Manajemen Perhatian agar Mengerjakan Tugas Lebih Efisien

Dibaca Normal: 5 menit aja 😊
manajemen perhatian untuk mengerjakan tugas

Untuk sebagian orang, mengerjakan tugas berhubungan erat dengan manajemen waktu. Tapi kenapa tugas rasanya tidak habis-habis, sementara jumlah jam setiap hari tidak bertambah? Kita jadi tidak bisa benar-benar menikmati beberapa menit untuk rileks dan istirahat cukup. Kalau kamu sering mengalami hal seperti itu, coba deh latihan manajemen perhatian.

Kalau kamu merasakan guilty feeling seperti ini, padahal udah usaha baik-baik untuk mengatur jadwal, jangan sedih. Banyak orang juga merasakan hal yang sama. Dan opsi baik lainnya juga tersedia: attention management alias manajemen perhatian. Kalau kamu bisa memfokuskan perhatian pada satu tugas di momen yang tepat, waktu rasanya tidak sesempit itu, GenK.

Manajemen Perhatian, Buat Apa?

Seringkali hari kita diatur oleh waktu. Tugas diselesaikan sebelum makan siang, tugas dikumpulkan dalam satu jam, sementara  targetnya adalah minimal 1000 kata. Beberapa teman sudah mulai mengetik tugas, sementara kita masih berkutat dengan mencari referensi yang tepat, sambil memikirkan makan siang apa nanti.

mengerjakan tugas 6

Mengerjakan tugas (Sumber: heart.org)

Psikolog organisasi Adam Grant dalam buku Give and Take menyebut,  tidak jarang kita ingin melakukan sesuatu yang seimbang: secara personal menarik, tapi juga dianggap baik oleh orang yang menilai pekerjaan kita. Tapi mengerjakan sesuatu yang dianggap baik dalam standard orang lain belum tentu menarik buat kita.

Akibatnya, perhatian kita mudah terdistraksi dengan memikirkan hal-hal yang menarik secara personal kayak makan siang tadi.

Ini tidak salah kok, GenK. Pada dasarnya, manusia memang tertarik pada hal-hal yang mencuri perhatiannya secara personal. Tapi, kita jangan sampai membiarkan fokus kita terhadap tugas kalah dengan fokus kita terhadap urusan lain. Karena itulah manajemen perhatian jadi penting untuk dipelajari, agar tugas-tugas bisa tetap selesai dengan efisien.

Menjajal Manajemen Perhatian

Ketika tugas kian sulit selesai karena perhatian kita terus-menerus terdistraksi, coba kesampingkan dulu  teori-teori manajemen waktu.

Alih-alih, fokuslah pada memunculkan motivasi untuk memusatkan perhatian pada satu tugas tersebut.

Baca Juga   3 Cara Belajar Efektif lewat Gambar yang Bikin Kamu Semangat!

Grant sendiri memulainya dengan bertanya pada dirinya sendiri: kenapa ia secara personal mau menyelesaikan tugasnya itu?

Kenapa dia semula mau ambil project itu?

Mungkin karena ada pelajaran yang bisa dia tarik selama meriset referensi. Mungkin kalau tugas ini sudah selesai, bisa di-share ke publik dengan bentuk lebih sederhana, sehingga lebih membantu.

Apapun motivasi yang muncul di kepalamu setelah bertanya pada diri sendiri, bermanfaat buat membantu menyelesaikan tugas.

Sebab, seringkali, kita kesulitan untuk jadi produktif bukan karena kita lelet atau tidak efisien, tapi karena kurang motivasi.

Nah, di manajemen perhatian, terlepas dari punya motivasi atau tidak, kita harus fokus dengan target menjadi produktif. Kamu harus benar-benar bisa mendorong diri sendiri untuk menyelesaikan tugas.

Kalau kamu punya dorongan diri sekuat itu, bagus. Kalau tidak, ini cara untuk menjajal manajemen perhatian agar tugasmu bisa selesai dengan efisien:

1. Fokus sama alasan kenapa kamu awalnya mau, tertarik, atau bahkan semangat mengerjakan penugasan ini

mengerjakan tugas 1

Ilustrasi fokus (Sumber: muzhofcom)

Motivasi semacam ini jadi pembakar semangat kamu untuk menuntaskan tugas. Motivasi lainnya juga bisa tumbuh dengan mengingat-ingat siapa saja yang bisa mendapat manfaat positif dari selesainya tugas kamu, dan mendapat manfaat dari isi hasil tugas kamu.

Dengan begitu, kamu bisa menumbuhkan motivasi intrinsik untuk memfokuskan perhatian sama satu tugas itu hingga selesai.

2. Cuaca buruk pun memotivasi

mengerjakan tugas 2

Cuaca buruk (Sumber: beritasemarang.net)

Motivasi bisa tumbuh semakin kuat saat cuaca buruk mendukung. Yep, kamu tidak salah baca. Penelitian Jooa Julia Lee dkk. dalam Journal of Applied Psychology menemukan bahwa cuaca jelek ternyata meningkatkan produktivitas kita. Temuan ini berlaku untuk orang-orang yang biasa bekerja di dalam ruangan ya, GenK.

Penelitian berjudul  Rainmakers: Why Bad Weather Means Good Productivity menjabarkan, potensi distraksi kita jadi jauh berkurang karena cuaca di luar sedang jelek. Jika cuaca sedang bagus, otak kita rupanya cenderung mudah terdistraksi dengan memikirkan kegiatan yang seru dan bisa dilakukan saat itu. Contoh, jalan ke luar kantor, bertandang ke meja rekan, dan memesan makanan dari luar.

Baca Juga   Kenapa Kamu Harus Punya Tujuan Hidup?

Temuan ini berbeda dengan kepercayaan umum yang meyakini bahwa cuaca buruk berkaitan dengan produktivitas yang rendah. Alih-alih, keinginan untuk hang out ke luar, jajan cemilan, atau merokok jadi berkurang, sehingga rentang perhatian dan fokus kita pada tugas jadi lebih panjang.

Alhasil, penyelesaian tugas kita jadi lebih efisien dan kita jadi lebih produktif. Jadi rupanya hujan deras tidak benar-benar membuat kita bermalas-malasan sambil makan mie rebus, GenK.

3. Jangan sisakan residu perhatian

mengerjakan tugas 3

Ilustrasi mengerjakan tugas (Sumber: learnenglishteens.britishcouncil.org)

Banyak orang berpikir, sebaiknya mengerjakan tugas yang paling menarik dulu baru lanjut ke yang membosankan.

Tetapi,  menurut penelitian Grant bersama Shin Ji Hae di Korea Selatan, pekerja yang melakukan tugas paling menarik dulu punya tingkat kinerja yang buruk saat melaksanakan tugas yang membosankan. Inilah yang dinamakan residu perhatian.

Residu perhatian merupakan rasa ketertarikan kita pada suatu tugas, sehingga masih membayangkannya meskipun tugasnya sudah selesai. Alhasil, fokus perhatian pada tugas membosankan yang selanjutnya dikerjakan jadi terpecah.

Jika rasanya sama sekali tidak bersemangat memulai tugas yang membosankan, bisa melakukan hal menyenangkan dulu yang bukan tugas. Menonton video, contohnya. Kemudian, baru tonton video yang paling lucu setelah tugas membosankan selesai, sebagai bentuk hadiah.

4.Alokasikan jamnya distraksi

mengerjakan tugas 4

Waktu (Sumber: usatoday.com)

Nah, jika manajemen waktu mengharuskan kamu mengesampingkan segala rupa distraksi, manajemen perhatian mengharuskan kamu mengalokasikan waktu untuk distraksi.

Contoh, ketika kamu sedang menunggu kereta, atau sedang istirahat setelah olahraga. Waktu luang terbatas ini bisa kamu manfaatkan untuk scrolling laman Instagram atau posting konten.

5. Dengarkan sinyal tubuh

mengerjakan tugas 5

Ilustrasi dengarkan sinyal tubuh (Sumber: usatoday.com)

Kerja kreatif dan kerja produktif punya strategi pengaturan fokus yang berbeda. Produktivitas meningkat ketika filter terhadap distraksi juga ditingkatkan. Di sisi lain, kreativitas meningkat ketika filter terhadap distraksi diturunkan, sehingga ide-ide bisa muncul dari beragam referensi lintas medium.

Tetapi tugas biasanya tidak sehitam-putih itu. Ada kerja kreatif yang membutuhkan efisiensi waktu tinggi, ada juga kerja produktif yang membutuhkan kreativitas tinggi.

Baca Juga   Apa Benar Night Owls Lebih Kreatif daripada Early Birds?

Kalau sudah begitu, coba dengarkan kata tubuhmu. Jika kamu terbiasa bangun pagi, kerjakan kerja produktif dahulu, baru kerja kreatif di siang hari. Buat seorang morning person, tingkat kesadaran paling tinggi ada di pagi hari, sementara pemikiran nonlinear untuk masuknya ide-ide kreatif baru lancar di siang hari.

Sementara itu, jika kamu terbiasa tidur larut malam, kerjakan tugas kreatif dulu, baru tugas-tugas analitis di sore dan malam hari. Buat seorang yang punya jadwal tidur kayak Batman, golden hours kreativitas kamu ada di pagi hari, dan paling alert kalau sudah menjelang sore.

Manfaat Manajemen Perhatian

Meski sekilas masih terikat dengan waktu sehari-hari,  manajemen perhatian berbeda dengan manajemen waktu. Mengatur perhatian lebih berfokus pada maksimalisasi pemusatan perhatian kita pada tugas dengan mendengarkan ritme tubuh, lingkungan pendukung, dan faktor-faktor yang tidak terikat pada jam semata. Manfaatnya pun beragam, di antaranya:

  1. Tingkat stres menurun karena tekanan waktu tak lagi begitu mengikat
  2. Level energi tubuh terjaga karena tidak melawan keinginan pikiran dan fisik
  3. Suasana hati terjaga karena kamu hanya akan bekerja saat kamu senang dan termotivasi melakukannya
  4. Waktu tidur terasa cukup karena kamu tidak melawan waktu tidur dan ritme tubuhmu
  5. Waktu refreshing terasa tetap tersedia karena kamu masih bisa melakukan leisure activities seperti berselancar di media sosial tetap bisa dilakukan ketika kamu sedang ingin melakukannya.


Nah, kamu baru saja kenalan lebih jauh dengan manajemen perhatian. Jika manajemen waktu cocok buat kamu, tetaplah di jalurmu.  Tetapi, kalau manajemen waktu terasa terlalu mengikat dan malah counterproductive, manajemen perhatian bisa jadi alternatif yang menyenangkan untuk mengerjakan tugas.

Tulis Komentar

Artikel Terkait
GenK LIFE

5 Alasan Kenapa Draw My Life Sangat Populer di YouTube

GenK LIFE

5 Rekomendasi Jenis Usaha Tanpa Modal lewat Online

GenK LIFE

Mengenal Apa Itu Influencer dan Cara Mudah Menjadi Influencer

GenK LIFE

4 Tips Public Speaking Efektif yang Patut Kamu Coba

GenK LIFE

3 Tips Cara Parafrase Ampuh Supaya Tulisanmu Bebas Plagiat

GenK LIFE

4 Tips Jadi Fotogenik untuk Tampil Menawan di depan Kamera

GenK LIFE

5 Cara Cepat Menghafal yang Paling Efektif, Kamu Wajib Baca

GenK LIFE

3 Gerakan Senam Otak Sederhana untuk Melatih Kreativitas

GenK LIFE

Mengenal Berbagai Macam Tipe Kecerdasan dan Gaya Belajar

GenK LIFE

5 Alasan Kenapa Orang Suka Foto di Kamar Mandi

GenK LIFE

Kenapa Milenial Hobi Travelling? Bukan Sekadar Tren Loh..

GenK LIFE

Cek Plagiat dengan Cara Ini, Biar Karyamu Gak Menyalahi Aturan

GenK LIFE

4 Alasan Kenapa Orisinalitas Itu Penting di Industri Kreatif

GenK LIFE

4 Trik Instastory Kekinian Buat Instagram Makin Kece

GenK LIFE

Gini Jadinya Kalau Kekuatan Superhero Bumilangit Dipakai Sehari-hari!

GenK LIFE

Mengenal Apa Itu Hashtag Serta Tips & Trik Cara Pakainya

GenK LIFE

7 Jenis Pekerjaan dalam Satu Tim Produksi Animasi

GenK LIFE

5 Cara Menambah Followers Twitter ala kreativv ID

GenK LIFE

4 Profesi Kekinian di Industri Kreatif yang Bisa Kamu Coba

GenK LIFE

Serba Bisa dengan 3 Hard Skill Serbaguna di Industri Kreatif

            Artikel Selanjutnya