GenK LIFE

Modern Capitalism ft. Hustle Culture

Modern Capitalism ft. Hustle Culture – Krisis ekonomi sepanjang pandemi telah menjalar pada krisis yang panjang dan lebih kompleks dengan proporsi substansial yang muncul diantara kelas penguasa terutama. Karenanya tidaklah mengerankan jika krisis ekonomi berimplikasi pada serangkaian krisis politik yang bahkan memancing spekulasi masyarakat atas eksploitasi kerja, penindasan, dan represi yang beranjak menjadi sebuah visibilitas konsentrasi yang merupakan reflektivitas dari sistem kapitalis. Tapi, tidak banyak dari korban atau pelaku kerja yang menyadari kondisi eksistensi sosial yang sedang dihadapi.

Namun tidak serta merta transisi perjuangan melawan kapitalis terjadi secara otomatis. Sejarah kelam mengingatkan kita bahwa kapitalisme telah masuk ke dalam segala bentuk krisis di seluruh belahan bumi dan memiliki kekuatan yang bersekutu. Ditambah lagi praktek kapitalisme lebih dekat dengan modernitas yang dianggap perlu dalam menghadapi tantangan globalisasi (seperti free trade dan individualisme).

Lalu, bagaimana representasi dari modern capitalism terhadap hustle culture?

Modern Capitalism

Sumber Gambar : sindonews.net

Sepanjang global crisis pandemi, maraknya isu eksploitasi pelaku kerja di sebuah industry, corporation, maupun business semakin memaknai eksistensi kapitalisme modern. Ini didukung dengan aktivitas kerja tanpa batas.

Bahkan hustle culture atau yang dipahami sebagai suatu gaya hidup dengan bekerja tanpa batas, dinormalisasi sebagai bentuk dari hustling demi work life balance selama pandemi.

Never stop working menjadi trend yang amat di agungkan dan istilah “productivity”. Seolah menjadi takaran atas seberapa kerasnya seseorang dalam bekerja maupun melakukan kegiatan selama pandemi.

Jika ditelaah lagi, world system yang semakin digemparkan dengan individual gain di tatanan kelas sosial. Yang mengharuskan seseorang untuk terus bekerja agar tidak tertinggal dan tertindas. Dan seolah menjadi parameter bahwa dunia hanya berpusat pada manusia ber-uang, jabatan yang tinggi, dan kelas sosial yang glamour. Tapi sistem kapitalisme memang tidak dapat dikontrol masyarakat bahkan jika kesadaran massa telah menggemparkan dunia. Ditambah lagi, tanggungan hidup yang semakin tinggi dan harga kebutuhan dasar yang semakin melonjak. Ini mengartikulasikan hustle culture sebagai suatu gaya hidup yang di glamorize oleh seluruh umat.

Namun apakah dengan hustling dapat mengubah hidup seseorang menjadi lebih berkecukupan dan kaya?

Modern Capitalism

Sumber Gambar : kaskus

Menurut data Organization for Economic Corporation and Development (OECD) bekerja terlalu lama malah mengurangi tingkat produktivitas. Karenanya, tidak serta merta hustling menjadi jalan ninja menuju kesuksesan dan bekerja keras is not always meant efficiently. Sehingga perlu diingat kembali bahwa sistem dunia adalah kapitalis dan didominasi oleh kelas penguasa. Meskipun seseorang berusaha celebrating life dengan mencoba menjalankan hidup yang keras dengan hustling tidaklah memberikan jawaban atas kesuksesan yang menjamin. Alih-alih devoting effort untuk mendapatkan kehidupan yang mewah dan menjamin, ada baiknya jika manusia menilai bahwa bekerja adalah suatu usaha untuk tetap hidup, bukan hidup untuk selalu bekerja.

About author

Related posts
GenK LIFE

Pentingnya 3V dalam Public Speaking Biar Sukses Bicara di Depan Umum

GenK LIFE

Waspada Mental Block Bikin Produktivitas Menurun, Kenali Ciri dan Cara Mengatasinya

GenK LIFE

Kenalan Dengan Claudia Emmanuela Santoso, Penyanyi Yang Membawakan Hymne Special Olympic 2022

GenK LIFE

Sering Dikira Sama, Kenali Perbedaan Asam Lambung dan GERD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *