GenK LIFE

Pola Asuh Tiger Parenting, Benar Baikkah untuk Mental Anak?

Setiap orang tua, tentu memiliki pola asuh yang berbeda-beda, semua itu tergantung dari kebiasaan ataupun nilai-nilai yang ada di dalam keluarga. Misalnya ada orang tua yang lebih mengutamakan kedekatan antar anak dan orang tua, ada yang mengutamakan kedisiplinan serta kemandirian, hingga tak jarang juga ada yang terus menerus menanamkan rasa hormat anak ke orang tua, dan lain sebagainya. Lalu pola asuh apakah yang bagus dan baik untuk perkembangan mental anak?

Pola Asuh Anak

Sebenarnya, ada 4 macam pola asuh anak yang mungkin harus kamu tahu terlebih dahulu, seperti:

Uninvolved

Dalam pola asuh ini, orang tua terbilang kirang atau nyari tidak terlibat sama sekali. Anak-anak cenderung lebih dibebaskan, sehingga akan rentan untuk berbuat semuanya sendiri. Apabila anak-anak sudah paham akan hal yang benar, tentu tidak akan masalah. Sebaliknya, jika belum mengetahui dan belajar akan mana yang benar atau salah, itu bisa lebih berbahaya.

Indulgent

Ini adalah salah satu pola asuh yang juga sangat tak disarankan untuk dilakukan. Pola asuh ini, membuat orang tua selalu mengikuti semua kemauan anak sehingga orang tua dapat dijajah oleh anak sendiri. Cara ini tentu bukanlah cara yang tepat terlebih untuk perkembangan mental anak. Jika terbiasa ditururi, anak akan tumbuh menjadi sosok yang manja, egois, tidak tahu cara berbagi hingga bersika intoleran kepada yang lain.

Ilustrasi pola asuh anak. (Sumber: shutterstock)

Authoritarian

Kebalikan dari indulgent, pola pengasuhan ini lebih kepada anak yang harus mengikuti semua perintah orang tua dan tidak boleh ada bantahan. Pola pengasuhan ini sendiri sebenarnya sangat lazim ditemui dan diterapkan di negara-negara Asia ataupun keluarga yang masih menganut feodalisme. Negara China, bahkan tercatat sebagai negara yang paling banyak menerapkan pola pengasuhan ini kepada anak-anaknya.

Authoritative

Pola pengasuhan ini mungkin merupakan pola pengasuhan yang baik. Walau orang tua masih dianggap sebagai figur yang berkuasa, namun tidak sampai seperti authoritarian. Orang tua dan anak secara demokratis akan berdiskusi dan terbuka dengan segala hal.

Apa itu tiger parenting?

Walau menggunakan istilah ‘tiger’, tiger parenting ini bukan berarti pola pengasuhannya akan seperti pola pengasuhan antara harimau bersama dengan anak harimau. Istilah ini ini pertama kali diperkenalkan oleh Amy Chua, seorang profesor hukum dari Universitas Yale, yang juga merupakan penulis buku berjudul “Battle Hymn of the Tiger Mother”.

Berdasarkan buku tersebut, “Tiger Mom” adalah gaya mengasuh anak dengan menerapkan aturan yang cukup ketat dan keras pada anak-anak. Amy menggunakan istilah ‘tiger” karena dalam buda timur sendiri, harimau dianggap sebagai lambang keberanian dan kekuatan.

Ilustrasi pola asuh. (Sumber: shutterstock)

Pola asuh ini menerapkan aturan yang cukup ketat dan keras pada anak-anak, serta mengajarkan anak-anak untuk dilatih berkerja keras dan lebih disiplin sejak dini, agar saat dewasa sudah terbiasa akan kerasnya dunia yang penuh dengan tantangan dan persaingan. Tiger parenting sering kali diterapkan dan berpusat kepada sektor pendidikan. Hal inilah yang membuat anak-anak akan memiliki jadwal belajar yang amat sangat padat baik di dalam maupun di luar sekolah.

Anak dituntut untuk mempelajari segala hal tentang keterampilan, kesenian tanpa mengesampingkan hal-hal akademis. Anak juga akan dituntut untuk mendapatkan nilai yang sempurna dari berbagai bidang tersebut. Penerapan pola asuh seperti ini, sebenarnya membuat para orang tua juga tahu jika akan ada beban dan tekanan yang dirasakan anak.

Walau demikian, mereka tetap masih berpikir tidak apa-apa dan malah memberikan dampak yang baik bagi anak-anak karena dapat membuat anak menjadi lebih kuat, tahan banting dan tidak cengeng.

Apakah tiger parenting sama dengan pola asuh otoriter?

Apabila dilihat secara sekilas, tiger parenting memang hampir terlihat sama dengan pola asuh otoriter. Menurut sebuah penelitian Asian American Journal of Psychology pada tahun 2013 silam, tiger parenting berbeda dengan pola asuh otoriter. Dalam penelitian tersebut, menjelaskan bahwa tiger parenting merupakan gaya pengasuhan yang mencampurkan antara parenting asertif yang tegas dan parenting suportif. Orang tua mempraktikkan stategi mengasuh anak dengan cara yang positif dan negatif secara bersamaan.

Sehingga orang tua dalam tiger parenting ini tidak hanya bersika otoriter dan hanya menuntut anak untuk terus menerus belajar dan dipaksa berbagai macam hal. Tapi, orang tua juga ikut serta dan ikut terlibat ke dalam hal-hal tersebut, bahkan ikut mempelajari keterlampilan bersama anak-anaknya.

Ilustrasi pola asuh. (Sumber: shutterstock)

Walau demikian, sebuah studi yang dilakukan peneliti di Queen Mary Universitry, London menemukan tiger mom bisa bikin anak-anak merasa stres dan nggak bahagia ketika di rumah. Dilansir Times, salah satu peneliti yaitu Almudena Sevilla mengungkapkan bahwa studi tersebut menemukan adanya hubungan antara apa yang dianggap sebagai praktik pengasuhan terbaik dan menjadi ibu yang lebih menyedihkan. Sehingga, timbul pula pertanyaan apakah ketidakbahagiaan ibu yang berpengaruh pada pola asuh yang diterapkan berbahaya bagi anak-anak. Misalnya ketika ibu mengalami depresi pasca melahirkan.

Psikolog anak dari Tiga Generasi, Anastasia Satriyo, mengungkapkan  pola asuh yang ideal adalah yang sensitif dan responsif. Pola asuh sensitif artinya kita sensitif sama kebutuhan anak kemudian responsif adalah kita bisa merespons dengan tepat apa yang dialami anak dan yang jadi kebutuhan anak. Namun, jika membicarakan  pola asuh yang diterapkan untuk anak, hal tersebut tentu kembali pada keputusan para orang tua. Sehingga apa yang akan dipilih nantinya, menjadi pola asuh terbaik yang didapatkan seorang anak dari orang tuanya serta membentuk mental yang baik.

About author

Related posts
GenK LIFE

Fatherless : Bagaimana Peran Ayah Mempengaruhi Pertumbuhan Anak?

GenK LIFE

4 Hal Penyebab Jerawat Punggung dan Cara Mengatasinya

GenK LIFE

Pentingnya 3V dalam Public Speaking Biar Sukses Bicara di Depan Umum

GenK LIFE

Waspada Mental Block Bikin Produktivitas Menurun, Kenali Ciri dan Cara Mengatasinya