leadersingle
leadersingle

Ikuti Perjalanan Teh, dari Tiongkok ke Indonesia

Dibaca Normal: 5 menit aja
Perjalanan-Teh

Jadi sudahkah kalian minum teh hari ini, GenK?

UPDATES

Slider

UPDATES

Slider

Siapa yang tidak kenal dengan teh? Rasanya setiap orang Indonesia pernah minum teh, setidaknya sekali seumur hidup. Wajar saja, karena teh adalah minuman paling populer kedua di dunia setelah air. Tapi apakah kalian tahu tentang sejarah teh, GenK?

Sejarah Munculnya Teh

teh3
                                                                              Sumber: food.detik.com

Menurut legenda Tiongkok, sejarah teh dimulai pada 2737 SM. Suatu hari, kaisar Tiongkok Kuno bernama Shennong tengah duduk menunggu sang pelayan memasak air. Tiba-tiba, beberapa helai daun tertiup angin lalu jatuh ke dalam tungku air tersebut. Tertarik dengan aroma hasil kombinasi air dan daun itu, Shennong, yang juga ahli herbal ternama, coba meminumnya.

Karena senang dengan rasa minuman itu, Shennong meneliti secara lanjut tanaman sumber daun tersebut. Ia kemudian menamai campuran daun dan air itu ch’a, yang berarti periksa atau selidik. Tanaman itu sendiri adalah teh. Sulit memeriksa kebenaran legenda ini, namun ada satu yang pasti: kebiasaan minum teh telah mengakar di Tiongkok berabad-abad sebelum menyebar ke berbagai penjuru dunia.

Pada 2016, kontainer berisi teh ditemukan dalam makam Kaisar Jing dari era Dinasti Han (206 SM-220 M). Ini menjadi bukti bahwa para kaisar Tiongkok sudah mengkonsumsi teh setidaknya sejak abad ke-2 sebelum masehi. Akan tetapi, teh baru menjelma sebagai minuman masyarakat umum Tiongkok pada masa Dinasti Tang (618-906 M), tepatnya abad ke-8.

Saking masyhurnya di masa Dinasti Tang, GenK, seorang biarawan Buddha bernama Lu Yu sampai menulis risalah tentang teh. Judulnya Ch’a Jing, yang dalam bahasa Inggris menjadi The Classic of Tea. Lewat tulisan itu, Lu Yu memaparkan jenis-jenis, cara mempersiapkan, dan manfaat minum teh. Ia juga menanamkan estetika spiritual yang sesuai pemikiran agama Buddha, Tao, dan Konfusianisme pada masa itu.

Sekitar abad ke-9, teh merambah ke Jepang berkat biarawan Buddha lain, Saicho. Usai menuntut ilmu di Tiongkok, Saicho membawa benih teh untuk ditanam di biara asalnya. Seiring waktu, banyak biarawan lain yang mengikuti jejaknya. Alhasil, banyak kebun teh kecil yang berkembang. Namun, karena perkebunan ini biasanya terdapat di biara terpencil dan terisolasi, teh baru populer di Jepang pada abad ke-13. Kedatangan para pedagang, penjelajah, dan misionaris asal Eropa yang melakukan perjalanan bolak-balik ke Asia membuat tradisi minum teh Tiongkok dan Jepang mulai terdengar di benua asal mereka. Meski begitu, wujud teh baru hadir di sana pada abad ke-17. Seorang misionaris asal Portugal menjadi orang pertama yang membawa teh ke Eropa.

Teh baru menjadi barang dagangan di Eropa saat kapal sewaan VOC berlabuh dengan muatan teh asal Tiongkok dan Jepang pada 1610. Walau harganya cukup tinggi, ketenaran teh tetap menyebar cepat ke kota-kota seperti Amsterdam, Paris, dan London. Akibatnya, peminum teh sempat terbatas pada kalangan bangsawan dan aristokrat.

Baca Juga
10 Jenis Pasta yang Menanti untuk Kamu Coba

Bicara soal teh dan Eropa nih, GenK, tiada lagi negara sana yang hingga kini punya budaya minum teh sekuat Inggris. Awalnya, publik Inggris tidak langsung tertarik pada teh. Sampai akhirnya pada 1662, Raja Charles II menikahi bangsawan Portugis, Putri Catherine, yang sangat mencintai teh. Dialah yang menjadikan teh sebagai minuman wajib dalam setiap perjamuan resmi.

Jadi bagaimana teh bisa sampai dan berkembang di Indonesia? Begini ceritanya, GenK.

