fbpx

Kerja Terampil di Industri Kreatif dengan 4 Soft Skill Ini

Dibaca Normal: 7 menit aja 😊
soft skill industri kreatif

Bekerja dengan ide-ide baru memang selalu menyenangkan. Ini dia yang menjadikan bekerja di industri kreatif menarik. Kamu akan selalu ditantang untuk terus bereksplorasi dengan banyak hal seru. Untuk dapat menjawab tantangan-tantangan tersebut, ada beberapa soft skill yang harus kamu punya, GenK.

Industri kreatif merupakan dunia yang terus bergerak tanpa henti. Supaya kamu tetap bisa keep up dan berhasil di industri ini, kamu harus belajar dan mengasah beberapa soft skill khusus nih.

Eits, tapi sudah tahukan apa itu soft skill, dan perbedaannya dengan hard skill? Kalau belum, sini kami kasih tahu.

Hard Skill vs Soft Skill

soft skill 1

Hard skill vs soft skill (sumber: YouTube GCFLearnFree.org)

Setiap proses melamar kerja, kamu pasti akan ditanya mengenai hard skill dan soft skill. Kedua jenis skill tersebut wajib dimiliki oleh setiap orang di dunia kerja, GenK.  Lantas, apa sih perbedaan keduanya?

Hard skill adalah kemampuan yang bersifat teknis, bisa dilihat secara fisik, dan juga diukur. Kemampuan ini berhubungan dengan pengerjaan produk. Contohnya kemampuan bahasa, programming, mengetik, dan lainnya. Kamu dapat belajar hard skill melalui buku, ruangan kelas, maupun lewat training.

Sementara soft skill adalah kemampuan individual yang berhubungan dengan orang lain. Kemampuan ini bersifat subjektif dan lebih sulit untuk diukur daripada hard skill. Beberapa contoh soft skill yang biasa dicari yaitu kemampuan berkomunikasi, leadership, etika kerja, negosiasi, dan masih banyak lagi.

Nah, berikut beberapa jenis soft skill yang dapat kamu kembangkan untuk membantumu sukses di industri kreatif. Mari disimak!

Baca Juga   7 Jenis Profesi Buat Kamu yang Hobi Menulis

1. Design Thinking

Ide, ide dan ide. Tiada hari tanpa ide di dunia yang mengedepankan kreativitas. Bagi kamu yang bekerja di industri kreatif tentu sadar betul dengan hal ini.

Pola pikir para pekerja kreatif memang beda, GenK. Semua hal bisa disulap menjadi hal lainnya atau dilakukan dengan cara yang baru. Inilah yang menjadi salah satu keistimewaan bekerja di industri kreatif.

Untuk menghasilkan suatu ide kreatif, pola pikir juga harus kreatif dong. Pola pikir kreatif juga berguna untuk menyelesaikan sebuah tantangan dengan cara kreatif. Untuk itu kamu harus harus belajar skill yang satu ini, namanya design thinking.  

Design thinking merupakan sebuah metode penyelesaian masalah berbasis penggunanya. Metode ini, seperti namanya, banyak digunakan oleh para desainer nih.

Para pengguna produk atau jasa yang kamu ciptakan tentu menghadapi masalah tertentu. Nah, kamu harus memastikan apa  yang kamu buat dapat berguna untuk mengatasi masalah tersebut, GenK.

Untuk itulah kamu memerlukan pendekatan yang berfokus pada kebutuhan mereka. Dengan begitu, hasil karya kamu dapat diterima dan berguna bagi para penggunanya.

5 Tahap Design Thinking

soft skill 2

Tahapan Design Thinking (sumber: uxplanet.org)

Proses dalam penyelesaian masalah menggunakan design thinking dilakukan dalam beberapa tahapan berikut:

