GenK LIFE

Viral Polusi Visual, Saatnya Belajar untuk Mencintai Diri Sendiri

viral polusi visual

Akhir-akhir ini lini masa media sosial sedang viral dengan pembahasan polusi visual. Apa itu polusi visual? Ternyata polusi visual sama dengan kegiatan shaming. Ada kalanya, seseorang terlalu senang memperhatikan kehidupan pribadi orang lain, sampai-sampai dia membandingkannya dengan apa yang menurutnya menjadi standar di dalam masyarakat. Dia pun mengatakan hal-hal yang membuat orang tersebut malu karenanya. Aktivitas shaming seperti ini juga biasa terjadi di kalangan wanita. Saat ini, masih banyak shaming yang dilakukan oleh wanita ke sesama wanita. Mungkin yang paling sering terjadi adalah body shaming, yang berarti memberikan komentar negatif tentang kondisi fisik seseorang.

Mengenal Lebih Jauh Tentang Shaming

mengenal shaming

sumber: pexels.com

Menurut Brené Brown, PhD, seorang peneliti, shame adalah “perasaan atau pengalaman yang sangat menyakitkan karena percaya bahwa kita memiliki kekurangan dan karena itu kita tidak layak untuk dicintai dan dimiliki.” Jadi, perasaan tersebut adalah ketakutan bahwa orang-orang tidak akan menyukai kita jika mengetahui suatu kebenaran tentang diri kita, siapa dan dari mana asal kita, apa yang kita yakini, hal-hal yang kita perjuangkan, atau bahkan betapa hebatnya kita saat sedang bekerja keras. Kita cenderung mengaitkan rasa malu dengan trauma besar atau peristiwa negatif yang terjadi, misalnya seperti masa kecil yang tidak menyenangkan, memiliki kecanduan, punya hutang banyak, kondisi fisik yang berbeda dan berbagai hal yang inginnya disembunyikan. Namun, sebenarnya merasa malu itu sangat manusiawi.

Shame Bisa Merusak Mental Seseorang

shaming merusak mental

sumber: pexels.com

Menurut Kristin Neff, PhD, penulis buku Self-Compassion: Stop Beating Yourself Up and Leave Insecurity Behind yang diterbitkan pada tahun 2013, faktanya dark emotion atau emosi gelap seperti shame berfungsi untuk menjaga keamanan diri kita. Rasa malu adalah cara evolusioner kita untuk mencoba menyembunyikan kekurangan kita dari orang lain. Jika orang-orang sampai tahu tentang kekurangan ini, maka kita akan dikeluarkan dari lingkaran sosial, dan itu berarti seperti kematian. Hal tersebut bisa jadi merupakan alasan mengapa banyak orang masih percaya bahwa perasaan negatif ini “menjaga kita agar tetap sejalan” dengan pemikiran orang-orang. Jadi, seakan merasa malu itu wajar dan perlu dimiliki. Namun, menurut sejumlah penelitian justru sebaliknya. Rasa malu itu menghilangkan pemikiran yang baik, mengubah persepsi dan mendorong perilaku yang merusak dan juga tidak sehat.

Baca Juga :   Kenali Apa Itu Public Shaming Beserta Dampaknya

Shaming Seperti Apa yang Biasa Terjadi?

jenis-jenis shaming

sumber: pexels.com

Jauh sebelum kasus polusi visual viral, netizen telah dihantui oleh jenis-jenis shaming yang membawa pengaruh negatif kepada korbannya. Setiap orang mengalami rasa malu dari segi fisik dan emosional yang berbeda. Hal tersebut biasanya dipicu oleh pembicaraan negatif tentang diri sendiri. Shaming membuat kita mengatakan kepada diri sendiri bahwa kita “tidak cukup baik.” Terutama, jika melihat fenomena dalam kehidupan masyarakat modern, shaming yang biasa dilakukan oleh wanita ke sesama wanita antara lain muncul dalam bentuk komentar negatif tentang:

Kondisi fisik

Ketika seorang wanita memiliki fisik yang berbeda maka dia dianggap tidak memenuhi standar kecantikan yang seharusnya. Misalnya, seorang wanita tidak boleh terlalu gemuk, terlalu kurus, terlalu pendek, rambut harus lurus panjang, dan sebagainya.

About author

Related posts
GenK LIFE

Ngabuburit di Masa Pandemi? Intip Rekomendasi Aktivitas Seru Selama Puasa 2021

GenK LIFE

Yuk, Simak Tipsnya Biar Tetap Bugar Saat Puasa Ramadhan!

GenK LIFE

Bridge of Life: Kalimat Positif Pemberi Harapan Hidup di Atas Sungai Han

GenK LIFE

Rekomendasi Podcast Indonesia Buat Menginspirasi Hari-Harimu