
Coba ngaku dengan jujur deh, kamu lebih sering berfokus pada apa yang bisa dikendalikan atau sebaliknya, nih? Well, bagi kebanyakan orang yang menjalani kehidupan di dunia nyata, hal yang ada di luar kendali justru seringkali menjadi fokus utama ketimbang apa saja yang bisa mereka kendalikan. Padahal kunci untuk bisa menjadi sosok manusia yang lebih bahagia, tangguh, berbudi luhur dan bijaksana adalah memusatkan pikiran pada apa saja yang berada dalam kendali kita, bukan sebaliknya. Tahukah kamu, kalau di kehidupan ini ternyata ada satu cabang ilmu filsafat yang secara khusus diciptakan untuk itu? Ilmu tersebut adalah stoicism.
Apa itu stoicism? Stoicism adalah filosofi tentang anti-stres. Jauh dari hal kuno dan rumit, ilmu satu ini mengajarkan bagaimana kebahagiaan seseorang bersumber pada memfokuskan diri pada apa yang ada dalam kendali mereka. Kamu bisa mendalami filosofi Yunani kuno ini dengan beberapa latihan mudah berikut ini.
1. Bedakan Apa yang Bisa Kamu Ubah dan Tidak

sumber: trainingindustry.com
Praktik paling penting dalam filosofi stoicism ini adalah membedakan apa saja yang bisa kamu ubah dan apa yang tidak. Apa yang kita miliki dan yang tidak kita miliki. Tinggi badan, bentuk tubuh, warna kulit, cuaca, jadwal penerbangan yang tiba-tiba ditunda atau tanah kelahiran. Nggak peduli seberapa keras usahamu, mustahil kamu bisa membuat seseorang menyukaimu. Alih-alih memikirkan segala yang tidak bisa kita capai, alangkah lebih baik kalau kamu lebih bersyukur atas apa saja yang sudah ada dalam genggaman.
2. Mulai Biasakan Diri Menyusun Jurnal

sumber: kallidus.com
Jika kamu ingin memulai hidup dengan prinsip stoicism ini, kamu harus mulai membiasakan diri menulis jurnal. Dalam filosofi Yunani kuno ini, seni menulis jurnal lebih dari sekedar mencatat kisah harian sederhana di buku harian, loh. Praktik harian ini merupakan filosofi yang akan mempersiapkanmu menghadapi hari-hari di masa mendatang. Berbekal jurnal ini kamu bisa bercermin pada waktu yang telah bergerak meninggalkanmu. Jurnal berisi pelajaran tentang kebijaksanaan, entah itu dari guru, teman, buku, atau pengalaman pribadi. Dengan membuat jurnal pribadi, bukan tidak mungkin kamu akan mengenali diri kamu sendiri sehingga kamu bisa lebih bahagia.
3. Persiapkan Diri Tetap Tabah Menghadapi Kemalangan

sumber: counsellorwhocares.co.uk
Ingatlah bahwa dalam hidup nggak melulu berisi hal-hal indah dan penuh warna. Ada kalanya kamu terjatuh dan terluka. Itu adalah bagian dari kehidupan. Hidup dengan prinsip stoicism ini berarti kamu harus siap dengan pandangan bahwa hidup itu nggak selalu nyaman. Ada kemalangan dan duka yang menyertainya. Berusahalah untuk mempersiapkan diri menghadapi hari-hari yang kelam kelabu dan belajarlah untuk bisa berdamai dengan emosi-emosi negatif, seperti cemas atau takut. Biasakan diri untuk tetap tegar berhadapan dengan berbagai skenario buruk.