GenK LIFE

Apa yang Dimaksud Dengan False Positive dan False Negative Saat Rapid Test COVID-19

Jumlah kasus positif COVID-19 di dunia, khususnya Indonesia kian hari mengalami kenaikan. Dalam upaya menangani penyebaran yang semakin luas, ada banyak langkah yang dijalankan, mulai dari memberlakukan physical distancing hingga melakukan rapid test.

Seperti diketahui, pemerintah mulai menggunakan metode pemeriksaan rapid test untuk menemukan kasus COVID-19 secara cepat dan masif. Alat tes ini didapatkan setelah mengimpor sebanyak 500 ribu unit dari Tiongkok yang kemudian disebarkan ke beberapa rumah sakit. Lalu, agar kamu tidak keliru, berikut penjelasan tentang rapid test yang harus kamu tahu.

Apa itu Rapid Test?

Ilustrasi rapid test. (Sumber: Shutterstock)

Rapid test merupakan tes yang menggunakan sampel darah untuk menguji apakah seseorang positif COVID-19. Cara kerja rapid test adalah dengan mendeteksi immunoglobulin. Immunoglobulin adalah antibodi yang terbentuk oleh seseorang saat terinfeksi yang bisa dideteksi di darah.

Alat rapid test Sensing Self ini juga diketahui telah mendapatkan lisensi edar dari tiga pasar penting di dunia, yaitu Eropa (mendapatkan sertifikasi CE) dan India disetujui oleh (National Institute of Virology dan Indian Council of Medical Research). Tak hanya itu,  Amerika Serikat (FDA) juga telah mengeluarkan lisensinya walaupun dengan syarat bahwa penggunaannya harus dilakukan di lembaga medis formal.

Dalam mendapatkan hasil,  rapid test dapat langsung keluar hanya dalam waktu 15-20 menit serta bisa dilakukan dimana saja. Walau demikian, rapid test juga nemiliki satu kelemagan. Kelemahan rapid test adalah bisa menghasilkan ‘false negative‘ ataupun ‘false positive‘.

Baca Juga :   5 Racikan Jamu Tradisional untuk Daya Tahan Tubuh Saat COVID-19

Apa itu ‘false negative‘ dan ‘false positive‘?

Ilustrasi tes COVID-19. (Sumber: 123rf)

Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik dan Kedokteran Laboratorium Indonesia (PDS PatKlin) Profesor Dr dr Aryati MS SpPK(K) dalam keterangan tertulisnya, Kamis (19/3/2020), mengatakan bahwa rapid test IgM/IgG SARS-CoV-2 untuk deteksi COVID-19 dengan pengambilan darah sampel seseorang, memiliki keterbatasan.

Keterbatasan tersebut berupa hasil pemeriksaan yang didapatkan dalam waktu 15-20 menit. Hasil pemeriksaan false positive tidak berarti seseorang benar-benar terinfeksi SARS-CoV-2. Sementara, false negative tidak berarti seseorang tak terinfeksi. Hal ini juga patut untuk dipertimbangkan untuk mendeteksi antibodi karena validitas yang belum diketahui hingga menyulitkan interpretasi.

Berbagai hal yang dapat menyebabkan false positive adalah:

  • Kemungkinan cross reactive antibody dengan berbagai virus lain (coronavirus, dengue virus)
  • Infeksi lampau dengan virus corona.

Selain itu, ada juga berbagai hal yang dapat menyebabkan hasil false negative, seperti:

  • Belum terbentuk antibodi saat pengambilan sampal (masa inkubasi)
  • Pasien mengalami gangguan antibodi (immunocompromised).
Baca Juga :   Banyak Jadi Perbincangan, Ini Dia 4 Aplikasi yang Dapat Lacak COVID-19
About author

Related posts
GenK LIFE

Mengenal Diet Pegan, Tren Unik yang Lagi Hits di Tahun 2021

GenK LIFE

Sering Overthinking? Ini Tips Meditasi yang Ampuh Jaga Pikiranmu Tetap Fokus

GenK LIFE

Buat Yang Lagi Intermitten Fasting, Ini Dia Minuman Yang Boleh Dikonsumsi!

GenK LIFE

Gak Cuma Sakti di Film dan Manga, Ini Dia Fakta Mengenai Ninja!