GenK LIFE

Menyangkal Diri Ditengah Dunia yang Berpusat Pada Media Sosial

Menyangkal Diri

Senior millennial seperti kita hidup di generasi Alpha bebannya berat ya. Kenapa? Sejak sosial media bermunculan dengan beragam jenis platformnya, hampir seluruh jenis kegiatan masyarakat bumi itu, wajib hukumnya untuk diumumkan ke publik. Alhasil terkadang membuat kita jadi suka membanding-bandingkan dengan apa yang sudah dicapai orang lain, lalu merasa FOMO  karena merasa ketinggalan.

Apa Jangan-Jangan Kita Hidup Di Generasi Yang Narsistik Dan Haus Pengakuan?

Narcissistic Personality Disorder', Si Haus Pujian dan Merasa Paling Hebat  | kumparan.com

Sumber Gambar : Kumparan.com

Bisa saja sih. Karena platform-platform media sosial tadi yang memfasilitasi tingkah laku manusia untuk berbuat seperti itu. Tidak perlu terlalu jauh berbicara tentang pencapaian karena menang olimpiade atau kompetisi bergengsi lainnya. Mempunyai pasangan dari ras kaukasia atau negara tertentu saja harus dipertontonkan terus menerus, serasa mendapatkan barang bagus yang kemudian harus dipamerkan.

Makan di restoran mewah harus difoto terlebih dahulu lalu diunggah. Memiliki tas ini, jam tangan itu dan barang materialistik dengan harga selangit lainnya harus di bragging. Belum lagi ada yang mengatasnamakan bersyukur dengan cara pamer alias bragging in disguise.

Terima kasih ya Tuhan atas berkatmu hari ini sambil menunjukkan tas Hermes dan gelang Gucci yang baru dibelinya beberapa hari lalu, ditambah dengan hashtag #grateful, #bersyukur, #rejekianaksoleh #nikmatmanalagiyangkaudustakan #terimakasihTuhan, wow my life is perfect.

Inilah Human Nature

Menangkal Diri

Sumber Gambar : IAAC Blog

Manusia selalu mempunyai tendensi untuk mempertontonkan hal yang terbaik dari mereka.

Mengutip lumenlearning.com, melalui terjemahan tidak baku, menurut Sosiolog Erving Goffman, ia mempresentasikan gagasan bahwa seseorang itu seperti aktor di atas panggung. Ia menyebut teorinya dramaturgi, Goffman percaya bahwa kita menggunakan “manajemen kesan” untuk menampilkan diri kita kepada orang lain seperti yang kita harapkan untuk dirasakan.

Setiap situasi adalah adegan baru, dan individu melakukan peran yang berbeda tergantung pada siapa yang hadir (Goffman 1959). Apa yang kita lihat di sosial media belum tentu sama dengan apa yang terjadi di backstagenya.

Cara seseorang bertingkah laku atau bersikap pun juga belum tentu sama di tiap-tiap lingkungannya. Bagaimana ia memperlakukan teman dari status sosial A, bisa jadi belum tentu sama dengan cara ia bersikap dengan teman yang status sosialnya C. Everything is not what it seems.

Lalu, apabila kita kaitkan dengan apa yang terjadi dimasa kini, yakni media sosial dan penggunannya, maka konsep Erving Goffman ini terbukti adanya bahwa manusia itu adalah aktor di sosial medianya, yang kemudian bisa kita analogikan sebagai panggung, seperti apa yang dikatakan Goffman dalam gagasannya.

Terkadang suka amazed dengan manusia-manusia yang hidup di zaman dulu. Walaupun hidup di era klasik tapi mereka memiliki pikiran yang progresif, persepektif teoritisnya masih relevan hingga saat ini. Karena konsep Goffman tersebut membuat saya untuk bisa mulai mengerti dan memaklumi atas fenomena yang terjadi saat ini. tapi kalau braggingnya dan pencitraannya sudah pada tingkat kronis dan membuat kita merasa teracuni, gimana?