Teh Masuk ke Indonesia

Sejarah teh masuk ke Indonesia bermula pada abad ke-17. Kala itu Indonesia masih dikuasai Maskapai Dagang Hindia Timur (VOC). Seorang ahli tanaman asal Jerman bernama Andreas Cleyer mengangkut teh dari Jepang ke Batavia, pusat VOC, pada 1684. Teh itu ternyata tumbuh dengan baik, sehingga tiga tahun kemudian asisten Andreas membawanya ke Belanda untuk diteliti.

Gubernur Jenderal VOC periode 1684-1691, Johannes Camphuys, juga berhasil menumbuhkan teh di halaman rumahnya di Batavia. Bedanya, teh tersebut berasal dari Tiongkok. Camphuys menanam teh ini sebagai hiasan. Pada 1728, sempat ada upaya dari pemegang saham VOC agar pemerintah VOC di Batavia membudidayakan teh untuk perdagangan, namun mereka tidak tertarik.

Lebih dari seratus tahun kemudian, budidaya teh untuk keperluan dagang baru terlaksana. Karena VOC sudah bangkrut sejak 1799, semua urusan diambil alih pemerintah Belanda. Daerah bekas kekuasaan VOC lalu dikenal sebagai Hindia Belanda. Selama 1833-1838, pemerintah Hindia Belanda membuka sejumlah perkebunan teh di Jawa Barat. Teh kering olahan asal Hindia Belanda tercatat memasuki pasar Amsterdam pada 1835.

Perkebunan teh yang dibangun selama era kepemimpinan Hindia Belanda terdapat di Cisurupan, Wanayasa, dan Gambung (Jawa Barat), Gunung Raung (Jawa Timur), dan Simalungun (Sumatera Utara). Pada 1877, Hindia Belanda mengenalkan teh varietas Assamica yang berasal dari Assam, India. Teh jenis itu pertama kali ditanam di Gambung oleh Rudolph Eduard Kerkhoven.

Baca Juga
Aneka Soto di Indonesia

Kini, Indonesia termasuk dalam 10 besar negara penghasil teh di dunia. Berdasarkan statistik keluaran FAO pada 2017, Indonesia berada di peringkat ketujuh dengan hasil produksi sebesar 139 ribu ton, unggul dari Bangladesh (81 ribu ton), Iran (100 ribu ton), dan Myanmar (104 ribu ton). Tapi kita masih tertinggal dari Turki, GenK, (234 ribu ton), Vietnam (260 ribu ton), Sri Lanka (349 ribu ton), Kenya (439 ribu ton), India (1,3 juta ton), dan Tiongkok (2,4 juta ton).

Jenis-jenis Teh Asli Indonesia

teh2                                                                           Sumber: babel.litbang.pertanian.go.id

Indonesia pun punya sejumlah teh khas dengan rasa yang unik. Contohnya Teh Tayu dari Bangka Barat. Bibitnya dibawa oleh para pekerja tambang timah asal Tiongkok seabad lalu. Tidak seperti teh pada umumnya, Teh Tayu mampu tumbuh dengan baik di dataran rendah. Menurut penikmatnya, teh ini tidak terlalu kental, namun memiliki cita rasa yang kuat.

Ada juga Teh Bah Butong dari Simalungun. Rasanya agak kelat, sedikit pahit, dan meninggalkan sisa rasa pedas setelah diminum. Menurut data PTPN IV, Teh Bah Butong memiliki pelanggan tetap dari berbagai negara Eropa seperti Jerman, Belanda, Irlandia, Italia, Prancis, dan Spanyol. Begitu pula dengan negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.

teh1
                                                                            Sumber: sahabatpetani.com

Selain itu, masih ada Teh Jawa Oolong. Teh ini terbuat dari penggabungan daun teh hitam dengan daun teh hijau. Selepas dijemur sebentar, kedua jenis daun teh ini kemudian dicabik-cabik sampai mengeluarkan enzim yang reaktif terhadap udara sehingga terjadi oksidasi. Bagi peminum rutin, Teh Jawa Oolong bermanfaat untuk menjaga stamina tubuh.

Baca Juga
4 Resep Kue Kering Mudah dan Enak


Jadi sudahkah kalian minum teh hari ini, GenK?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terkait
Kuliner

4 Minuman Santan Segarkan Momen Keluarga

Kuliner

7 Restoran All You Can Eat Jakarta di Bawah 100 Ribu

Kuliner

5 Resep Kue Basah Tradisional yang Mudah Kamu Coba

Kuliner

8 Kue Khas Lebaran yang Jadi Tradisi Keluarga Nusantara

Kuliner

8 Ide Makanan Buka Puasa yang Simpel

Kuliner

Ini Dia Aturan Table Manner - Part 2. Saat Makan

Quizzes

Slider
      TRENDING
#CoronaVirus
Next >>