Creativepreneur and Career

Pro dan Kontra Soal Job Hopping, Salahkah Terus Berganti Pekerjaan?

job hopping

Selama bertahun-tahun, dunia kerja mengalami perubahan secara drastis. Dahulu orang menganggap suatu pekerjaan layaknya pernikahan, di mana karyawan dan perusahaan memiliki ikatan untuk saling setia. Karyawan pun akan terus bekerja di satu tempat hingga pensiun. Namun, sekarang kondisinya sudah nggak seperti dahulu. Kini, aktivitas job hopping justru menjadi hal yang umum dilakukan oleh kebanyakan orang.

Mendefinisikan Job Hopping

job hopping

sumber: pexels.com

Secara tradisional, job hopping mungkin memiliki arti yang negatif. Namun, sekarang sudah beda lagi. Menurut Liza Sinchon, seorang executive coach, speaker dan konsultan sumber daya manusia dari San Francisco, job hopping berarti seseorang memiliki kecenderungan untuk berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain, dan itu tidak dipandang positif karena para manajer menyukai orang yang setia dan awet kerjanya.

Sementara, ekonomi sekarang sifatnya fleksibel, dan pekerja yang talented memiliki banyak peluang. Perusahaan jadi lebih terbuka untuk mempekerjakan karyawan dengan status part-time, kontrak, outsourced, dan juga para ibu yang kembali dari cuti hamil, sehingga definisi karyawan setia seperti yang dahulu kini sudah menghilang. Di samping itu, rata-rata periode seseorang bekerja sekarang adalah kurang dari 5 tahun. Ini berbeda dengan dahulu di mana seseorang bisa bekerja di satu tempat sampai 30 tahun.

Bagaimana Perekrut Kerja Menilai Job Hopping

interview dengan perekrut

sumber: pexels.com

Menurut survei dari Accountemps, 42% pekerja di Amerika Serikat merasa bahwa job hopping bisa menguntungkan karier mereka. Sementara, survei Robert Half yang dilakukan terhadap manajer HRD mengungkap bahwa menurut managers, ganti pekerjaan sebanyak 5 kali dalam sepuluh tahun bisa menjadi tanda bahaya. Jadi, meski job hopping sudah tidak dipandang negatif seperti dahulu, tetap saja sejumlah hiring manager masih tidak menyukainya.

Salah satu hal yang membuat perusahaan menilai job hopping dengan kritis adalah karyawan yang pergi dianggap sebagai bentuk investasi yang hilang. Sebab, mendapatkan seorang karyawan baru yang bisa bertahan lama itu membutuhkan waktu, upaya dan sumber-sumber tempat menemukan talent yang bisa bekerja dengan baik. Jadi, saat talent tersebut sudah ditemukan, perusahaan jelas takkan mau melepasnya.

About author

Related posts
Creativepreneur and Career

Jurusan yang Harus Kamu Ambil Kalau Ingin jadi Game Designer

Creativepreneur and Career

6 Penerbit yang Menerima Naskah Penulis Pemula dari Seluruh Indonesia

Creativepreneur and Career

4 Skill Wajib yang Harus Dikuasai untuk jadi Penyiar Radio

Creativepreneur and Career

Tips Berjualan Online Di Shopee Dan Tiktok Shop Dengan Fitur Live