Buku

Love In Heart

Pagi itu ketika aku terbangun, jendela kamarku telah terbuka. Ku lihat hari ini begitu cerah, namun sayang keadaanku tak secerah hari ini, keadaanku yang semakin hari semakin buruk menjadikan tak bersemangat. Suster yang biasa merawatku pun datang dan membawakan secangkir coklat panas dan sepiring roti coklat kesukaanku.

“Hai, nona lili… Selamat pagi? Hari ini cerah ya, lebih cerah lagi kalo non memakan makanan ini!” kata suster Tiara menghiburku.

“Tapi sus , saya belum lapar!” mata ku sambil melihat kearah jendela.

Akupun terbangun dari tempat tidur, suster tiarapun membantuku. Duduklah aku di sebuah kursi roda yang selalu aku duduki.

“Suster, tolong bawa aku keluar!” pintaku pada suster tiara yang begitu manis

“Non Lili ingin melihat bunga-bunga lili yang waktu itu non tanam?” kata suster tiara sambil tersenyum

“iya, aku ingin melihat bunga-bunga itu!” kataku pada suster tiara

Suster tiara pun segera mengantarkanku ke taman yang biasa aku tuju

“lihat non, bunga-bunga nya sudah tumbuh!” kata suster tiara sambil memetik salah satu bunga itu dan memberikannya padaku, dan suster tiarapun seperti biasa meninggalkanku.

Ketika aku berdiri untuk mengambil bunga lili itu kaki ku begitu lemah ketika aku akan terjatuh, tiba-tiba salah seorang laki-laki menahanku. Akupun melirik padanya betapa tampannya seorang laki-laki itu, ia pun membantuku untuk duduk dan ia pun bertanya padaku “kamu ingin memetik bunga itu?”

“iya” jawabku singkat

Ia pun memetik bunga itu untuk ku, tiba-tiba saja ppria baik hati dan ramah itupun merapihkan rambutku dan diselipkannya bunga lili yang cantik itu di belakang telingaku. ia pun berlutut di hadapanku sambil berkata “nah kalau seperti itu, wajah mu jadi semakin manis sama seperti bunga-bunga itu” sambil tersenyum “nama ku Tris, nama mu?”

“nama ku sama seperti bunga itu!” jawabku dengan suara pelan

“nama kamu lili?”

“iya” jawabku singkat lagi

Tiba-tiba suster tiara pun datang dan membawaku kembali ke kamar, ketika aku pergi aku sempat menoleh ke belakang. Tris pun melambaikan tangannya dan tersenyum padaku.

Ketika sampai di kamar, aku harus kembali terbaring lemah lagi tanpa harapan apa-apa karna aku sadar penyakitku bukan penyakit yang sepele. Malahan sering kali aku ingin sekali cepat mati, namun entah kenapa setelah aku bertemu dengan Tris harapan yang tak pernah ada itu kini muncul. Akupun bertanya pada suster tiara yang hendak merapihkan tempat tidurku “suster, pria yang tadi itu siapa?” tanya ku dengan polos pada suster tiara

“Tris magsudnya non?” tanya kembali suster tiara padaku

“iya, kenpa suster tahu?”

“suster akan menjawab, asalkan non lili mau meminum susunya dulu!” kata suster tiara sambil menyodorkan segelas susu coklat

“Tris itu salah satu mahasiswa yang akan melakukan praktek kedokteran disini!” jawab suster tiara

Kenapa setelah mendengar jawaban dari suster tiara aku merasa bahagia, dalam hati kecil aku berkata “berarti tris akan lama disini!”

“non, suster keluar dulu ya!” sambil pergi keluar, ketika suster tiara menutup pintunya. Aku melihat Tris dari jendela, ia sedang berjalan dan tiba-tiba dia melihatku. Akupun tersenyum padanya, namun tris segera pergi.

Akupun turun dari tempat tidurku, ketika aku melangkah kaki ku tak kuat menahan topangan badanku. Akupun terjatuh tapi rasa sakit itu tak aku pedulikan aku langsung berdiri dan segera memutar kursi rodaku, aku berniat mengejar tris. Ketika aku membuka pintu kamarku, sayangnya tris sudah tidak ada. Namun aku terkejut ketika seseorang dari belakang menutup mataku.

“Tris” teriak ku dengan kaget

“Tris?” seseorang dengan suara lembut

Ketika aku membalikan kursi rodaku, ternyata itu suster tiara “suster tiara, aku kira tris” kataku sambil tertunduk malu

“Tris tadi sedang berada di leb, kamu suka ya sama tris?” tanya suster tiara padaku, aku hanya menggelengkan kepala

Tapi tiba-tiba, suster tiara mendorong kursi rodaku menuju salah satu tempat. Tiba-tiba di tempat itu aku melihat tris sayangnya terhalang oleh kaca, aku melihat tris dengan salah seorang wanita yang tidak pernah aku lihat sebelumnya wanita itu.