  • Berempati. Ini adalah inti dari soft skill ini. Pahamilah kebutuhan para pengguna, apa yang mereka ingingkan, dan apa tujuan mereka. Kamu dapat melakukan riset untuk mengetahui hal-hal tersebut. Hasil dari tahapan ini adalah data penting untuk tahap-tahap selanjutnya
  • Definisikan. Setelah mendapatkan data dari tahapan empati, nyatakanlah masalahnya. Carilah sumber inti dari permasalahan yang dihadapi oleh para pengguna. Apa yang kesulitan mereka? Adakah pola khusus yang kamu temukan? Apa yang harus dilakukan oleh tim kamu dalam menyelesaikannya?
  • Buatlah ide. Kamu telah paham akan masalah yang dihadapi para pengguna, berikutnya cari solusi. Ini dia tahapan yang menguji kemampuan berpikir kreatifmu, GenK. Lakukanlah brainstorming dan mindmapping untuk menemukan solusi atas permasalah yang ada. Buatlah solusi untuk berbagai skenario yang mungkin terjadi.
  • Prototipe, Saatnya kamu mengimplementasikan ide yang kamu miliki dalam bentuk produk. Pada tahapan ini kamu akan mencoba solusi yang telah kamu buat untuk memecahkan masalah. Hasilnya adalah produk yang siap diuji coba.
  • Tes. Waktunya kamu untuk uji coba. Produk yang kamu telah hasilkan lalu akan digunakan pada masalah yang ada. Apabila produk tersebut dapat menjadi solusi masalahnya, maka kamu sudah berhasil nih. Jika belum, maka kembalilah pada tahapan sebelumnya dan cari tahu apa yang perlu diperbaiki.

2. Mental Elasticity

soft skill 3

Melatih Mental Elasticity dengan berpikir terbuka (sumber: dribble.com)

Kamu punya badan yang elastis? Ah, sudah biasa.

Kalau pikiran yang elastis? Itu baru luar biasa.

Tahukah kamu apa persamaan antara Albert Einstein dan Leonardo Da Vinci?

Sama-sama pintar? Betul sekali. Tapi, keduanya bisa pintar karena mereka punya satu kemampuan yang sama loh.

Mental Elasticity.

Kemampuan untuk mengubah pola pikir dan melihat sesuatu dari berbagai sisi, itu dia mental elasticity.  Sering juga disebut elastic thinking atau neuroplasticity.

Melalui soft skill ini, pikiranmu dapat terus berubah dan beradaptasi dengan tantangan yang baru. Pas banget pastinya bagi para pekerja kreatif. Otakmu akan dilatih untuk menjadi fleksibel, dan dapat berpikir dengan lebih luas.

1001 Solusi Dengan Mental Elasticity

Dengan memiliki mental elasticity, kamu akan menemukan 1001 jawaban atas berbagai hal. Otakmu akan dilatih untuk menjadi fleksibel dalam berpikir. Tidak terkekang oleh ‘standard’ yang ada.

Kamu dapat menemukan ide dan cara-cara yang out of the box dengan skill yang satu ini. Mental elasticity dapat dengan mudah dibentuk dan ditemukan pada usia anak-anak. Pada usia inilah otak manusia berkembang dengan sangat pesat.

Kamu dapat melatih otakmu untuk mengembangkan mental elasticity dengan tips berikut, GenK:

  • Mengubah rutinitas. Cara paling sederhana yang pertama adalah dengan merubah kebiasaanmu. Cobalah dengan mencari rute yang berbeda saat pergi ke kantor. Bagi yang suka ngegym, bisa mencoba untuk jogging di taman atau bersepeda.
  • “Pengalaman adalah guru yang terbaik”. Seperti kata pepatah, GenK, pengalaman bisa mengajarkanmu banyak hal.  Carilah pengalaman baru dengan travelling, belajar bahasa baru, atau mengambil kelas memasak.
  • Berpikir kreatif.  Nah, cara lain untuk mengembangkan mental elasticity adalah dengan berpikir kreatif. Cobalah metode anti-mainstream saat kamu melakukan sesuatu. Ciptakanlah hal baru yang unik dan berbeda dari yang lain.
  • Bertemu orang baru. Kamu bisa belajar banyak hal baru dari orang lain. Bertemanlah dengan orang dari budaya dan latar belakang yang berbeda dengan kita. Dengan demikian, kamu bisa melihat perspektif baru yang belum pernah kamu ketahui sebelumnya.
  • Transfer ilmu. Ajarkanlah kemampuan dan ilmu yang kamu miliki kepada orang lain. Jika kamu bisa mengajarkan ilmu yang kamu miliki ke orang lain, berarti kamu benar-benar menguasai ilmu tersebut. Selain bermanfaat untuk mereka, kamu juga bisa meningkatkan kapasitas dirimu, GenK.

