Writing Therapy, Efektif Bebaskan Pikiranmu dari Stres

Dibaca Normal: 3 menit aja
writing-therapy

Kamu masih ingat nggak, kebiasaan menuliskan pengalaman-pengalaman yang kamu alami di dalam buku harian? Semakin kamu beranjak dewasa, kebiasaan menulis diary jadi makin terlupakan. Mungkin, kamu memang nggak punya cukup waktu buat melakukannya. Atau, kamu takut dengan penghakiman orang lain yang menilai menulis di diary tuh alay. Padahal, menulis diary adalah salah satu bagian dari writing therapy, lho. Apa saja sih manfaat dan gimana cara kerja dari terapi ini? Yuk, simak saja ulasan berikut!

Slider
Slider
Slider

Ini Lho, Manfaat Writing Therapy

writing-therapy-example

Contoh terapi menulis di buku harian (Sumber: positivepsychology.com)

Siapapun pasti pernah dilanda rasa stres atau overthinking yang bikin kamu nggak bisa tidur. Ketika kamu mengalaminya, biasanya berbagai pikiran buruk bakal berputar di dalam otakmu. Ini juga bisa banget terjadi bagi kamu yang baru saja mengalami kejadian traumatis. Ingat, nggak semua orang yang menderita trauma bisa dengan bebas bercerita pada orang lain. Malah, seringkali mereka memendam semua rasa negatif itu sendirian.

Nah, terapi menulis bisa bantu kamu mengeluarkan segala pikiran negatif dan uneg-uneg di dalam kepala tanpa harus khawatir akan dihakimi oleh orang lain. Karen Baikie dan Kay Wilhelm adalah 2 orang psikolog yang meneliti tentang manfaat dari writing therapy. Menurut studi yang mereka lakukan di tahun 2015, terapi menulis terbukti bisa bantu mereka jadi lebih sehat secara fisik dan mental hingga 4 bulan kemudian.

UPDATES

Slider

UPDATES

Slider

Kelihatannya, dengan menulis peristiwa yang paling traumatis bagimu bisa membantumu menemukan semangat dan tujuan hidup yang baru. Saat pikiran-pikiran negatif itu keluar lewat penamu, kamu jadi bisa berpikir lebih jernih. Kamu juga bisa jadi lebih tenang dan bisa menarik hikmah dari peristiwa yang menimpamu. Sejauh ini, writing therapy sudah dipraktikkan buat penderita:

  • Stres gara-gara peristiwa traumatis
  • Rasa cemas berlebihan (anxiety)
  • Depresi
  • Obsessive-Compulsive Disorder (OCD)
  • Penyakit kronis
  • Kecanduan minuman keras dan narkoba
  • Anoreksia / Bulimia
  • Orang yang rendah diri
  • Masalah interpersonal
  • Gangguan kemampuan komunikasi
Baca Juga
5 Manfaat Art Therapy untuk Kesehatan Raga dan Mentalmu

Slider
Slider
Slider
Artikel Terkait
GenK LIFE

Bukan Cuma Wanita, Pria Juga Bisa Jadi Korban Body Shaming Lewat Toxic Masculinity

GenK LIFE

5 Alasan Kenapa Kamu Harus Mulai Investasi Sejak Muda

GenK LIFE

Apa Beda Social Distancing dengan Physical Distancing di Tengah Wabah Corona Saat Ini?

GenK LIFE

Orang Terdekat Alami Gangguan Mental? Beri Dukungan dengan Cara Ini

GenK LIFE

5 Cara Berpikir Positif

GenK LIFE

Sosok Pahlawan Asing yang Ikut Berjuang Demi Kemerdekaan Indonesia

Quizzes

Slider
      TRENDING
#Trending
Next >>
ad1
close-link
ad1
close-link
ad1
close-link
ad1
close-link
ad1
close-link
ad1
close-link
ad1
close-link
ad1
close-link
ad1
close-link
ad1
close-link
ad1
close-link
ad1
close-link
ad1
close-link