil jadi yang membawa solusi baru. 

Berdasarkan artikel yang ditulis dalam The Interaction Design Foundation, 5 Stages in the Design Thinking Process (20/6/2019), kelima tahap tersebut pertama kali diusulkan oleh Hasso-Plattner Institute of Design di Stanford, universitas terkemuka dalam hal mengajar berpikir desain.

Apa saja sih tahapannya?

Mari kita lihat poin-ponnya, GenK!

1. Empathise

Untuk berpikir lewat desain tidak akan bisa dimulai tanpa adanya pemahaman yang lebih dalam tentang orang yang menjadi target audiens kamu. Agar kamu dapat memahaminya diperlukan yang namanya empati.

Dengan berempati maka kamu akan lebih mudah untuk memahami pikiran orang lain, emosinya, dan apa kebutuhan mereka. Ini merupakan cara yang paling ampuh. 

design thinking 5

Ilustrasi berempati dengan user (sumber: pexels.com)

Lewat cara berempati, kamu dapat memposisikan diri sebagai pelanggan. Sehingga kamu tahu apa saja keuntungan dan kerugian yang mereka dapatkan jika menggunakan produk kamu. Seperti refleksi diri, GenK.

Tahap ini dapat dilakukan dengan cara terjun langsung ke lapangan. Kemudian melakukan wawancara langsung dengan audiens. Dengan melakukan pengamatan dan keterlibatan langsung dengan audiens, maka kamu akan mendapatkan data sesuai kenyataan yang ada. 

Selain itu kamu juga akan mendapat pemahaman pribadi yang lebih mendalam tentang permasalahan yang ingin kamu pecahkan deh.

Baca Juga   5 Cara Menambah Followers Twitter ala kreativv ID

2. Define

Setelah kamu mengetahui apa yang sebenarnya diinginkan dan dibutuhkan oleh user, maka kamu akan masuk ke tahap berikutnya, yaitu define.

design thinking 6

Ilustrasi memecahkan masalah (sumber: pexels.com)

Data yang sudah terkumpul kemudian dianalisis untuk pengembangan ide produk yang akan kamu buat nantinya. Pengembangan ide ini bertujuan untuk menyelesaikan permasalah yang kamu dapatkan dari user, baik secara langsung maupun tidak.

Hal ini dapat dilakukan dengan membuat daftar kebutuhan user. Kamu sudah harus menetapkan permasalah apa saja yang akan kamu pecahkan dan cari solusinya lewat rancangan produkmu.

Daftar permasalahan yang sudah ditetapkan ini kemudian akan dilanjutkan pada tahap ideate yang akan kami bahas di poin berikutnya.

3. Ideate

Tahap ideation merupakan titik bagi para desainer untuk mengumpulkan ide spektakuler. Kita ambil salah satu elemen design thinking, yaitu highly creative. Keluarkan semua ide-ide cemerlang yang ada di otakmu. Buat rancangan sekreatif mungkin untuk memecahkan masalah.

Selanjutnya evaluasi hasil kerja. Di sinilah saatnya kamu untuk menguji ide-ide yang sudah kamu dapatkan sebelumnya. Apakah ide kamu sudah cukup baik untuk memecahkan masalah atau belum.

design thinking 7

Ilustrasi berdiskusi (sumber: pexels.com)

Jika kamu bekerja dalam kelompok, lakukan tahap evaluasi bersama rekan tim. Semakin banyak penilaian, maka semakin banyak pula kemungkinan baru. Gagasan yang out of the box akan sangat diperlukan, GenK.

Di tahap ideasi, kamu mesti membuat ide lain sebagai cadangan. Gunanya untuk menghindari masalah yang akan terjadi nantinya.

4. Prototype

Sekarang masuk ke tahap pembuatan prototype. Ide yang sudah dievaluasi kemudian diimplementasikan ke dalam sebuah produk percobaan. Prototipe ini dapat dibagikan dan diuji dalam satu tim sendiri maupun pada sekelompok kecil orang di luar tim desain. Ini merupakan fase kamu untuk bereksperimen. 

Walaupun masih uji coba, tapi akan lebih baik kalau produknya dibuat semirip mungkin dengan rancangan dasar. Gunanya untuk membuat ilustrasi skenario penggunaan produk oleh pengguna.

Pada akhir tahap ini, kamu memiliki pandangan yang lebih jelas tentang bagaimana user akan berperilaku, berpikir, dan merasakan ketika berinteraksi dengan hasil produk kamu nantinya, GenK.

5. Test

Tahap yang terakhir adalah test. Dari produk prototipe yang sudah kamu buat, maka selanjutnya yang harus kamu lakukan adalah membuat percobaan langsung dengan pengguna. 

Misal ternyata hasilnya masih ada yang kurang, maka akan dilakukan perubahan dan penyempurnaan untuk pada akhirnya berhasil menyingkirkan masalah yang menjadi fokus utama pembuatan produk ini.

Kalau sudah begini, user pun akan loyal untuk menggunakan produkmu, GenK.

Baca Juga   5 Ide Acara Bukber yang Seru dan Anti Boros

Berpikir Desain Secara Non-Linear

Dari kelima tahapan berpikir di atas, sebenarnya bisa kamu ubah urutannya loh. Tidak selamanya saklek berurutan seperti itu. Karena pada dasarnya proses ini dilakukan dengan cara yang fleksibel alias non-linear.

design thinking 8

Pola non-linear (sumber: interaction-design.org)

Jika kreativitas mandek di tahap ideate, kamu bisa balik lagi ke tahap empathise. Kemudian jika kamu mentok di tahap test, kamu bisa balik lagi ke tahap ideate. Begitu pula pada tahap yang lainnya.

Tidak ada aturan yang pasti soal urutan design thinking. Jadi gak masalah, GenK. Bagaimanapun cara yang kamu pilih, yang terpenting kamu nyaman dan akhirnya dapat memecahkan masalah.

Design Thinking, Soft Skill Wajib untuk Generasi Milenial

Saat kamu melamar kerja ada dua hal yang menjadi pertimbangan, yaitu hard skill dan soft skill. Keduanya wajib banget kamu miliki. Salah satu soft skill yang menjadi incaran para perekrut masa kini adalah calon pelamar yang memiliki design thinking.

Setiap hari kamu dituntut untuk terus mengeluarkan ide-ide baru. Jika kamu tidak mampu memecahkan masalah bakalan repot banget deh.

Untuk dapat menghasilkan sebuah ide kreatif, pola pikir kamu juga harus kreatif. Supaya kamu dapat menyelesaikan setiap tantangan dengan cara yang kreatif dan inovatif.

Hayo.. kalau kamu sudah bisa berpikir dengan pola demikian belum, GenK?


Sekarang kamu jadi tahu kan apa itu design thinking dan apa saja tahapannya. Intinya kamu mesti tahu apa kemauan dan kebutuhan pasar. Dengan begitu akan lebih mudah saat kamu merealisasikan sebuah desain produk.

Tentang Penulis

Yurista Andina atau yang kerap disapa dengan Yuri ini merupakan lulusan Desain Komunikasi Visual. Dari hobi, kini menulis telah menjadi passion yang digeluti oleh perempuan penggemar musik K-Pop ini. Saat ini ia bekerja sebagai Content Writer di Kreativv ID. Saat tidak disibukkan dengan pekerjaan kantor, ia sering menghabiskan waktu untuk menulis cerita fiksi.

Tulis Komentar

Artikel Terkait
GenK LIFE

7 Jenis Pekerjaan dalam Satu Tim Produksi Animasi

GenK LIFE

5 Cara Menambah Followers Twitter ala kreativv ID

GenK LIFE

4 Profesi Kekinian di Industri Kreatif yang Bisa Kamu Coba

GenK LIFE

Serba Bisa dengan 3 Hard Skill Serbaguna di Industri Kreatif

GenK LIFE

7 Jenis Profesi Buat Kamu yang Hobi Menulis

GenK LIFE

5 Tips Facebook Marketing untuk Membangun Brand-mu

GenK LIFE

5 Tips Kreatif Main Instagram agar Kontenmu Lebih Menarik

GenK LIFE

Cara Membuat Form Online Praktis dan Gratis

GenK LIFE

Mengenal Apa Itu Copyright, Anak Kreatif Wajib Tahu

GenK LIFE

Kepribadian Pekerja Kreatif Berdasarkan Golongan Darah

GenK LIFE

10 Ciri Orang dengan Intuisi Tinggi yang Berani Mewujudkan Idenya

GenK LIFE

Mengenal Apa Itu Art Block dan Cara Mengatasinya

GenK LIFE

5 Jenis Pekerjaan Buat Kamu yang Hobi Menggambar

GenK LIFE

Yuk Belajar Cara Membuat Kalender Sendiri

GenK LIFE

5 Cara Tepat dan Mudah Belajar Mengetik Cepat

GenK LIFE

Apa Itu Meme? Budaya Komunikasi Kekinian Anak Milenial

GenK LIFE

5 Alasan Kenapa Self-Talk Bisa Bikin Hidup Lebih Tenang

GenK LIFE

Memahami Fobia Generasi Milenial: dari FOMO hingga Jomblo

GenK LIFE

Baru Mulai Bisnis? Yuk Baca Cara Jualan Online Lengkap!

GenK LIFE

Mengenal Eustress, Stres yang Baik Untukmu

            Artikel Selanjutnya     
kid logo
Mau inspirasi ngalir deras,
kreativitas anti mandek?
Dapetin newsletter gratis dan undangan eksklusif ke acara-acara kreativv ID!

 
close-link