Aku tertunduk dan tiba-tiba saja air mataku jatuh dan membasahi pipiku, aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada diriku.

“sudahlah non, jangan menangis. Suster tahu, non lili pasti cemburukan?” kata suster tiara sambil mengangkat daguku dan menyusut air mataku

“suster, mungkin baru kali ini aku merasakan jatuh cinta. Karna setiap kali aku melihatnya aku selalu merasa bahagia, tapi kenapa sekarang aku sedih ketika aku melihat tris dengan wanita lain?” tanyaku pada suster tiara sambil menatap tris dari jauh

“itu namanya non cemburu!” jawab suster tiara sambil tersenyum

“suster, aku tak ingin disini.” Pintaku pada suster tiara

Suster tiarapun membawaku ke tempat yang selalu membuatku bahagia yaitu taman lili, lalu suster tiarapun meninggalkan ku sendiri.

“lili, apa kau mampu hidup?” tanyaku pada bunga lili-lili itu “apa pantas seorang wanita yang mempunyai penyakit sepertiku merasakan cinta? Padahal waktu hidupku tak seberapa lama, mungkin saja besok aku sudah tiada!” kataku sambil menangis. Tiba-tiba dari belakang suara orang yang menjawab semua pertanyaanku

“semua makhluk akan merasakan cinta, tidak terkecuali kamu lili yang manis. Walaupun waktu seseorang itu amat sebentar namun cinta tetap saja akan ada di hati seseorang itu.” Jawab seseorang di belakangku, aku pun menoleh

Tris ternyata itu dia, orang yang membuatku jatuh cinta dan orang yang membuatku patah hati. Sebenarnya jika aku dapat berlari, aku ingin sekali berlari seakan aku tak ingin melihat wajah tris.

“untuk apa kamu berada disini? Aku tak ingin melihat mu!” dengan suara yang cukup keras, aku membentak tris.

Tris pun terkejut mendengar kata-kataku, akupun berdiri dengan memegang ke tangan kursi roda namun tiba-tiba kepalaku pusing dan sakit. Akupun terjatuh dan tak sadar selama beberapa hari.

Ketika aku sadar yang pertama kali aku lihat adalah senyuman manis suster tiara, aku pun terbangun “mana tris? Apa dia masih ada disini?” tanyaku pada suster tiara

“untuk apa kamu menyakan tris? Bukannya kamu benci pada tris?” ucap suster tiara sambil membantuku untuk duduk, akupun terdiam.

“Tris sudah pergi pulang, karna tugas prakteknya sudah selesai. Non lili marah ya kepada tris? Sebenernya wanita itu orang yang membatu tris dalam mengerjakan tugas praktek kedokterannya, non lili saat non belum sadarkan diri tris yang menemani non disini. Namun karna dia masih banyak tugasnya dia harus segera pulang untuk menyelesaikan semua tugas pentingnya. Ini titipan dari tris” kata suster tiara sambil memberikan kalung berliontin bunga lili berwarna ungu

“ini untuk ku? Dan apa itu?” tanyaku sambil menunjuk sebuah kantong kecil

“ini juga dari tris, ini bibit bunga lili ungu untuk non!” kata suster tiara, akupun menangis mendengar semua kata-kata suster tiara.

“suster, tanam saja bibit itu di pemakamanku!” kataku sambil menyusut air mata yang berlinangdi pipi

“non lili, non tidak akan pergi secepat itu” kata suster tiara sambil mengelus rambutku

“untuk apa aku hidup terlalu lama? Aku hanya membuat semua orang repot ngurusin aku, sampai semua orang yang aku sayangipun pergi. Mamah, Papah, dan sekarang Tris! Lagi pula penyakitku ini ttidak akan pernah sembuh” kataku dengan nada yang sangat kesal

“non, apa salahnya kalau non berjuang? Non tahu? Kata tris kalau dia sudah selesai dengan semua pekerjaannya dia akan datang lagi kesini untuk merawat non lili dan bunga-bunga lili non!” kata suster tiara sambil menenangkanku

“bohong! Gak mungkin tris akan merawat lili yang hampir mati sepertiku!” aku kesal dan marah menjawab omongan suster tiara

Suster tiara memberikan minum padaku, tanpa sadar akupun membantingkan gelas itu. Tiba-tiba saja dadaku sesak kepalaku sakit dan pusing dan badanku lemas, suster tiara pun segera memanggil dokter. Dokterpun segera datang dan memasang selang oksigen, setelah itu entah aku berada dialam mana dan entah aku masih hidup apa sudah meninggal.

Untungnya pada suatu saat aku melihat sesuatu yang terang, ternyata itu matahari. Ketika aku terbangun suster tersayang Tiara menyambutku

“hai non lili selamat pagi?” kata suster tiara dengan riang

“suster tris sudah datang untuk merawatku?” tanya ku serius dengan suara yang amat pelan

“kemarin tris memberi kabar lewat telepon, katanya dia akan datang hari ini” kata suster tiara semakin yang semakin hari, semakin manis

Aku pun terkejut mendengar kata suster tiara, akupun bertanya-tanya. Suster tiara berkata begitu hanya ingin menghiburku atau tris benar akan datang? Selang-selang infus ku pun di cabut oleh suster tiara dan suster tiarapun membangunkanku dan menyisir rambutku dan memakai pita berwarna ungu di rambutku, kursi rodaku pun di hias dan akupun bercermin baru kali ini aku bercermin.

Akupun duduk di kursi roda yang sudah di hias sangat indah oleh suster tiara. Aku merasa aku seperti putri, putri yang sedang menanti akhir hidupnya. Walau berat untukku bahagia namun aku mencoba untuk tersenyum, suster tiara mengantarkanku ke tempat biasa.

“terimakasih suster, biarkan aku sendiri menunggu tris” kataku sambil tersenyum manis

 

“baiklah, suster pergi dulu!” suster tiara pun pergi meninggalkan ku sendiri

 

Sambil menunggu tris aku melihat bunga-bunga lili ku “yaaaa, bunga lilinya sudah pada layu, sama seperti aku lili yang layu yang sebentar lagi juga mati!” kataku sambil melihat keseluruh tubuhku.

Beberapa jam aku lalui, namun tris belum datang juga hingga akhirnya hujan pun turun. Sampai suster tiara pun datang dan memayungiku di bawah payung berwarna ungu.

“ayo non lili kita masuk! Hujan lebat sekali non” kata suster tiara sambil memayungiku

“tidak! Aku akan tetap disini sebelum aku bertemu dengan tris!” kataku sambil teriak

“tapi non” suster tiara begitu cemas

“tidak !!! lebih baik suster tiara pergi !!! aku akan tetap disini !!!” kata ku sambil merebut payung dari tangan suster tiara dan melemparkannya

Suster tiarapun pergi dengan rasa cemas dan menangis, dengan air mata yang bercampur air hujan aku menunggu tris. Aku seakan-akan tak berdaya menahan nya kedinginan, aku pun memaksakan berdiri dari kursi roda dan melangkah dan akhirnya aku terjatuh tergeletak entah aku pingsan atau meninggal. Mungkin saat itu suster tiara yang menolongku hingga akhirnya aku meninggal…

Dan setelah dimakamkan ke esokan harinya tris datang, melihat suster tiara membuang lili yang sudah kering dan mati. Tris pun menghampiri suster tiara.

“suster, lili mana? Aku ingin berbicara dengannya” kata tris dengan wajah yang penuh harapan

“Lili ? kamu terlambat tris ! Lili sudah tertidur lelap disana !” suster tiara menjawab dengan mata yang berkaca-kaca

“tertidur lelap dimana?” tanya tris

“di tempat yang di tumbuhi lili-lili berwarna ungu ! yang akan menemani lili manis ku, yang telah memejamkan mata untuk selamanya” jawab tegas suster tiara

“maksud suster? Lili sudah…” jawab tris lemas

Suster tiara pun mengantarkan tris ke pemakamanku

“itu dia, tempat peristirahatannya lili yang masih bertanah basah. Dan akan selalu ku rawat makam nya” kata suster tiara sambil menunjukan makam yang di penuhi bunga lili berwarna ungu

Tris pun berjalan menuju makam ku dengan lemah dan dengan wajah sedih, juga mata yang berkaca-kaca

“Lili, kenapa kamu tidak menungguku datang? Lili maafkan aku jika aku terlambat menjenguk mu, tapi sudah berjanji untuk menemui mu kenapa kamu secepat ini lili… belum sempat aku menyatakan rasa cinta dalam hatiku kepadamu, aku cinta kamu lili…” rintih tris menangis sambil memegang batu nisan ku “biarlah akan ku simpan rasa cinta ini dalam hatiku, biar nanti kita bertemu, kaupun akan tahu!” kata tris

Sebenarnya, aku melihat dan mendengar setiap perkataan tris walau aku tak tampah dengan wajah manis ku dulu. Tuhan terimakasih, sebelum Engkau memanggil diriku Engkau hadirkan Tris pria yang membuatku menunggunya sampai aku berada di hadapan-Mu. Aku bahagia…

About author

Related posts
Buku

Cara Bersikap Asertif Ala Judy Murphy (Part 2)

Buku

Cara Bersikap Asertif Ala Judy Murphy (Part 1)

Buku

Kamu Hobi Membaca? Ini Dia Beberapa Buku Menarik Dari Penulis Wanita di Seluruh Dunia!

Buku

Tertarik Menulis Buku Biografi? Simak Tipsnya Disini!

Leave a Reply

Your email address will not be published.