Baca Juga   9 Cara Membuat CV Yang Menarik Perhatian Rekruiter

3. Stress Management

soft skill 4

Gambar manajemen stres (sumber: happening.pk)

STRES! Kapan aja, dan dimana aja, stres tak kenal waktu dan tempat. Siapa pun bisa mengalami stres. Salah satu penyebab banyak penyakit dan masalah-masalah lainnya juga nih.

Apalagi kamu yang bekerja di industri kreatif, yang serba cepat dan penuh dengan banyak tantangan. Sangat rentan untuk terkena stres karena berbagai hal.

Ide mandek, proposal ditolak, desain banyak revisi, sampai lembur yang gak dibayar. Ada aja saja hal yang bisa membuatmu stres. Akhirnya perfoma kerja menurun, gampang emosian, dan mudah terkena penyakit. Aduh, jangan sampai yah!

Supaya kamu bisa mengatasi stres, kamu harus belajar soft skill yang namanya stress management. Ini dia kemampuan yang dapat kamu gunakan untuk melawan stres, GenK. Apalagi kamu yang sedang menghadapi quarter life crisis.

Manajemen stres (stress management) adalah kemampuan untuk me-menage stres dan faktor-faktor yang dapat memicu terjadinya stres. Dengan menguasai kemampuan ini, kamu bisa meminimalisir dan menghindari terjadinya stres.

Melawan stres

Dalam manajemen stres, beberapa teknik dan cara yang bisa dilakukan yaitu:

  • Identifikasi penyebab stres. Cari tahulah sumber yang menyebab terjadinya stres atau stressor. Sumber stres dapat bersifat temporal seperti karena macet di jalan. Dapat juga yang bersifat integral seperti kerjaan di kantor.
  • Buatlah jurnal stres. Setelah kamu mengetahui sumber stresmu, tulislah di sebuah catatan bersama dengan perasaan dan dampak yang kamu rasakan. Lalu lengkapi juga bagaimana kamu merespons stres tersebut dan caramu untuk merasa lebih baik. Jadi kayak buku diary gitu, GenK.
  • Hindari penyebab stres. Jika kamu tahu sumber stres kamu, cobalah untuk menghindarinya. Beranilah untuk mengatakan tidak pada sesuatu yang tak mampu kamu lakukan. Tidak usah memaksakan diri untuk mengambil pekerjaan atau tanggung jawab yang akan memberatkanmu.
  • Work hard, play hard. Buat kamu yang sudah bekerja keras, berikanlah sedikit penghargaan untuk dirimu sendiri, GenK. Pergilah liburan ke destinasi impianmu, atau manjakan dirimu dengan perawatan kecantikan di akhir pekan. Menghargai diri sendiri itu wajib hukumnya loh.
  • Curahan hati. Iya, curhat memang obat paling mujarab untuk mengatasi stres. Dengan menceritakan masalahmu kepada orang lain, kamu akan bisa lebih lega. Kamu juga bisa mendapatkan solusi untuk menyelesaikan masalahmu. Tapi ingat nih, curhat-nya jangan ke semua orang yah.
Baca Juga   Meningkatkan Produktivitas dengan To Don’t List

4. Emotional Intelligence

soft skill 5

Menyeimbangkan Emosi dan Pikiran (sumber: enterprisersproject.com)

Kecerdasan emosional (emotional intelligence), merupakan soft skill untuk mengendalikan emosi dan perasaan dalam menghadapi berbagai situasi.

Tolak ukur yang biasa dipakai untuk mengetahui kecerdasan emosional seseorang disebut EQ (Emotional Quotient). Jika IQ (Intelligence Quotient) menunjukan level intelejensi seseorang, maka EQ menunjukan tingkat pengendalian emosi seseorang, GenK.

Beberapa ciri orang dengan kecerdasan emosional yang tinggi itu:

  • “Mulutmu, Harimaumu”. Selalu berpikir sebelum mengatakan sesuatu.
  • Memiliki empati. Mampu merasakan dan memahami perasaan orang lain.
  • Self-awareness. Sadar akan kelebihan dan kekurangan diri sendiri.
  • No baper. Dapat menahan perasaan pribadi agar tidak mempengaruhi tindakan dan cara berpikir.
  • Berkomitmen. Selalu berupaya untuk menjaga dan memenuhi komitmen yang telah dibuat.
  • Anti tempramental. Gak gampang emosian. 