Ketika kita mengetahui benar otentitas seseorang yang kemudian terasa dipatahkan ketika orang tersebut menampilkan sosok yang sangat berbeda daripada aslinya. Tidak hanya saya, sepertinya banyak orang juga yang suka dengan media sosial tapi juga membencinya juga secara bersamaan. Karena efeknya yang membuat kita merasa tertekan. Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk menangkal efek negatif dari bersosial media?

Menangkal Efek Negatif Dari Sosial Media

Menangkal Diri

Sumber Gambar : Kementerian Komunikasi dan Informatika

Menurut pendapat pribadi, sudah seharusnya kita lebih sobber, ketika menggunakan media sosial. Ketika kita merasa bersosial media banyak membawa dampak negatif pada diri kita lebih baik, berhenti sementara atau selamanya. Menata hati dan pikiran terlebih dahulu merupakan hal yang terpenting, guna menjaga kesehatan mental kita, menjernihkan pikiran dan mengembalikan fokus hidup kita.

Apabila semuanya sudah terasa lebih stabil, kita bisa kembali menggunakannya. Namun, apabila kita tetap ingin menggunakan media sosial, kita bisa memprioritaskan diri untuk mengonsumsi content-content yang membawa anda pada hal positif, kebahagiaan, tawa dan pengembangan diri. Anda dapat menekan tombol sembunyikan atau tidak tertarik pada content yang membawa pengaruh negatif bagi diri anda.

Belakangan ini juga banyak yang suka melakukan aksi marah-marah di media sosial, guna mendapatkan atensi dari khalayak lalu menaikkan jumlah follower mereka. Kemudian berujung pada “cuan”. Karena memperoleh tawaran endorse dari suatu produk.

Sehingga banyak orang yang rela melakukan apapun demi menghasilkan content dan spotlight, hal ini terasa menjadi lumrah, speechless jadinya. Kejadian ini mungkin bisa dikaitkan dengan adiktif, membuat seseorang melakukan sesuatu diluar batas demi mendapatkan perasaan senang. Dalam hal ini adalah memperoleh uang.

Mengutip website moneyaccents.com, dalam artikel, How Money Can Change People and Affect Their Behaviour, melalui terjemahan tidak baku mengatakan bahwa, “Banyak kecanduan dimulai karena seseorang mendapat respons positif dari jenis perilaku tertentu.

Entah itu perasaan bahagia yang didapat atau emosi yang terkait dengan perjudian, secara aktif mencari perilaku itu berulang kali untuk mencapai hasil yang sama dapat memicu kecanduan. Ini disebut kkecanduan perilaku atau proses.

Kok Bisa?

Menangkal Diri

Sumber Gambar : beritapapua.id

Perilaku kompulsif yang tidak dimotivasi oleh kecanduan zat adiktif, melainkan oleh proses yang mengarah pada hasil yang tampaknya positif.

Menghasilkan uang bisa sangat membuat ketagihan bagi sebagian orang. Banyaknya uang dalam tabungan seseorang dapat menjadi satu-satunya tujuan dalam kehidupan seorang pencari kekayaan. Seperti yang dikatakan psikolog klinis Dr Tian Dayton.

Dia menyatakan  bahwa perasaan positif berlebih ketika memperoleh uang dapat memicu reaksi kimia di otak yang membuat anda merasa baik. Kemudian, ini dapat menyebabkan kekhawatiran serius tentang uang. Semua manusia di dunia ini pastinya membutuhkan uang, namun yang terpenting adalah untuk tidak menjadikan uang sebagai Tuhan.

About author

Related posts
GenK LIFE

Pentingnya 3V dalam Public Speaking Biar Sukses Bicara di Depan Umum

GenK LIFE

Waspada Mental Block Bikin Produktivitas Menurun, Kenali Ciri dan Cara Mengatasinya

GenK LIFE

Kenalan Dengan Claudia Emmanuela Santoso, Penyanyi Yang Membawakan Hymne Special Olympic 2022

GenK LIFE

Sering Dikira Sama, Kenali Perbedaan Asam Lambung dan GERD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *