GenK LIFE

Bukan Cuma Wanita, Pria Juga Bisa Jadi Korban Body Shaming Lewat Toxic Masculinity

toxic masculinity

Apa yang pertama kali terpikir di benakmu ketika mendengar istilah “toxic masculinity”? Secara sederhana, toxic masculinity bisa diartikan sebagai keyakinan bahwa masculinity bersifat toxic, tapi bukan berarti pada dasarnya memang seperti itu.

Kalau dijabarkan dengan lebih sederhana lagi, toxic masculinity merupakan anggapan bahwa pria harus selalu menunjukkan sikap yang tangguh. Jadi, ini adalah salah kaprah tentang masculinity. Anggapannya, yang namanya pria itu harus memiliki karakteristik tertentu yang membuat mereka terlihat macho.

Kemudian, jika seorang pria tidak memenuhi standar tersebut, maka dia tidak maskulin. Atau, dengan istilah gaulnya juga bisa disebut “nggak cowok banget.” Padahal, baik wanita maupun pria itu sebenarnya sama-sama memiliki hak yang setara untuk menunjukkan sisi emosional dan hal-hal lainnya dalam dirinya.

Agar kita lebih mengenal tentang toxic masculinity, perhatikan stigma perilaku pria yang mencerminkan kondisi tersebut, seperti berikut ini:

1. Pria sangat percaya diri serta tidak boleh meminta bantuan

Toxic Masculinity pria percaya diri

sumber: pexels.com

Anggapannya, pria itu sosok yang sangat mandiri serta kuat. Seorang pria harus bisa bergantung hanya kepada dirinya sendiri. Mereka juga harus bisa melakukan apapun sendiri. Jadi, pria dianggap tidak boleh meminta bantuan orang lain dalam menyelesaikan masalah yang dihadapinya.

Hal ini menunjukkan self-reliance yang ekstrem dan harus dimiliki oleh seorang pria. Di mana, mereka harus bisa melakukan semuanya sendiri. Tidak boleh bergantung apalagi kepada wanita. Tentu saja ini toxic, karena bukankah manusia adalah makhluk sosial yang harus saling membantu dalam kondisi sulit? Dan itu tidak dipengaruhi oleh gender.

2. Tidak boleh mengekspresikan emosi yang dirasakannya

Toxic Masculinity mengekspresikan emosi

sumber: pexels.com

Kamu pasti langsung mengerutkan alis. Sebab, bukankah yang namanya manusia itu punya perasaan? Namun, toxic masculinity menganggap bahwa menunjukkan emosi itu terlarang bagi pria. Jadi, pria yang sebenar-benarnya tidak boleh menunjukkannya saat dia sedang emosional.

Baca Juga :   Pulau Hantu, Keberadaannya Hanya Ada Di Peta!

Misalnya, orang-orang yang meyakini toxic masculinity, percaya kalau pria tidak boleh memiliki emosi lain selain kemarahan atau kegarangan. Kamu pasti sering dengar juga istilah “pria itu tidak boleh cengeng” atau bahkan “cowok, kok, nangis!” Tanpa disadari, anggapan tersebut sebenarnya termasuk dalam masculinity yang toxic. Sebab, harusnya pria juga bebas mengekspresikan perasaannya.

3. Menjunjung tinggi anggapan bahwa pria adalah sosok dominan

Toxic Masculinity pria dominan

sumber: pexels.com

Anggapan ini meyakini bahwa pria merupakan sosok yang harus dominan. Terutama, dalam hubungannya dengan wanita. Pria harus bisa menjadi yang dominan, baik dari segi fisik, finansial, secara seksual dan juga intelektualnya. Toxic masculinity menekankan bahwa pria itu kodratnya menjadi pihak yang menguasai.

Harus mereka yang memimpin, punya penghasilan lebih besar, serta jadi lebih baik terutama dibandingkan dengan wanita. Pria harus lebih kuat secara fisik, dominan dalam hubungan seksual, serta memiliki intelektual lebih tinggi daripada wanita. Padahal, hal tersebut sebenarnya tidak dapat dijadikan patokan. Tak ada peraturan yang memaksa pria untuk jadi dominan.

About author

Related posts
GenK LIFE

Buat Pecinta Tanaman, Ini Dia Tanaman Pembersih Udara yang Bikin Sehat!

GenK LIFE

Jangan Asal-asalan! Ini Kriteria Jas Untuk Dipakai di Hari Pernikahan!

GenK LIFE

Tren Influencer Fatigue Meningkat, Kenapa Konsumen Mulai Bosan dengan Influencer?

GenK LIFE

Ini Dia Hal Yang Harus Diperhatikan Setelah Mulai WFO!