Memahami Fobia Generasi Milenial: dari FOMO hingga Jomblo

Dibaca Normal: 8 menit aja ★
fobia generasi milenial

Apa yang terlintas di pikiranmu bila mendengar kata generasi milenial?Anak gaul zaman now yang hidupnya menjadi serba mudah berkat adanya teknologi? Mereka yang mau apa pun jadi lebih gampang tanpa perlu repot? Di balik kesan negatifnya, tanpa disadari, ada banyak tantangan dan ketakutan yang sering menghantui para millennials loh.

Dunia, dalam era baru teknologi seperti sekarang, dikuasai oleh generasi milenial. Dengan bantuan teknologi, kesempatan mereka untuk berkembang seakan tak ada habisnya. Ini nih, GenK, yang bikin generasi ini melahirkan banyak perubahan.

Perubahan tersebut membawa banyak dampak positif serta tantangan baru nih, untuk millennials. Tantangan yang ada salah satunya adalah ketakutan berlebih para millennial akan banyak hal, atau bisa disebut fobia.

Apa sajakah fobia baru yang dihadapi oleh generasi milenial? Mari kita cari tahu bersama, GenK!

Siapa Itu Generasi Milenial?

generasi milenial 1

Generasi milenial berkembang bersama teknologi (sumber: unsplash.com)

Anak milenial, istilah tersebut tentu sudah sering kamu dengar melalui banyak sumber. Biasanya sih, kata ini identik dengan anak-anak gaul canggih dengan kemajuan teknologinya. Atau, anak-anak yang selalu terkungkung di depan layar gadget mereka setiap harinya tanpa peduli lingkungan sekitar.

Benarkah demikian?

Tahukah kamu siapa sebenarnya para Generasi Milenial itu?

Generasi milenial atau Generasi Y merupakan sebutan yang digunakan untuk menunjuk kepada orang-orang yang lahir dari rentang waktu awal tahun 1990-an hingga awal tahun 2000-an.

Para millenials, sebutan khas mereka, merupakan generasi yang lahir, tumbuh, dan berkembang bersamaan dengan teknologi. Mulai dari komputer, ponsel, hingga TV, kamu harus bersyukur bisa terlahir pada saat-saat emas ini, GenK.

Generasi milenial menjadi saksi perubahan zaman menuju ke era yang lebih maju dengan revolusi yang dibawa oleh teknologi, yaitu era industri 4.0. Kemajuan yang ada membuat para millennial berada pada kondisi dan situasi dunia yang sama sekali berbeda dengan generasi sebelumnya.

Perbedaan tersebut dapat dilihat dari pergantian budaya dan perubahan pada tatanan kehidupan yang menjadi dampak dari era milenial baru ini. Dengan demikian, tantangan yang dihadapi oleh generasi milenial pun juga turut berubah.

Beberapa tantangan yang ada acap kali menjadi ketakutan bahkan fobia bagi para millennials.

Baca Juga
Cara Menjalani Gaya Hidup Minimalis Tanpa Membebani Diri

Apa Itu Fobia?

generasi milenial 2

Penglihatan kabur adalah salah satu gejala fobia (sumber: unsplash.com)

Siapa yang takut dengan laba-laba? Kakinya ada 8, dan merayap di dinding.

Atau setelah menonton film IT, kamu merasa jadi trauma dan gemetaran saat melihat badut?

Mungkin kamu merasa jijik saat melihat banyak lubang kecil yang berdekatan? Perut menjadi mual dan merasa ingin muntah?

Itu semua adalah fobia, GenK.

Fobia adalah ketakutan seseorang yang berlebihan terhadap sesuatu baik berupa binatang, objek, tempat, hingga situasi tertentu. Ketakutan yang muncul bukan karena sebatas berani atau tidak nih, tapi karena tubuh juga ikut bereaksi dari kontak dengan sumber ketakutan tersebut.

Upaya yang dapat dilakukan untuk menghindari hal-hal tersebut adalah dengan mencoba menghindari sumber dari ketakutan. Atau pada banyak kasus juga dapat melalui terapi khusus untuk menyembuhkan fobia.

  • Macam-macam fobia

generasi milenial 3

Acrophobia, takut akan ketinggian (sumber: pexels.com)

Fobia merupakan salah satu jenis gangguan kecemasan yang dihadapi oleh banyak orang di seluruh dunia. Setiap orang memiliki alasan masing-masing akan ketakutannya terhadap sesuatu.

Fobia umumnya dapat disebabkan oleh trauma dari pengalaman buruk di masa kecil atau juga faktor genetis dan lingkungan. Orang tua yang memiliki fobia ketinggian (akrofobia) berpotensi untuk memiliki keturunan yang juga dapat mempunyai fobia serupa.

Setiap orang memiliki ketakutan akan hal-hal yang berbeda. Tapi ada juga fobia yang umum ditemukan pada banyak orang, yaitu diantaranya:

  • Klaustrofobia. Ketakutan akan ruangan yang sempit atau terisolasi.
  • Aerofobia. Ketakutan untuk terbang, atau naik pesawat.
  • Arachnofobia. Ketakutan terhadap laba-laba.
  • Akrofobia. Ketakutan akan ketinggian, atau tempat-tempat yang tinggi.
  • Tripanofobia. Ketakutan disuntik atau jarum suntik.
  • Mysophobia. Ketakutan akan terkena kuman dari menyentuh benda-benda kotor
  • Astrafobia. Ketakutan akan guntur atau kilat.
  • Cynophobia. Ketakutan akan anjing.

Fobia Kekinian Generasi Milenial

Para anak muda zaman sekarang seringkali dihadapi dengan berbagai macam masalah di sekitarnya. Mulai dari kehidupan sosial maupun oleh karena dampak perkembangan teknologi. Hal ini disebabkan perubahan pola sosial yang ada di masyarakat.

Perubahan sosial pada generasi milenial terjadi sebagai akibat dari banyak faktor, yang salah satunya dipengaruhi oleh kemajuan teknologi, GenK. Perkembangan teknologi tak hanya mengenai peningkatan kualitas hidup, namun juga ada dampak sosial yang ditimbulkan karenanya.

Kemunculan media sosial misalnya, merupakan fenomena yang telah membawa kita pada kehidupan kita saat ini. Namun bersamanya, juga dapat disaksikan banyak efek baik positif dan negatif dalam kehidupan sosial kita.

Sebagai pemain utama di era ini, generasi milenial juga menerima akibat dari perubahan yang dibawa oleh berkembangnya teknologi dan pergeseran sosial yang terjadi. Salah satu efek yang bisa kita saksikan adalah cara pandang hidup millennials yang berbeda nih.

Cara pandang dan gaya hidup yang berbeda membuat millennials juga mendapati ketakutan dalam perubahan tersebut. Ketakutan hingga fobia pun muncul akibat dari beragam hal. Apa sajakah fobia yang sering dihadapi oleh generasi milenial? Ini dia, GenK.

Baca Juga
Tips Waktu dan Jenis Olahraga Saat Puasa

1. Gamophobia, Fobia Komitmen

generasi milenial 4

Gamophobia, takut akan pernikahan (sumber: pexels.com)

Pernikahan merupakan salah satu babak hidup yang dilewati oleh banyak orang. Pilihan hidup ini dianggap suci dan sakral bagi kebanyakan orang, khususnya orang tua kita zaman dulu. Tapi untuk generasi milenial, ceritanya beda lagi, GenK.

Ikatan suci pernikahan menjadi ketakutan bagi banyak orang, khususnya para generasi milenial. Gamophobia diambil dari kata dalam bahasa Yunani yaitu gamos yang berarti menikah. Fobia ini adalah ketakutan berlebihan akan pernikahan, atau lebih spesifik, komitmen.

Ketakutan yang muncul dari gamophobia adalah kecemasan untuk bersama dengan seseorang seumur hidupnya. Dari bangun tidur hingga tidur lagi, yang kamu lihat orang itu lagi, orang itu lagi.

Para pengidap gamophobia dapat memiliki hubungan dengan dengan seseorang, namun paling anti dengan yang namanya bahasan pernikahan. Orang tersebut akan berusaha untuk tidak membicarakan hal-hal yang berujung pada topik pernikahan.

Fobia ini juga terkait dengan ketakutan untuk mempercayai orang lain atau pistanthrophobia. Kamu jadi susah untuk yakin dan menaruh kepercayaanmu pada orang lain. Selain pistanthrophobia, ada banyak lagi faktor yang menyebabkan gamophobia.

Penyebab gamophobia

Ketakutan akan pernikahan lebih sering dialami oleh pria dibanding perempuan, ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang menjadi takut akan pernikahan.

  • Personal insecurity. Saat berbicara tentang pernikahan, gambaran akan kehidupan dengan ratusan tanggung jawab langsung menggentayangi dirimu. Kamu mungkin berpikir kalau kamu belum siap untuk menanggung semua beban keuangan, perencanaan masa depan, dan dampak ke kehidupan pribadimu, GenK.
  • Insiden masa lalu. Gamophobia juga dapat terjadi disebabkan oleh peristiwa atau kejadian yang pernah kamu alami hidupmu. Bayang-bayang buruk dari kejadian traumatis seperti perceraian orang tua, melihat pasangan yang bertengkar, atau pengkhianatan bisa membuatmu berpikir dua kali untuk melaju ke jenjang pernikahan.
  • Depresi. Ketakutan akan pernikahan juga dapat disebabkan oleh kondisi depresi lainnya. Seseorang mungkin merasa takut untuk menikah karena rasa percaya diri yang rendah, merasa cemas, sampai ketidakmampuan untuk mengenal jati diri.

2. Anuptaphobia, Takut Jomblo

generasi milenial 5

Anuptaphobia, takut untuk jomblo (sumber: pexels,com)

Siapa yang jomblo angkat tangan? Pernahkah kamu merasa takut karena tidak adanya pasangan untuk menemani kamu makan, nonton, atau karena sering dikatain teman?

Bisa jadi kamu mengalami fobia yang satu ini, GenK. Namanya adalah anuptaphobia, fobia kamu, generasi milenial yang takut jomblo. Jika gamophobia buat kamu takut menikah, maka fobia yang satu ini bikin kamu gak betah lama-lama sendiri.

Anuptaphobia adalah ketakutan berlebihan yang dialami seseorang akan keadaan tidak memiliki pasangan atau lajang, alias jomblo. Para penderita anuptaphobia bukan hanya merasa tidak nyaman karena menjadi jomblo, tapi juga takut akan akan menjadi jomblo seumur hidup nih.

Ketakutan ini dapat muncul karena kamu percaya kalau kamu tidak memiliki hubungan, kamu pasti akan kesepian dan sengsara. Pikiran lainnya yang juga dapat menyebabkan fobia ini adalah ketakutan akan menikahi orang yang salah.

Penyebab anuptaphobia

Jika pada gamophobia mayoritas penyebab ketakutannya adalah pada pola pikir individu, anuptaphobia adalah kebalikannya nih. Fobia anti-jomblo banyak diakibatkan oleh tekanan dan persepsi yang kamu terima lingkungan dan orang-orang sekitarmu, GenK.

Skenario seperti ini pasti familiar untuk beberapa orang:

Mudik ke kampung halaman saat lebaran, pas lagi kumpul keluarga, banyak sanak saudara, tante dan om yang juga hadir. Lagi duduk makan kue, terus dikerumuni sama tante.

Pacar kamu mana?

Kapan nikah nih?

Pasti kesal dong dengan pertanyaan seperti itu. Skenario di atas adalah salah satu contoh faktor yang dapat membuat para milenial takut untuk men-jomblo. Tekanan yang ada dari keluarga, maupun teman bisa membuatmu merasa tidak enak, dan merasa memiliki kewajiban untuk segera punya pasangan.

Bukan cuma sekedar ingin terlepas dari status single, bahkan kalau bisa juga ingin secepatnya menikah dan membangun bahtera rumah tangga. Kamu membayangkan kehidupan bak dongeng dengan akhir yang happy ending.

Hal-hal tersebut dapat membuatmu merasa tidak lengkap dan seakan-akan hampa karena kurangnya belahan jiwa mendampingi. Alhasil, kamu selalu takut jika berada pada posisi sendiri tanpa pasangan.

Baca Juga
Mengenal Eustress, Stres yang Baik Untukmu

3. Nomophobia, Takut Jauh dari HP

generasi milenial 6

Nomophobia, takut jauh dari HP (sumber: pexels.com)

Stereotip paling mudah dikaitkan dengan kata generasi milenial, takut jauh-jauh dari HP. Satu jam saja tangan tak memegang smartphone kesayangan rasanya ada yang kurang.

Nomophobia adalah singkatan dari no-mobile-phone phobia, jenis ketakutan yang membuat seseorang tidak tahan berlama-lama tanpa ponsel. Perasaan yang menjadi tidak enak, pikiran melayang kemana-mana, hati menjadi gelisah. Semua diakibatkan saat tidak menggunakan HP.

Fobia ini dapat dikatakan paling lumrah ditemui pada millennials yang memang menjadikan ponsel sebagai salah satu kebutuhan utama. Khususnya generasi milenial yang berusia remaja.

Fenomena munculnya nomophobia terjadi di berbagai negara dengan perkembangan industri telekomunikasi maju. Murah serta mudahnya akses untuk membeli telepon genggam membuat benda mungil tersebut dapat dimiliki oleh semua orang dari berbagai kalangan.

Hal inilah yang membuat HP menjadi alat yang wajib dimiliki oleh setiap orang, tanpa terkecuali para milenial. Fungsi telepon genggam tak hanya sekadar sebagai alat komunikasi, tapi juga penunjang kebutuhan gaya hidup.

