leadersingle

Psikologi Warna: Cara Mengenal Seseorang lewat Warna Favoritnya

Dibaca Normal: 5 menit aja
psikologi warna

Psikologi warna adalah cabang ilmu psikologi yang mempelajari tentang pengaruh warna terhadap manusia. Lewat warna, kamu bisa mengetahui emosi dan bahkan karakter kepribadian yang dimiliki seseorang.

Sadarkah kamu bahwa saat ini, orang memilih warna bukan sekadar berdasarkan selera, tapi juga dari kegunaannya? Misalnya ketika seseorang sengaja menggunakan warna hitam untuk membuat tubuh terlihat lebih langsing.

UPDATES

Slider

UPDATES

Slider
psikologi warna 1

Warna (sumber: pexels.com)

Kamu perlu tahu, otak manusia dapat menginterpretasikan warna yang diterima oleh mata sehingga memunculkan persepsi tertentu. Setelah itu, persepsi tersebut diolah di dalam otak untuk diekspresikan melalui emosi.

Ini membuktikan bahwa warna bisa mempengaruhi jiwa, emosi, dan suasana hati (mood) manusia. Wah hebat banget kan! Tetapi tingkat sensitivitas tiap orang terhadap warna berbeda-beda, ada yang peka dan ada yang tidak. Kalau kamu termasuk tim yang mana? Masih belum tahu kamu tipe yang mana? Supaya kamu makin paham soal psikologi warna, simak informasi berikut ini, yuk!  

Psikologi Warna Bisa Mempengaruhi Emosi

psikologi warna 2

Ilustrasi warna bisa mempengaruhi emosi (sumber: pexels.com)

Apa warna favoritmu? Apa warna yang kurang kamu sukai? Setiap orang memiliki warna favorit dan yang kurang disukai. Ini berarti warna bisa mempengaruhi emosi kamu. Kok bisa? Karena pasti ada alasannya kenapa kamu menyukai atau kurang menyukai warna tertentu. Menurut ilmu psikologi warna, kejadian di masa lalu dapat menjadi salah satu alasan di balik warna favorit atau yang kurang disukai.

Misalnya, warna biru bisa membawamu nostalgia ke momen yang menyenangkan, makanya kamu suka warna biru. Sebaliknya, warna merah bisa membawamu nostalgia ke peristiwa yang kurang asik untuk diingat.

Sebenarnya pengalaman masa lalu yang berkaitan dengan warna akan lebih cepat merangsang emosi ketimbang pengalaman yang berhubungan dengan bentuk. Hal ini menarik perhatian para ahli. Mereka kemudian membagi sifat warna menjadi dua kategori yang saling bertolak belakang, yaitu warna panas dan warna dingin.  

Warna Panas

psikologi warna 3

Warna panas (sumber: pexels.com)

Mengapa disebut warna panas? Karena warna-warna yang masuk ke dalam kategori ini mampu memberikan efek panas melalui alam bawah sadar. Sesuai dengan pola kerja persepsi warna, di mana mata akan menangkap spectrum warna yang kemudian diolah di otak. Setelah itu, spectrum warna tersebut diinterpretasikan sebagai emosi mau pun perilaku kamu.

Semua warna yang berada di antara rentang merah dan kuning, termasuk jingga dan cokelat adalah warna panas. Warna panas tersebut mampu memberikan sensasi hangat, merangsang, dan memberikan gairah.

Makanya, warna panas ini kerap digunakan oleh beberapa perusahaan makanan. Perhatikan deh, banyak tempat makan atau restoran yang menggunakan warna merah ataupun jingga sebagai logo dan desain interiornya.

Ini karena warna merah dirasa mampu merangsang audiens untuk tergiur dan membangkitkan selera makan. Selain itu, warna merah juga lebih mudah menimbulkan emosi yang tinggi dan kuat dibanding warna lainnya.

Bukan hanya membangkitkan gairah, warna panas juga bisa memberikan efek ilusi, yaitu membuat objek seakan-akan dekat dengan mata. Makanya, apabila diterapkan dalam desain interior, warna panas dapat memberikan kesan dekat dan sempit.

Baca Juga
Mengenal Lukisan Abstrak Lebih Dalam

Quizzes

Slider

Quizzes

Slider

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terkait
Seni Rupa & Desain

Mengenal Aliran Naturalisme, Gaya Lukis Realistis yang Memanjakan Mata

Seni Rupa & Desain

Imajinasi Jadi Kenyataan dengan 3D Pen

Seni Rupa & Desain

Cantiknya Ragam Hias Flora dan Fauna, Bikin Desain Makin Artistik

Seni Rupa & Desain

6 Referensi Gaya Desain Grafis yang Menginspirasi 

Seni Rupa & Desain

Mau Bikin Desain Kemasan? Yuk Kenali Produknya Dulu!

Seni Rupa & Desain

Mengenal Apa Itu Cyberpunk: Low Life vs High Technology

      TRENDING
#CoronaVirus
Next >>