leadersingle

Apa yang Dimaksud Dengan False Positive dan False Negative Saat Rapid Test COVID-19

Dibaca Normal: 3 menit aja

Jumlah kasus positif COVID-19 di dunia, khususnya Indonesia kian hari mengalami kenaikan. Dalam upaya menangani penyebaran yang semakin luas, ada banyak langkah yang dijalankan, mulai dari memberlakukan physical distancing hingga melakukan rapid test.

Seperti diketahui, pemerintah mulai menggunakan metode pemeriksaan rapid test untuk menemukan kasus COVID-19 secara cepat dan masif. Alat tes ini didapatkan setelah mengimpor sebanyak 500 ribu unit dari Tiongkok yang kemudian disebarkan ke beberapa rumah sakit. Lalu, agar kamu tidak keliru, berikut penjelasan tentang rapid test yang harus kamu tahu.

Apa itu Rapid Test?

Ilustrasi rapid test. (Sumber: Shutterstock)

Rapid test merupakan tes yang menggunakan sampel darah untuk menguji apakah seseorang positif COVID-19. Cara kerja rapid test adalah dengan mendeteksi immunoglobulin. Immunoglobulin adalah antibodi yang terbentuk oleh seseorang saat terinfeksi yang bisa dideteksi di darah.

UPDATES

Slider

UPDATES

Slider

Alat rapid test Sensing Self ini juga diketahui telah mendapatkan lisensi edar dari tiga pasar penting di dunia, yaitu Eropa (mendapatkan sertifikasi CE) dan India disetujui oleh (National Institute of Virology dan Indian Council of Medical Research). Tak hanya itu,  Amerika Serikat (FDA) juga telah mengeluarkan lisensinya walaupun dengan syarat bahwa penggunaannya harus dilakukan di lembaga medis formal.

Dalam mendapatkan hasil,  rapid test dapat langsung keluar hanya dalam waktu 15-20 menit serta bisa dilakukan dimana saja. Walau demikian, rapid test juga nemiliki satu kelemagan. Kelemahan rapid test adalah bisa menghasilkan ‘false negative‘ ataupun ‘false positive‘.

Baca Juga
5 Racikan Jamu Tradisional untuk Daya Tahan Tubuh Saat COVID-19

Apa itu ‘false negative‘ dan ‘false positive‘?

Ilustrasi tes COVID-19. (Sumber: 123rf)

Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik dan Kedokteran Laboratorium Indonesia (PDS PatKlin) Profesor Dr dr Aryati MS SpPK(K) dalam keterangan tertulisnya, Kamis (19/3/2020), mengatakan bahwa rapid test IgM/IgG SARS-CoV-2 untuk deteksi COVID-19 dengan pengambilan darah sampel seseorang, memiliki keterbatasan.

Keterbatasan tersebut berupa hasil pemeriksaan yang didapatkan dalam waktu 15-20 menit. Hasil pemeriksaan false positive tidak berarti seseorang benar-benar terinfeksi SARS-CoV-2. Sementara, false negative tidak berarti seseorang tak terinfeksi. Hal ini juga patut untuk dipertimbangkan untuk mendeteksi antibodi karena validitas yang belum diketahui hingga menyulitkan interpretasi.

Berbagai hal yang dapat menyebabkan false positive adalah:

  • Kemungkinan cross reactive antibody dengan berbagai virus lain (coronavirus, dengue virus)
  • Infeksi lampau dengan virus corona.

Selain itu, ada juga berbagai hal yang dapat menyebabkan hasil false negative, seperti:

  • Belum terbentuk antibodi saat pengambilan sampal (masa inkubasi)
  • Pasien mengalami gangguan antibodi (immunocompromised).
Baca Juga
Banyak Jadi Perbincangan, Ini Dia 4 Aplikasi yang Dapat Lacak COVID-19

Quizzes

Slider

Quizzes

Slider
Artikel Terkait
GenK LIFE

7 Cara Mengatasi Serangan Panik dan Cemas yang Berlebihan

GenK LIFE

Kenapa Zona Waktu di Indonesia dibagi Menjadi Tiga? Ini Dia Penjelasannya!

GenK LIFE

Apa itu Herd Immunity dan Kenapa Dihubungkan dengan Corona?

GenK LIFE

5 Cara Aman dan Baik Bersihkan Telinga

GenK LIFE

5 Ide Acara Bukber yang Seru dan Anti Boros

GenK LIFE

Inilah Waktu Terbaik Saat Sahur yang Harus Kamu Tahu

      TRENDING
#CoronaVirus
Next >>