GenK STORY

Seni Psikedelik: Visualisasi Imajinasi Tanpa Batas

seni-psikedelik

Ada dua gerakan seni yang dominan di Amerika tahun 1960-an, yaitu seni pop dan ekspresionisme abstrak. Sebagai seni subkultural, psikedelik bukan berupa perayaan konsumerisme dan nggak bersifat politis, melainkan sebagai  gerakan dalam usaha atau rencana menjatuhkan kekuasaan yang sah dengan menggunakan cara di luar undang-undang.

Namun, pada akhir 1960-an hingga awal 1970-an, perusahaan periklanan mulai mengenali potensi komersial dalam estetika psikedelik sehingga mereka melepaskan seni psikedelik dari sifat-sifat ideologisnya.

Pada akhirnya, seni psikedelik dikenal khalayak dengan ciri khas warna kontras, surealistik, berpola kaleidoskopik dan penggunaan teknik morphing.

Stigma Buruk Psikedelik

stigma-aliran-psikedelik

Various works by Tokio Aoyama (Sumber : tokio-aoyama.com)

Pemikiran psikedelik dipengaruhi oleh perubahan persepsi yang sebelumnya nggak pernah secara sadar dirasakan oleh seseorang seperti halusinasi, sinestesia, kesadaran terfokus, variasi pola pikir, keadaan terhipnotis, dan perubahan pikiran lainnya.

Seringkali seni psikedelik dianggap negatif,

Namun, psikedelik lebih dari sekadar pengaruh obat-obatan. Selama berabad-abad, para seniman telah bereksperimen dengan substansi yang memengaruhi pikiran untuk membebaskan proses artistik dari batasan rasional.

Sebagai contoh, romantisme yang manifestonya dibangun di atas eksplorasi imajinatif dengan sedikit bantuan absinthe atau opium. Lalu, surealisme yang berakar pada psikoanalisis. Substansi yang terkandung dalam halusinogen memberi kelonggaran pada beberapa bagian otak pengguna. Sehingga mereka berpikir dengan perspektif yang berbeda tanpa dirundung kecemasan, ketakutan, ambisi, minat dan tujuan pribadi. Hal tersebut memungkinkan para seniman berkarya murni demi tujuan seni tentang pengalaman subyektif yang mereka alami.

aliran-psikedelik

Contoh karya psikedelik (Sumber: janicalewinsky.wordpress.com)

Walaupun penggunaan halusinogen dianggap sebagai sumber inspirasi yang artistik, nggak ada penelitian membuktikan bahwa halusinogen meningkatkan kreativitas seseorang. Menurut Ken Liska dalam Drugs & the Human Body, studi mengenai lukisan, tulisan, dan musik dihasilkan seseorang di bawah pengaruh LSD menunjukkan kreativitas artistik pengguna nggak meningkat, bahkan berkurang dalam beberapa kasus.

Oleh karena itu, seni psikedelik nggak bergantung sepenuhnya pada obat-obatan. Namun, zat psikotropika berpengaruh dalam membuka persepsi yang dibatasi rasionalitas serta menghubungkan para seniman dengan banyak hal. Misal roh-roh spiritual, Pencipta, dan dorongan kreatif dari planet ini.

About author

Related posts
GenK STORY

Sosok Kusni Kasdut, Perampok Ulung yang Dijuluki “Robin Hood Indonesia”. Pernah Curi Emas di Museum Nasional!

GenK STORY

Butala 2022: Mulai dari Aku - Online Interactive Talk Show

GenK STORY

Dorno Si Kucing Ngeselin

GenK STORY

Mengenal Lebih Dekat Grace Tahir, Anak Konglomerat Mayapada Group!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *