Kuliner

Menerapkan Psikologi Marketing Berdasarkan Kondisi FOMO

FOMO menjadi fenomena yang sering banget terjadi di kalangan milenial, terutama anak muda. FOMO merupakan singkatan dari Fear of Missing Out, atau jika diartikan, selalu ngerasa khawatir dan ketakutan berlebihan, kalau dia ketinggalan tren terkini. Biasanya, sih, salah satu penyebabnya yang utama adalah karena kecanduan media sosial.

Tapi, di sisi lain, FOMO yang merupakan kondisi emosional ini, kalau dipelajari dengan baik, maka bisa dijadikan strategi marketing yang efektif. Caranya dengan menerapkan psikologi marketing. Yuk, simak ulasannya.

Tips Psikologi Marketing untuk Tingkatkan Penjualan

FOMO

Sumber Gambar : unsplash.com

 

Salah satu psikologi marketing yang paling populer, adalah menggunakan warna tertentu untuk menarik konsumen. Misalnya, restoran cepat saji seperti McDonald’s dan Burger King, yang menggunakan warna merah dan kuning untuk logo mereka. Nah, itu karena secara psikologis, dua warna tersebut bisa bikin orang merasa lapar. Jadi, psikologi marketing inilah yang menyempurnakan strategi pemasaran kamu. Dan, kondisi psikologis ini berkaitan erat dengan FOMO. Berikut tips pemasaran dengan menggunakan psikologi marketing:

Bangkitkan Kondisi Emosional Calon Konsumen

FOMO

Sumber Gambar : unsplash.com

 

Kamu pasti pernah, kan, beli sesuatu cuma karena barang tersebut bisa jadi mood booster, dan bikin kamu semangat. Banyak yang kayak gini. Nah, menurut sejumlah pakar neuroscience, emosi merupakan unsur yang dibutuhkan dan paling mempengaruhi keputusan pembelian. Tekniknya, bukan keunggulan spesifikasi dan fitur produk yang kamu tunjukkan. Tapi, beritahu calon konsumen, tentang gimana produk tersebut membuat mereka senang, nyaman dan juga puas. Ini bakal membangkitkan kondisi emosional mereka, sehingga mereka berminat untuk beli.

Tunjukkan Bukti Sosial (Social Proof)

FOMO

Sumber Gambar : unsplash.com

 

Ini salah satu cara dengan memanfaatkan FOMO. Misalnya, seperti saat kamu melewati restoran baru di kotamu. Terus, antreannya panjang banget bahkan sampai ke pintu. Kamu pasti berpikir, “Wah, restoran ini menunya pasti enak. Harus ke sana, nih!” Nah, ini pengaruh dari social proof atau bukti sosial. Saat calon konsumen melihat produk kamu disukai orang lain, nilai produknya bakal bertambah seketika. Triknya, kamu bisa menunjukkan bukti sosial, seperti rating, ulasan, testimoni pembeli di sosmed atau website kamu. Biar semakin menarik dan bikin orang nggak mau ketinggalan beli produkmu.

Baca Juga :   5 Cara Mengolah Telur untuk Tambahan Menu Makan

Bikin Kesan FOMO pada Produk yang Kamu Jual

FOMO

Sumber Gambar : unsplash.com

Satu lagi strategi marketing dengan FOMO. Bikin produk dan jasamu berasa spesial. Sampai-sampai orang ngerasa harus punya barang tersebut, atau menggunakan layanan kamu. Caranya, kamu bisa gunakan kata-kata “Limited Edition” atau Edisi Terbatas. Bisa juga beri label “Jangan Lewatkan” di iklan produk kamu. Atau, kamu juga bisa bikin flash sale, dan ajak orang-orang beli sekarang, mumpung lagi murah saat ini saja. Mereka nggak bakal melewatkannya.

Terapkan Teknik Resiprokal

FOMO

Sumber Gambar : unsplash.com

Begini cara kerja psikologi resiprokal: saat seseorang memberimu sesuatu, sadar atau nggak, kamu pasti ngerasa harus mengembalikan sesuatu juga ke mereka. Misalnya, nih, waktu kamu belanja di pusat perbelanjaan mall. Ada yang ngasih kamu sampel salad buah segar, gratis. Habis kamu mencicipinya, kamu merasa harus beli paling nggak satu cup salad buah aja. Ini cuma contoh. Untuk bisnismu, kamu bisa coba salah satu strategi, dengan menawarkan hadiah gratis di setiap pembelian satu produk tertentu. Orang-orang bakal senang belanja di toko kamu.

Gunakan Goldilocks Effect

Sumber Gambar : unsplash.com

Goldilocks Effect adalah istilah yang berasal dari kisah seseorang bernama Goldilocks. Saat dia menemukan tiga jenis bubur, dia pilih yang “nggak terlalu panas, nggak terlalu dingin, tapi pas.” Nah, konsumen yang lagi berbelanja mengalami Goldilocks Effect sepanjang waktu. Mereka nggak cari produk termurah atau termahal. Melainkan yang sesuai kebutuhan dan keinginan mereka. Untuk itu, kamu bisa berikan banyak variasi produk. Terus, tambahkan tanda “Favorit Konsumen” atau “Top Seller”. Seketika produkmu jadi semakin menarik.

Begitulah, kaitan antara FOMO dan psikologi marketing. Dengan memanfaatkan kondisi FOMO secara tepat, maka kamu bisa menggunakannya dalam strategi pemasaran.

About author

Related posts
Kuliner

Ceriakan Mood-mu dengan Resep Makanan Korea untuk Musim Hujan Yuk!

Kuliner

Yuk, Bikin Cold Brew Coffee Sempurna ala Cafe di Rumah!

Kuliner

Ada yang Digeprek sampai Rasa Mie Goreng, Coba Bikin Resep Es Krim Viral Ini, Yuk!

Kuliner

Doyan Nonton Food Vlogger? Ini Dia 5 Food Vlogger yang Seru Buat Difollow