Cara meningkatkan Emotional Quotient

Kamu bisa banget meningkatkan kecerdasan emosional kamu dengan beberapa cara nih, GenK:

  • Terbukalah dengan kritik. Jadikanlah kritik yang diberikan kepadamu sebagai pembelajaran untuk menjadi orang yang lebih baik.
  • Positive attitude. Latihlah sikap positifmu dengan meditasi, beribadah dan berdoa, atau tempelkan quotes positif di meja atau komputermu.
  • Jadilah pendengar yang baik. Cobalah untuk mendengarkan sesuatu dengan tujuan untuk memahami. Bukan sekadar mendengar untuk membalas. Always listening, always understanding.
  • Motivated. Jadilah motivasi untuk dirimu sendiri dan orang. Dorong dirimu sendiri untuk melakukan sesuatu tanpa berharap motivasi dari luar.
  • Supel. Orang dengan EQ yang tinggi biasanya mudah bergaul, dan gampang didekati. Mudah senyum juga loh.

Dengan mengasah EQ, kamu dapat menjadi orang yang lebih lebih peka dengan lingkungan sekitarmu. Kamu bisa merasakan apa yang dialami oleh teman sekantormu. Individu dengan EQ yang tinggi juga biasanya banyak disukai oleh orang lain. Berguna banget kan soft skill yang satu ini?


Soft skill di atas bisa sangat membantumu untuk bekerja lebih baik, GenK. Bukan hanya di industri kreatif, kamu bisa menggunakannya di bidang apa saja loh. Dengan mempelajari soft skill tersebut, kamu dapat meningkatkan nilai jual serta daya saing di dunia profesional.

Polling

 

Tentang Penulis

Wahyu Ramadhan adalah alumnus dari jurusan Bahasa Prancis, Universitas Gadjah Mada. Saat ini ia bekerja sebagai Content Writer di Kreativv ID. Hobi menulisnya berkembang sejak ia duduk di bangku SMA hingga sekarang. Dengan menulis, ia dapat belajar banyak hal baru dan berbagi ilmu yang dimilikinya dengan orang banyak. Pemuda yang menyukai warna merah ini senang membaca buku dan belajar hal baru dengan ditemani segelas susu atau jus jambu.

Tulis Komentar

Artikel Terkait
GenK LIFE

7 Jenis Pekerjaan dalam Satu Tim Produksi Animasi

GenK LIFE

5 Cara Menambah Followers Twitter ala kreativv ID

GenK LIFE

4 Profesi Kekinian di Industri Kreatif yang Bisa Kamu Coba

GenK LIFE

Serba Bisa dengan 3 Hard Skill Serbaguna di Industri Kreatif

GenK LIFE

7 Jenis Profesi Buat Kamu yang Hobi Menulis

GenK LIFE

5 Tips Facebook Marketing untuk Membangun Brand-mu

GenK LIFE

5 Tips Kreatif Main Instagram agar Kontenmu Lebih Menarik

GenK LIFE

Cara Membuat Form Online Praktis dan Gratis

GenK LIFE

Mengenal Apa Itu Copyright, Anak Kreatif Wajib Tahu

GenK LIFE

Kepribadian Pekerja Kreatif Berdasarkan Golongan Darah

GenK LIFE

10 Ciri Orang dengan Intuisi Tinggi yang Berani Mewujudkan Idenya

GenK LIFE

Mengenal Apa Itu Art Block dan Cara Mengatasinya

GenK LIFE

5 Jenis Pekerjaan Buat Kamu yang Hobi Menggambar

GenK LIFE

Yuk Belajar Cara Membuat Kalender Sendiri

GenK LIFE

5 Cara Tepat dan Mudah Belajar Mengetik Cepat

GenK LIFE

Apa Itu Meme? Budaya Komunikasi Kekinian Anak Milenial

GenK LIFE

5 Alasan Kenapa Self-Talk Bisa Bikin Hidup Lebih Tenang

GenK LIFE

Design Thinking, Skill Mencari Solusi yang Dibutuhkan di Zaman Sekarang

GenK LIFE

Memahami Fobia Generasi Milenial: dari FOMO hingga Jomblo

GenK LIFE

Baru Mulai Bisnis? Yuk Baca Cara Jualan Online Lengkap!

            Artikel Selanjutnya     
kid logo
Mau inspirasi ngalir deras,
kreativitas anti mandek?
Dapetin newsletter gratis dan undangan eksklusif ke acara-acara kreativv ID!

 
close-link