Kecanduan yang ditimbulkan dari keseringan menggunakan HP, menyebabkan terjadinya ketakutan saat tidak menggunakan atau bahkan hanya menggenggamnya. Kamu akan merasa cemas saat melupakan smartphone kesayanganmu di rumah, dan akan berusaha untuk pulang demi mengambilnya.

Penyebab nomophobia

Perubahan yang terjadi dengan adanya kemajuan teknologi adalah pada pergeseran budaya dan gaya hidup. Generasi milenial yang memang setiap hari selalu berkutat dengan teknologi tentu tak dapat dipungkiri dapat mengalami ketergantungan.

Perasaan ketergantungan akan ponsel muncul dari hilangnya kebiasaan yang sering dilakukan. Misalnya para penggemar media sosial takut tidak dapat melihat foto selebriti favoritnya.

Pecinta game tak bisa menjalankan permainan kesukaannya. Hingga para pekerja yang takut ketinggalan berita terbaru atau email yang masuk. Semua keadaan tersebut adalah gejala Fear of Missing Out (FOMO).

FOMO adalah kondisi berupa kecemasan yang timbul akibat rasa takut ketinggalan informasi tertentu.

Kamu dapat mengalami FOMO saat terus-terusan terpapar dengan fantasi yang ditampilkan di berbagai platform internet khususnya media sosial. Gambar yang menunjukan kebahagiaan orang lain saat sedang liburan atau orang yang memiliki wajah cantik dapat membuat persepsimu berubah.

Patokan yang kamu gunakan dalam keseharianmu akan merujuk pada apa yang ditampilkan di sosial media. Gaya hidup ikut berubah dan hati menjadi iri serta tidak puas dengan apa yang kamu miliki saat ini.

Baca Juga
4 Tips Jadi Fotogenik untuk Tampil Menawan di depan Kamera

Menjadi Millennial yang Lebih Baik

generasi milenial 7

Lingkaran pertemanan positif dapat membantumu menjadi lebih baik (sumber: pexels.com)

Sebagai seorang milenial, hal yang bisa kamu lakukan untuk dapat terhindar dari fobia-fobia di atas adalah dengan mengembangkan pribadi kamu menjadi versi yang lebih baik. Selalu bersyukur dan percaya dengan diri sendiri adalah kunci utama yang wajib untuk kamu miliki.

Pilihlah grup pertemanan yang bisa memberikan kamu dukungan dan semangat. Lingkungan pertemanan yang baik dapat membawa pengaruh besar terhadap pola pikir dan gaya hidup yang kamu jalani.

Saat kamu mengalami stres, cobalah untuk tenang dengan kenali penyebabnya. Lakukanlah hal-hal yang kamu senangi agar tekanan yang ada dapat ubah menjadi stres yang baik. Selalu berusaha untuk berpikir positif juga gak kalah penting tentunya.

Ingatlah, setiap orang punya tujuan dan jalan hidup yang berbeda-beda. Tidak perlu meniru orang lain. Jadilah dirimu sendiri. Luangkan waktu untuk dirimu sendiri dan berikan apresiasi yang pantas atas hasil kerja kerasmu.

Pelan-pelan ubahlah pola hidupmu menjadi lebih baik. Bisa kamu awali dengan puasa media sosial selama beberapa jam, satu hari, beberapa hari, minggu, hingga bulan. Dijamin deh, hidup kamu akan terasa lebih tenang dan bahagia.


Itu dia, GenK, fobia yang sering dialami oleh generasi milenial. Kenali dirimu sendiri dan belajarlah untuk tetap stay positive!

Ditulis Oleh

Wahyu Ramadhan adalah alumnus dari jurusan Bahasa Prancis, Universitas Gadjah Mada. Saat ini ia bekerja sebagai Content Writer di Kreativv ID. Hobi menulisnya berkembang sejak ia duduk di bangku SMA hingga sekarang. Dengan menulis, ia dapat belajar banyak hal baru dan berbagi ilmu yang dimilikinya dengan orang banyak. Pemuda yang menyukai warna merah ini senang membaca buku dan belajar hal baru dengan ditemani segelas susu atau jus jambu.

Tulis Komentar

Artikel Terkait
GenK LIFE

5 Cara Ampuh Supaya Terhindar dari Toxic Positivity

GenK LIFE

Alasan Kenapa Kamu Harus Tahu Toxic Positivity

GenK LIFE

Yuk Intip Tips dan Cara Mendapat Uang dari Podcast!

GenK LIFE

7 Rekomendasi Podcast Terbaik Penuh Faedah Buat Anak Kreatif

            Thank u, next!     
Mau inspirasi mengalir deras dan kreativitas anti mandek? Dapetin kurasi konten berkualitas dan undangan eksklusif ke acara-acara seru kreativv ID!
close-link