GenK LIFE

Hypnotic Copywriting, Bagaimana Caranya Menghipnotis Pembaca Lewat Tulisan?

Hypnotic Copywriting

Copywriting harus bisa menarik perhatian pembaca agar tujuan penulisan bisa tercapai, entah itu untuk meningkatkan brand awareness, untuk meningkatkan penjualan, dan lain sebagainya. Tapi nyatanya tidak semudah itu membuat pembaca tertarik. Untuk membuat pembaca fokus pada bacaan, maka penulis harus fokus ke target audience dan tahu bagaimana bisa masuk ke pikiran mereka.  Inilah yang dinamakan dengan hypnotic copywriting, tulisan yang bisa menghipnotis pembacanya. Setelah membaca materi semacam itu, seseorang memasuki fase trance. Tenang saja, ini bukan hipnotis sungguhan. Yang pasti tulisan tersebut merupakan titik awal pembaca untuk beraksi yang menguntungkan bagi copywriter. 

Tips Membuat Hypnotic Copywriting

Sebenarnya tanpa sadar kita sudah sering membaca sesuatu yang menghipnotis setiap hari. Misalnya saat membaca cerita yang sedih, maka pembacanya bisa ikut merasakan kesedihan ceritanya. Atau saat membaca berita kriminal, pembacanya bisa tersulut amarah. 

Dalam marketing, hypnotic copywriting harus bisa mempengaruhi pembacanya sampai melakukan aksi. Seperti mengunjungi website tertentu, menghabiskan waktu yang cukup lama di website atau halaman media sosial tertentu, atau melakukan pembelian. Nah, bagaimana cara membuat hypnosis copywriting yang ampuh? Ini dia beberapa tips yang bisa dicoba:

1. Membuat Rencana yang Baik Sebelum Menulis

Memang membuat rencana itu penting dalam menulis karena dengan berencana maka penulis tahu betul apa tujuan mereka menulis. Kalau sudah ada rencana dan bagan-bagan tulisan, maka isi artikel tidak akan melebar ke mana-mana. Apa pun yang ditulis akan mengarah ke tujuan tersebut dari awal sampai akhir. 

2. Gunakan Cerita Personal

Sumber : socialworker.com

Pembaca lebih suka dengan cerita yang diambil dari pengalaman pribadi, jadi terasa lebih personal. Apa yang disampaikan langsung dari pengalaman pasti berbeda dengan apa yang belum dialami sendiri. Perasaan yang tersampaikan dari cerita personal akan lebih sampai ke pembaca. Menulis dari sudut pandang personal lebih menarik perhatian dan bisa lebih mendorong pembaca untuk melakukan aksi sesuai harapan. 

3. Gunakan Gaya Tulisan yang Dekat dengan Pembaca

Kebanyakan pembaca lebih merasa senang jika membaca sesuatu yang membuat mereka merasa terlibat dibandingkan tulisan yang terasa jauh. Inilah pentingnya membangun hubungan antara brand dan konsumen. Gaya tulisan yang dekat dengan pembaca juga mampu jadi salah satu cara untuk membangun kedekatan. 

Sebelumnya, pastikan tahu dulu apa yang sebenarnya diinginkan oleh pembaca dan apa yang sedang pembaca butuhkan? Kalau dua hal ini sudah diketahui, maka jadi lebih mudah untuk membuat tulisan berdasarkan hal tersebut yang lebih menarik bagi target audience

4. Menganalisis Tulisan yang Sudah Selesai

Sumber : picpedia.org

Sudah selesai menulis? Belum berarti sudah selesai. Penting sekali untuk membuat analisa dari apa yang sudah kita tulis. Disarankan untuk analisis beberapa waktu setelah menulis. Hindari langsung menganalisis, karena mungkin tidak akan menemukan kesalahan atau hal janggal apa pun. 

Saat menganalisis, cobalah menjawab beberapa pertanyaan di bawah ini:

  • Apakah target audience akan tertarik dengan tulisan ini?
  • Apa yang membuat target audience tertarik?
  • Posisikan diri sebagai pembaca dan bayangkan apakah tulisan tersebut ada gunanya bagi kita. 

Kalau sudah merasa tulisan ini bisa menjawab ketiga hal di atas, maka sudah oke. Tapi kalau masih terasa kurang tepat sasaran, mungkin ada hal yang bisa diperbaiki agar lebih menarik bagi target audience.

About author

Related posts
GenK LIFE

Netizen Indonesia : Beda Social Media, Beda Pula Cara Berkomentar

GenK LIFE

Meningkatkan Produktivitas dan Mengembangkan Diri: Cara Mengatasi Rasa Mala

GenK LIFE

Tata Cara Pencantuman Label Nutrition Facts untuk Produk Kuliner Lengkap

GenK LIFE

Mengubah Quarter Life Crisis menjadi Peluang: Mengembangkan Keterampilan dan Pertumbuhan Pribadi di Usia Muda